Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan penurunan utang luar negeri (ULN) swasta menjadi yang terendah dalam empat tahun masih mencerminkan dinamika aktivitas ekonomi. Menurutnya, posisi ULN swasta diyakini akan kembali meningkat seiring membaiknya kegiatan ekonomi pada triwulan I hingga IV 2026.
ULN swasta tercatat USD 192,8 miliar pada kuartal IV 2025, menurun dibandingkan dengan posisi kuartal III 2025 senilai USD 194,5 miliar.
“Saya yakin triwulan 1, 2, 3, 4 (2026 ULN swasta) mulai naik lagi. Sesuai dengan aktivitas ekonomi. Tapi, kan, ke depan akan jadi bagus lagi,” kata Purbaya saat ditemui usai Rapat Koordinasi Satgas Pemulihan Pasca Bencana Sumatera di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (18/2).
Ia juga menilai, pelaku usaha kemungkinan melihat peluang pendanaan domestik yang lebih besar, terutama dari sektor perbankan.
“Dan mungkin mereka juga melihat dalam negeri, lebih banyak funding dari perbankan juga karena kita melakukan sistem ekonomi,” ucap Purbaya.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan perkembangan ULN swasta dipengaruhi oleh penurunan ULN perusahaan bukan lembaga keuangan atau nonfinancial corporations.
Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari sektor industri pengolahan; jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian, dengan pangsa mencapai 79,9 persen terhadap total ULN swasta. ULN swasta tercatat tetap didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,3 persen terhadap total ULN swasta.
Posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada kuartal/triwulan IV 2025 tercatat lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya. Bank Indonesia mencatat total ULN Indonesia berada di level USD 431,7 miliar, naik dari posisi kuartal III 2025 senilai USD 427,6 miliar.
“Perkembangan posisi ULN triwulan IV 2025 terutama dipengaruhi oleh ULN sektor publik,” kata Ramdan dalam keterangan resminya.
Kenaikan ULN juga terjadi pada kelompok pemerintah. Posisi ULN pemerintah pada kuartal IV 2025 tercatat USD 214,3 miliar, lebih tinggi dibandingkan posisi kuartal III 2025 senilai USD 210,1 miliar.





