EtIndonesia. Pada awal Februari 2026, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu kembali menegaskan bahwa pembelian minyak Iran oleh Tiongkok bukan sekadar transaksi ekonomi biasa, melainkan persoalan keamanan strategis.
Dalam pernyataannya kepada media pada 13 Februari 2026, Netanyahu menyebut bahwa arus pendapatan dari ekspor minyak Iran—yang sebagian besar mengalir ke pasar Tiongkok—telah membantu menopang:
- Pengembangan program rudal balistik jarak jauh Iran
- Pendanaan kelompok milisi proksi di Timur Tengah
- Kelanjutan ambisi nuklir Teheran
Israel selama bertahun-tahun menuduh bahwa pencabutan atau pelonggaran sanksi secara de facto terhadap ekspor minyak Iran telah memperkuat posisi militer negara tersebut. Data lembaga pelacakan tanker internasional sepanjang 2025 menunjukkan ekspor minyak Iran berkisar 1–1,5 juta barel per hari, dengan mayoritas pengiriman menuju pelabuhan Tiongkok.
Menurut analis keamanan regional, pendapatan tersebut memberi ruang fiskal bagi Teheran untuk mempertahankan jaringan proksinya di Lebanon, Suriah, Irak, dan Yaman.
Israel Tingkatkan F-35 untuk Skenario Jarak Jauh
Dalam konteks ancaman yang dipersepsikan meningkat, Kementerian Pertahanan Israel pada pertengahan Februari 2026 mengumumkan peningkatan kemampuan armada F-35 “Adir” miliknya.
Peningkatan tersebut mencakup:
- Tangki bahan bakar eksternal berdesain siluman, dirancang untuk meminimalkan jejak radar
- Optimalisasi sistem avionik untuk misi jarak jauh
- Integrasi amunisi presisi generasi terbaru
Langkah ini secara teknis memperluas jangkauan operasional F-35 Israel hingga mampu menjangkau target di wilayah Iran tanpa harus sangat bergantung pada pengisian bahan bakar udara.
Analis militer menilai modifikasi tersebut merupakan sinyal bahwa Israel ingin menjaga opsi serangan preventif tetap terbuka, terutama terhadap fasilitas nuklir yang tersebar dan diperkuat di berbagai wilayah Iran.
Pergerakan Kapal Induk AS di Sekitar Iran
Sementara itu, dinamika di laut turut memperkuat ketegangan.
Menurut analisis citra satelit yang dipublikasikan oleh BBC pada 16 Februari 2026, kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln terdeteksi bergerak mendekati kawasan perairan sekitar Teluk Oman, jalur strategis yang berdekatan dengan Iran.
Beberapa hari setelah itu, laporan pelacakan militer menyebutkan bahwa USS Gerald R. Ford juga bergerak menuju kawasan yang sama.
Kehadiran dua kapal induk AS dalam radius operasional Timur Tengah biasanya diartikan sebagai:
- Peningkatan tingkat kesiapsiagaan
- Sinyal deterensi terhadap Iran
- Opsi respons cepat jika terjadi eskalasi
Setiap kelompok tempur kapal induk membawa puluhan pesawat tempur, sistem pertahanan udara, kapal perusak berpeluru kendali, serta kapal penjelajah dengan kemampuan rudal jarak jauh.
Dimensi Strategis: Tekanan Multi-Arah
Ketegangan yang berkembang ini muncul di tengah:
- Negosiasi nuklir yang belum mencapai terobosan signifikan
- Aktivitas militer Iran di Selat Hormuz
- Peningkatan latihan militer regional
Bagi Israel, aliran dana dari ekspor minyak Iran ke Tiongkok dipandang sebagai “oksigen finansial” bagi program militer Teheran. Bagi Amerika Serikat, pengerahan kapal induk berfungsi sebagai pesan bahwa jalur militer tetap tersedia jika diplomasi gagal.
Sementara itu, Iran secara konsisten membantah bahwa program nuklirnya bertujuan militer, dan menyebut langkah Israel sebagai provokasi.
Kesimpulan
Dalam hitungan hari, tiga sinyal besar muncul secara bersamaan:
- Retorika keras Israel soal pendanaan Iran
- Modernisasi F-35 Israel untuk misi jarak jauh
- Konsentrasi kekuatan laut AS di sekitar Iran
Kombinasi faktor tersebut menciptakan atmosfer regional yang sangat sensitif.
Meski belum ada indikasi operasi militer langsung, pola pergerakan ini memperlihatkan bahwa kawasan Timur Tengah kembali memasuki fase kewaspadaan tinggi.
Jika diplomasi gagal menahan laju ketegangan, konfigurasi militer yang kini terbentuk dapat dengan cepat berubah menjadi krisis terbuka.





