Tahun 2026: Saat Beras Lebih Mahal dari Mutiara dan Asia Timur Tenggelam dalam Kematian

erabaru.net
3 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Di penghujung tahun 2025, ketika banyak orang masih menganggap dunia hanya sedang melewati “fase tegang biasa”—krisis geopolitik, ekonomi yang naik-turun, rumor perang, dan ketakutan pasca pandemi—sebuah rangkaian cerita gelap muncul dari berbagai arah, menyatu seperti kepingan puzzle yang mengerikan.

Semua bermula dari sebuah ramalan yang terdengar seperti syair, namun menyisakan rasa dingin di dada: tentang 2026, kuda merah, darah, api, kelaparan, dan tulang-belulang.

Dan anehnya… ramalan itu tidak berhenti sebagai “teori internet”. Dia bergerak cepat, melewati batas negara, menembus pembatas informasi, dan memicu reaksi yang tidak wajar: orang-orang mulai menghubungkan ramalan itu dengan peristiwa nyata yang terjadi pada akhir 2025, terutama kemunculan drone misterius yang menyemprotkan cairan di wilayah permukiman.

Di titik inilah narasinya berubah. Ini bukan lagi sekadar cerita peramal. Ini menjadi cerita tentang ketakutan manusia: apakah kita sedang diperingatkan… atau sedang disiapkan untuk sesuatu?

Kalimat yang Menggetarkan: “Beras Semahal Mutiara, Dongyang Penuh Tulang”

Sosok yang memicu badai rumor itu disebut netizen sebagai “penjual pisau kredit”—julukan yang muncul karena penampilannya yang dianggap aneh dan gaya bicaranya seperti orang yang datang membawa “pesan”, bukan datang untuk berdagang.

Saat media mencoba mendekatinya, dia tidak memberi wawancara panjang. Dia justru menghindar. Namun sebelum pergi, dia meninggalkan syair yang kemudian menjadi pusat pembahasan:

“Tahun dua enam, kuda merah—darah dan api menyembur. Senja menggelap, tak ada matahari di langit. Beras di Nanyang semahal mutiara. Di Dongyang, di mana-mana penuh tulang-belulang.”

Kalimat ini menyebar cepat. Dalam hitungan waktu, dia melompat dari forum kecil ke platform besar, dari komentar netizen ke video-video analisis, dari “di luar tembok” sampai akhirnya “masuk ke dalam tembok”.

Dan ketika sudah masuk, dia tidak bisa lagi dihentikan.

Penafsiran Sistematik: Empat Kalimat, Empat Bencana

Agar tidak mengawang-awang, para penafsir memecah syair itu menjadi empat bagian. Dari sinilah pola “ramalan 2026” terbentuk.

(1) “Tahun dua enam, kuda merah—darah dan api menyembur.”

Dua kata pembuka “dua enam” dianggap terlalu jelas: 2026.

Lalu “kuda merah” ditafsirkan sebagai simbol klasik bencana. Merah adalah warna darah, api, peperangan, dan rezim tertentu.

Tiga kata berikutnya—“darah dan api menyembur”—menjadi pusat perdebatan:

Di tahap ini, ramalan sudah cukup membuat orang gelisah, namun belum sampai membuat orang merinding.

Yang membuat merinding justru kalimat berikutnya.

(2) “Senja menggelap, tak ada matahari di langit.”

“Senja” dipahami sebagai simbol Barat.

Maknanya: saat Timur memanas, Barat memasuki kegelapan—bukan hanya gelap fisik, tetapi gelap sistem: ekonomi goyah, sosial kacau, kepercayaan publik runtuh.

Ini bukan lagi narasi perang. Ini narasi runtuhnya tatanan.

(3) “Beras di Nanyang semahal mutiara.”

“Nanyang” biasanya merujuk kawasan Asia Tenggara.

Kalimat ini dianggap merujuk pada krisis pangan, bukan sekadar inflasi biasa:

Jika ini benar, maka masyarakat di Asia Tenggara menghadapi tekanan dari dua sisi: ekonomi dan kelangkaan.

Namun semua itu masih terasa “mungkin”.

Kalimat keempat terasa seperti “palu terakhir”.

(4) “Di Dongyang, di mana-mana penuh tulang-belulang.”

“Dongyang” merujuk Asia Timur: Tiongkok, Taiwan, Jepang, Korea.

Dan frasa “penuh tulang-belulang” adalah gambaran mengerikan tentang kematian massal.

Bukan kematian biasa.

