Menteri Agama Nasaruddin Umar memaparkan dampak bencana banjir dan longsor di Sumatera terhadap satuan pendidikan keagamaan dan rumah ibadah. Ia mengajukan kebutuhan anggaran pemulihan sebesar Rp 702,90 miliar.
Hal itu disampaikan dalam rapat koordinasi dengan pimpinan DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (18/2).
122 Madrasah dan 290 Pesantren Belum BeroperasiNasaruddin menyebut, di tiga provinsi terdampak terdapat 773 madrasah yang terkena dampak bencana. Dari jumlah tersebut, 651 unit atau 84 persen telah kembali beroperasi, sementara 122 unit belum operasional.
“Total terdampak di tiga provinsi ini madrasah sebanyak 773, yang sudah beroperasi 651 atau 84%. Yang belum operasional 122 dan dana untuk itu 228 miliar,” jelasnya.
Untuk pondok pesantren, jumlah terdampak mencapai 1.173 unit. Sebanyak 883 unit atau 75 persen telah beroperasi kembali, sedangkan 290 unit masih belum operasional.
“Kemudian untuk pondok pesantren jumlah yang terdampak 1.173 unit, yang sudah beroperasi 883 atau 75%, yang belum operasional 290 dan dana yang diperlukan untuk itu Rp 144,64 miliar,” ungkap Nasaruddin.
1.593 Rumah Ibadah TerdampakSementara rumah ibadah yang terdampak berjumlah 1.593 unit. Sebanyak 1.553 unit atau 97 persen sudah kembali digunakan, sedangkan 35 unit masih membutuhkan perbaikan.
“Sedangkan rumah ibadah yang terdampak 1.593, yang sudah operasional 1.553 atau 97%. Jadi tinggal 35 unit dan dana yang dibutuhkan adalah Rp 117 miliar,” katanya.
Ajukan Rp 702,9 M ke MensesnegSecara keseluruhan, Kementerian Agama mengusulkan anggaran pemulihan sebesar Rp 702,90 miliar kepada Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi. Namun hingga kini belum memperoleh persetujuan.
“Total usulan penggunaan yang kami usulkan ke Pak Mensesneg itu Rp 702,90 miliar. Tapi belum dapat persetujuan Mensesneg. Kami mohon pada kesempatan ini, itu betul-betul kita perlukan,” ujarnya.
Sambil menunggu pencairan anggaran, Kementerian Agama mengambil langkah darurat agar aktivitas pendidikan dan ibadah tetap berjalan.
“Cara kami mengatasi hal-hal seperti masjid ini kami lakukan misalnya untuk pondok pesantren ini kami titipkan sebagian santri kepada pesantren yang terdampak. Sama juga dengan madrasah,” kata Nasaruddin.
Untuk rumah ibadah, dibangun fasilitas darurat sembari melakukan perbaikan permanen.
“Masjid berusaha kami membangun musala-musala darurat sambil memperbaiki musala dan masjid,” ungkapnya.
Selain mengandalkan APBN, Kementerian Agama juga memanfaatkan dukungan masyarakat melalui BAZNAS dan lembaga umat lainnya guna mempercepat pemulihan.





