REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kritik Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa soal praktik bank syariah yang dinilai masih mahal memantik respons Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS). Lembaga ini menilai persoalan tersebut memang menjadi pekerjaan rumah industri.
Direktur Infrastruktur Ekosistem Syariah KNEKS, Sutan Emir Hidayat mengatakan, persepsi pembiayaan syariah lebih mahal terus dibenahi. Industri, menurut dia, kini fokus pada efisiensi, digitalisasi, serta inovasi produk agar makin kompetitif.
Baca Juga
Bank Muamalat Luncurkan Investasi Reksa Dana Syariah yang Bisa Bantu Umroh Dhuafa
Kritik Menkeu Purbaya soal Perbankan Syariah Dinilai Jadi Kritikan Tersendiri ke Pemerintah
Purbaya: Jerman Lebih Syariah dari Kita dalam Praktik Perbankan
“Persepsi bank syariah lebih mahal sedang terus dibenahi. Industri sekarang fokus ke efisiensi, digitalisasi dan inovasi produk supaya lebih kompetitif. Dengan skala yang makin besar dan model bisnis yang makin matang, pricing ke depan akan makin bersaing,” ujar Emir kepada Republika, Rabu (18/2/2026).
Kritik soal mahal bukan hal baru. Di lapangan, pelaku UMKM masih membandingkan margin pembiayaan syariah dengan bunga kredit konvensional. Selisih tipis saja bisa berdampak pada arus kas usaha kecil.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
KNEKS menilai struktur industri yang belum sebesar perbankan konvensional ikut memengaruhi biaya dana. Skala yang terbatas membuat ruang efisiensi belum optimal. Karena itu, pembesaran aset dan pendalaman pasar menjadi agenda penting.