Melainkan kematian yang jumlahnya sampai:

Ini mengingatkan orang pada nubuat kuno yang pernah menyebut kalimat seperti:

Lalu pertanyaannya muncul, dan pertanyaan ini seperti pintu menuju kegelapan:

Apa penyebabnya? Perang? Wabah? Atau sesuatu yang tidak masuk akal?

Pleyer: “Ini Wabah.” Dan Pesannya Datang dari Dewa Kematian

Di tengah perdebatan, muncul peramal Thailand bernama Pleyer.

Dia tidak menyebut dirinya peramal. 

Dia berkata: “Saya hanya menyampaikan pesan yang diminta untuk saya sampaikan.”

Dan kali ini, dia mengaku pesannya datang dari sosok yang disebutnya: Dewa Kematian.

Menurut Pleyer, 2026 tampak seperti: seekor kuda yang menerjang masuk ke dalam api, berjuang mati-matian, lalu keluar—namun terluka parah.

Maknanya: 2026 bukan satu bencana. Melainkan rangkaian bencana bertumpuk.

Dia menyebut urutan ancaman:

  1. api/ledakan besar
  2. air/banjir dan cuaca ekstrem
  3. gempa — bahkan banyak yang “buatan manusia”
  4. dan puncaknya: virus buatan manusia

(1) Api: Ledakan dan Benturan Dua Negara Besar

Pleyer melihat ledakan besar dan suara dentuman keras: “boom boom”.

Dia tidak mau menyebut negara, hanya bilang:

Ini membuat orang menafsirkannya sebagai perang besar atau serangan besar yang memicu efek domino.

(2) Air: “Hujan seperti langit bocor”

Dia melihat hujan yang tidak berhenti, wilayah yang biasanya aman dari badai tiba-tiba diterjang topan.

Dia menyarankan pada paruh pertama 2026 untuk menghindari perjalanan, terutama ke negara-negara berawalan HJT.

Netizen menafsirkan:  Hawaii, Jepang, Taiwan.

Kebetulan? Tiga-tiganya berada di kawasan Cincin Api Pasifik.

Lalu muncul kaitan berikutnya: gempa.

(3) Gempa: Bukan Hanya Alam, Tapi “Eksperimen Dasar Laut”

Ini bagian yang membuat narasi menjadi lebih gelap.

Pleyer mengatakan:

Dia menyebut adanya negara yang melakukan eksperimen atau uji coba senjata rahasia di dasar laut, memilih area dengan retakan bawah tanah, lalu memicu reaksi berantai.

Dan dia menegaskan: banyak bencana “tahun ini dan tahun depan” punya faktor manusia.

Namun itu bukan yang paling buruk.

Bab 4 — Puncak Ketakutan: Virus Laboratorium yang Dicampur “Virus Kuno”

Pleyer berkata: yang terburuk adalah virus.

Bukan virus alami.

Melainkan:

Dia mengaku menerima dua kata dari “Dewa Kematian”:

Tuberkulosis dan Wabah Hitam.

Wabah Hitam sendiri tercatat mulai menyebar sekitar 1347, melanda Asia, Eropa, Afrika, dan dalam beberapa tahun membunuh puluhan hingga ratusan juta orang.

Jika virus modern benar-benar dicampur dengan “karakter virus lama” semacam itu, maka yang terjadi bukan pandemi biasa.

Melainkan bencana sejarah.

Yang lebih mengganggu: Pleyer menyebut ini bukan kebocoran lab tidak sengaja, tapi senjata biologi yang sengaja disebarkan.

Dan menurut narasi itu, 2026 baru awal, sampai 2030 dampaknya bisa makin mengerikan.

Vinita dan Parker: “Lebih Dahsyat dari COVID”

Cerita ini tidak berhenti di Pleyer.

Penafsir Nadi India bernama Vinita—dalam program peramal Inggris bernama Parker—juga menyebut:

Parker menambahkan: virus ini akan lebih dahsyat daripada COVID.

Jika demikian, kalimat “tulang-belulang berserakan” menjadi lebih “masuk” dalam narasi mereka.

Fakta yang Membuat Orang Merinding: Drone Tengah Malam (Akhir Nov–Awal Des 2025)

Lalu muncul bagian yang membuat orang menelan ludah:

Pada akhir November hingga awal Desember 2025, banyak wilayah Tiongkok daratan melaporkan:

Jika ini disinfeksi, mengapa tidak ada pemberitahuan resmi?

Biasanya pemerintah akan memberi instruksi:

Tapi kali itu: tidak ada.

Pertanyaan netizen meledak.

