Pemerintah federal India kini tengah membuka diskusi dengan perusahaan media sosial (medsos) terkait rencana pembatasan usia pengguna. Langkah ini diambil di tengah momentum global yang menekan akses layanan digital.
Menteri Elektronik dan Teknologi Informasi India, Ashwini Vaishnaw, menyatakan pemerintah sedang melakukan pembicaraan untuk mencari "jalan yang tepat" terkait potensi batas usia ini. Diskusi tersebut juga mencakup masalah deepfakes dengan platform media sosial.
"Saat ini kami sedang dalam percakapan mengenai batasan usia dengan berbagai platform media sosial, bagaimana cara yang tepat untuk melakukan hal ini," ujar Vaishnaw dalam sebuah konferensi pers di sela-sela India AI Impact Summit di New Delhi, Selasa (17/2), mengutip AFP.
Komentar Vaishnaw ini menandai langkah awal pemerintah federal India dalam menanggapi isu akses media sosial, yang sebelumnya sempat disinggung dalam survei ekonomi tahunan negara tersebut.
Bagi raksasa teknologi, India adalah pasar yang sangat krusial. Menurut data DataReportal:
Instagram dan Facebook (Meta): Masing-masing memiliki lebih dari 400 juta pengguna di India, jumlah terbesar dibandingkan negara mana pun.
Snapchat (Snap Inc.): Memiliki lebih dari 200 juta pengguna, menjadikan India pasar terbesarnya.
X (Elon Musk): Memiliki lebih dari 20 juta pengguna.
"Hal ini kini telah diterima oleh banyak negara—bahwa regulasi berbasis usia itu harus ada," kata Vaishnaw mengutip Bloomberg.
Setiap langkah untuk membatasi akses bagi ratusan juta anak muda di India akan menjadi pukulan telak bagi perusahaan-perusahaan tersebut.
Selain basis pengguna, India juga merupakan sumber data penting untuk pemodelan AI.
Pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi memang tengah memperketat pengawasan terhadap konten online dan deepfakes, sembari berusaha menarik investasi teknologi.
Vaishnaw menyebutkan India mengharapkan investasi lebih dari USD 200 miliar di sektor AI selama dua tahun ke depan. Namun, di saat yang sama, pemerintah juga memperketat aturan yang membebankan identifikasi dan penegakan konten pada perusahaan teknologi.
Langkah India ini muncul setelah Australia menjadi negara pertama yang menerapkan larangan hukum bagi pengguna di bawah 16 tahun, yang mencakup platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube.





