Panen Kopi Global Terancam Kenaikan Suhu Efek Perubahan Iklim

bisnis.com
8 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Analisis terbaru dari Climate Central mengungkap bahwa perubahan iklim telah memicu kenaikan jumlah hari dengan suhu ekstrem yang mengancam panen kopi di negara-negara produsen utama. Situasi ini berisiko menurunkan volume panen dan berkontribusi terhadap kenaikan harga di tingkat konsumen.

Kopi sendiri merupakan salah satu minuman paling populer di dunia, dengan konsumsi harian menembus 2,2 miliar cangkir. Bahkan di Amerika Serikat, dua per tiga orang dewasa meminum kopi setiap hari.

Namun di balik popularitasnya, pasokan kopi justru menghadapi tekanan yang makin besar. Salah satu faktornya adalah perubahan iklim yang memicu kenaikan suhu rata-rata permukaan Bumi.

Laporan Climate Central menganalisis data suhu periode 2021–2025 dan membandingkannya dengan skenario tanpa polusi karbon menggunakan Climate Shift Index. Analisis tersebut menghitung tambahan jumlah hari per tahun ketika perubahan iklim mendorong suhu melampaui ambang batas berbahaya bagi kopi, yakni 30 derajat Celsius (°C).

Ketika suhu melampaui ambang tersebut, tanaman kopi mengalami stres panas yang dapat menurunkan hasil panen. Kondisi tersebut juga memengaruhi kualitas biji, serta meningkatkan kerentanan terhadap penyakit. Dampak gabungan ini berpotensi mengurangi pasokan dan kualitas kopi global, sekaligus memicu kenaikan harga.

Lima negara produsen kopi terbesar, yakni Brasil, Vietnam, Kolombia, Ethiopia, dan Indonesia, tercatat mengalami rata-rata tambahan 57 hari panas berbahaya per tahun akibat perubahan iklim. Kelima negara ini menyumbang sekitar 75% produksi kopi dunia. Brasil sebagai produsen terbesar bahkan mencatat rata-rata 70 hari panas tambahan per tahun yang merugikan tanaman kopi.

Baca Juga

  • Ada Pencabutan Izin yang Ditinjau, KLH Pastikan Gugatan ke Perusahaan Terkait Banjir Berlanjut
  • Investor Obligasi Bencana Gigit Jari, Potensi Imbal Hasil Diramal Tertekan pada 2026
  • Tanpa Aksi Iklim, Laba Industri Fesyen Berisiko Turun 34% pada 2030

Secara keseluruhan, 25 negara penghasil kopi yang mewakili 97% produksi global mengalami peningkatan hari panas berbahaya akibat perubahan iklim. Rata-rata tiap negara menghadapi tambahan 47 hari per tahun dengan suhu yang merusak tanaman kopi.

Dampak panen yang lebih kecil dan harga yang lebih tinggi paling dirasakan petani kecil yang mencakup sekitar 80% produsen global dan menyumbang sekitar 60% pasokan dunia. Terlepas dari kontribusi besar ini, petani kecil hanya menerima 0,36% dari total pembiayaan adaptasi iklim pada 2021. Padahal, biaya adaptasi rata-rata untuk lahan 1 hektare diperkirakan US$2,19 per hari atau lebih rendah dari harga secangkir kopi di banyak negara.

“Petani kopi di Ethiopia sudah merasakan dampak panas ekstrem. Kopi arabika Ethiopia sangat sensitif terhadap sinar matahari langsung. Tanpa naungan yang cukup, pohon kopi menghasilkan lebih sedikit biji dan menjadi lebih rentan terhadap penyakit,” ujar Dejene Dadi, General Manager Oromia Coffee Farmers Cooperatives Union (OCFCU), koperasi petani kecil yang menjadi salah satu produsen dan eksportir kopi terbesar di Ethiopia, dikutip dari siaran pers, Rabu (18/2/2026).

Menurutnya, untuk menjaga pasokan kopi, pemerintah perlu mengambil langkah nyata dalam penanganan perubahan iklim serta berinvestasi pada petani kecil dan organisasi mereka agar mampu meningkatkan solusi adaptasi.

“Sebagai contoh, koperasi kami mendistribusikan kompor hemat energi yang mengurangi kebutuhan kayu bakar dan melindungi kawasan hutan yang menjadi pelindung alami bagi budidaya kopi,” tambahnya.

Akshay Dashrath, Co-Founder sekaligus petani di South India Coffee Company, menyatakan perubahan iklim menjadi realitas yang terukur setiap hari di kebunnya. “Sensor di lapangan menunjukkan periode panas yang lebih panjang, malam yang lebih hangat, dan hilangnya kelembapan tanah lebih cepat.”

Wakil Presiden Bidang Sains Climate Central, Dr. Kristina Dahl, menegaskan bahwa perubahan iklim kini mengancam sektor kopi secara langsung.

“Hampir semua negara produsen utama kini mengalami lebih banyak hari panas ekstrem yang dapat merusak tanaman, menurunkan hasil, dan memengaruhi kualitas. Dampaknya pada akhirnya bisa menjalar dari kebun ke konsumen, hingga memengaruhi kualitas dan harga secangkir kopi harian,” katanya.

Ia menambahkan bahwa dampak perubahan iklim tidak hanya terbatas pada kopi. Dia berpandangan perubahan iklim juga menghantam komoditas lain dan para petani di berbagai belahan dunia. Kondisi ini memicu efek berantai terhadap harga pangan dan mata pencaharian.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemulihan Sumatera, DPR Setujui Dana Tanggap Darurat Diambil dari Pos Lain
• 4 jam lalukompas.com
thumb
Badan Ideal Setelah Sebulan Berpuasa, Lakukan Satu Hal Ini: Tips dari dr Zaidul Akbar
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
LMKN distribusi Rp6,58 miliar royalti kepada produser fonogram
• 5 jam laluantaranews.com
thumb
Resmi! Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada Kamis 19 Februari Usai Sidang Isbat
• 22 jam lalukompas.tv
thumb
Hasil Drawing German Open 2026: Lanny/Apri dan Tiwi/Fadia Hadapi Lawan Mudah
• 8 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.