Dan yang membuat makin gelap: pihak resmi diam.

Di titik ini, rumor “uji coba senjata biologi pada warga sipil” mulai mengeras.

Xu Yu dan “Rafael”: 11 Desember 2025

Di tengah kekacauan opini, sebuah video disebarkan: medium Taiwan Xu Yu dari kanal “Galaksi Andromeda”.

Dia mengaku berkomunikasi dengan Malaikat Agung Rafael.

Pada 11 Desember 2025, dia menanyakan tentang drone-drone itu.

Jawaban yang dia sampaikan: “Ya. Dugaan kalian benar. Ini serangan biologi mengerikan.”

Dia menyebut cairan itu mengandung virus buatan, dimodifikasi agar lebih patogen dan menular.

Alasannya—menurut narasi itu—adalah kontrol: membuat rakyat sibuk bertahan hidup sehingga tak sempat berpikir, tak sempat sadar, dan mudah dikendalikan.

Namun Rafael juga memberi “kabar baik”: bencana besar bukan berarti tak bisa dihadapi.

1 Desember 2024: “Cara Bertahan adalah Kebaikan Sejati”

Xu Yu mengatakan bahwa dalam komunikasi spiritual pada 1 Desember 2024, Rafael sudah memperingatkan:

Namun ia menekankan cara perlindungan: kebaikan sejati dari hati.

Bukan pencitraan. Bukan ritual semata.

Narasi ini menggambarkan kebaikan sebagai “frekuensi” yang membentuk medan energi seperti perisai.

Orang yang “frekuensinya tinggi” tidak mudah terinfeksi, sementara yang rendah rentan.

Wabah tidak merata, katanya, hanya menghantam wilayah dengan energi kolektif rendah.

Perang Besar Lima Negara dan “Perang Fondasi” Amerika

Pleyer menyebut perang besar.

Vinita menyebut perang lima negara: Tiongkok, Amerika, Rusia, ditambah India dan Eropa.

Peramal Amerika Amanda Grace menyebut 2026 sebagai “perang fondasi” untuk Amerika.

Fondasi yang ia maksud adalah spiritual, terlihat dari slogan dolar: “In God We Trust.”

Grace menyebut dua krisis:

  1. kompromi prinsip demi kekuasaan
  2. infiltrasi ideologi yang merusak akar nilai

Dan dia menyebut tanda peringatan muncul berulang lewat pola angka 911 sepanjang 2025–2026.

Kisah Anak 7 Tahun: “Ini Kesempatan Terakhirmu Memilih Terang”

Menjelang akhir 2025, viral kisah seorang anak 7 tahun yang mati suri selama empat menit, lalu hidup kembali. Dia mengaku bertemu Yesus dan melihat “perang terang melawan gelap”, serta lima hari terakhir sebelum pemisahan besar.

Pesannya bukan ancaman, melainkan ajakan yang menyentuh: “Aku tidak tahu kamu percaya atau tidak. Tapi kalau semua ini benar, apakah kamu siap? Kamu harus memilih. Ini mungkin kesempatan terakhirmu.”

Penutup — Di Ujung Semua Ramalan, Ada Satu Kata: Pilihan

Kamu boleh percaya, boleh tidak.

Namun narasi ini menyatukan satu hal yang sama dari awal sampai akhir: 2026 digambarkan sebagai tahun ujian—bukan hanya ujian dunia, tapi ujian hati manusia.

Di tengah perang, wabah, kelaparan, dan ketakutan, pada akhirnya yang diuji bukan hanya negara.

Yang diuji adalah manusia.

Dan di atas semua itu, ada pesan yang terus diulang:

Masa depan mungkin bukan sekadar “di tangan kita”.
Masa depan adalah hasil dari satu hal: pilihan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Galatasaray akan abadi kenang kemenangan besar atas Juventus
• 10 jam laluantaranews.com
thumb
Bocoran Peningkatan Kamera Selfie Galaxy S26 Ultra
• 20 jam lalumedcom.id
thumb
Danantara Rampungkan 1.398 Huntara Usai Bencana Sumatera, Huntap Mulai Dibangun
• 51 menit lalukumparan.com
thumb
Italia Hibahkan Kapal Induk Giuseppe Garibaldi ke Indonesia, Ini Skemanya
• 1 jam laluliputan6.com
thumb
Akun Sosial Media Diduga Milik Pelaku Pembunuhan Pelajar SMP di Kampung Gajah Bandung Jadi Sorotan, Sering Repost dan Komentari Kutipan Galau
• 8 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.