Indonesia Siapkan Kredit Keanekaragaman Hayati, Instrumen Baru Pembiayaan Konservasi

republika.co.id
14 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah Indonesia menyiapkan kebijakan dan implementasi High Integrity Biodiversity Credits atau kredit keanekaragaman hayati berintegritas tinggi untuk memperkuat kerangka pembiayaan keanekaragaman hayati nasional. Instrumen ini diharapkan menjadi mekanisme pendanaan berbasis hasil yang melibatkan sektor publik dan swasta.

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Hanif Faisol Nurofiq mengatakan, perlindungan keanekaragaman hayati menjadi prioritas nasional yang tidak dapat ditunda. “Perlindungan keanekaragaman hayati adalah urgensi nasional yang tidak dapat ditunda. Indonesia, sebagai negara mega-biodiversitas terbesar kedua di dunia, memiliki tanggung jawab global untuk memastikan keberlanjutan sumber daya alamnya,” kata Hanif Faisol Nurofiq.

Baca Juga
  • Satu Papua, Enam Provinsi: Menyatukan Visi untuk Pembangunan dan Konservasi
  • DKP Maluku dan Blue Alliance Jalin Kerja Sama Kelola Kawasan Konservasi
  • Lindungi Pesut Mahakam, KLH Tambah Dua Desa Konservasi

Hanif mengatakan, komitmen tersebut disampaikan dalam forum Biodiversity Financing: Pathways through Biodiversity Valuation and Multilateral Benefit Sharing yang melibatkan pemerintah Inggris, lembaga keuangan, akademisi, dan mitra pembangunan. Forum ini menjadi bagian kerja sama strategis Indonesia dan Inggris di bidang lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati.

Hanif mengatakan, kredit keanekaragaman hayati dirancang sebagai mekanisme berbasis hasil yang transparan dan akuntabel untuk mendukung konservasi, restorasi ekosistem, serta perlindungan spesies dan habitat prioritas. Instrumen ini dibangun dengan prinsip kredibilitas ilmiah, tata kelola transparan, inklusivitas sosial, serta sistem Measurement, Reporting, and Verification (MRV) yang kuat.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Selain itu, pemerintah juga memperkuat instrumen pembiayaan lain seperti Access and Benefit Sharing (ABS) untuk memastikan pembagian manfaat sumber daya genetik berjalan adil sesuai Konvensi Keanekaragaman Hayati dan Protokol Nagoya.

Sebagai tindak lanjut, Indonesia menyatakan kesiapan menjadi tuan rumah pertemuan International Advisory Panel on Biodiversity Credits (IAPB) dan pembentukan Indonesia Biodiversity Credits Chapter pada Juni 2026. Langkah ini bertujuan memperkuat kolaborasi internasional dalam pembiayaan konservasi berbasis keanekaragaman hayati.

Pemerintah menilai kebijakan ini penting untuk mengintegrasikan perlindungan keanekaragaman hayati ke dalam kebijakan pembangunan dan sistem ekonomi nasional.

 

 

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
sumber : Antara
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Baleg DPR Setujui Harmonisasi RUU Pengelolaan Keuangan Haji
• 7 jam laludetik.com
thumb
Haruskah Awal Ramadan Selalu Berbeda?
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Sambut Tahun Baru Imlek 2026, Paramount Gading Serpong Hadirkan Acara dan Dekorasi Tematik
• 14 jam lalugrid.id
thumb
Meksiko Tolak Keanggotaan Penuh Dewan Perdamaian Gaza yang Digagas Trump
• 10 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Peti Jenazah Hanyut di Sungai, Warga Kolang Dilanda Ngeri Pascarlongsor
• 2 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.