Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) tak lagi sekadar istilah teknis di ruang laboratorium. Ia kini hadir di genggaman, menyatu dalam cara orang berkomunikasi, bekerja, hingga menyelesaikan persoalan sehari-hari. Ekspektasi pun berubah, teknologi tak cukup hanya canggih, tetapi harus konsisten, responsif, dan terasa alami dalam keseharian.
President Samsung Electronics Indonesia, Harry Lee, menilai ke depan akan menjadi bagian dari lingkungan yang menopang kehidupan sehari-hari. Perannya mungkin tidak selalu terlihat, tetapi terasa melalui pengalaman digital yang lebih sederhana dan relevan bagi berbagai latar belakang pengguna.
“Di Samsung, kami memandang AI sebagai pendamping yang bekerja secara alami untuk membantu manusia. Teknologi diharapkan bekerja konsisten, responsif, dan menyatu dengan keseharian, sehingga dukungannya terasa tanpa perlu banyak perhatian,” ujar Harry.
Di Indonesia, Samsung berupaya menyelaraskan pengembangan AI dengan kebutuhan masyarakat yang beragam. Harry menegaskan, setiap terobosan teknologi harus memiliki tujuan yang jelas agar kehidupan menjadi lebih baik, kaya, dan bermanfaat.
“Pendekatan inilah yang kami pegang dalam menghadirkan teknologi yang dapat digunakan secara luas dan berkelanjutan,” katanya.
Filosofi tersebut, lanjut Harry, paling nyata tercermin dalam program Samsung Solve for Tomorrow (SFT). Program ini membuka ruang bagi anak muda Indonesia untuk mengembangkan ide yang berangkat dari pengalaman nyata di sekitar mereka, sekaligus membangun keterampilan digital dan pemanfaatan AI.
SFT bukan sekadar kompetisi, tapi dirancang sebagai proses belajar yang mendorong eksplorasi, kolaborasi, dan pematangan ide hingga siap memberi dampak sosial.
"AI yang bermakna lahir dari empati dan relevansi. Melalui Samsung Solve for Tomorrow, inovasi lokal anak muda Indonsia kami dorong untuk berdampak global," paparnya.
Salah satu hasilnya adalah RunSight, kacamata pintar berbasis AI yang dikembangkan Tim Labmino dari Universitas Indonesia, pemenang Samsung Solve for Tomorrow Indonesia 2025. Berangkat dari empati terhadap pelari dengan gangguan penglihatan, RunSight dirancang memberikan panduan suara real-time agar pengguna dapat berlari dengan lebih aman dan percaya diri.
Solusi tersebut memperlihatkan bagaimana AI, ketika dimanfaatkan secara tepat, dapat membuka akses di ruang olahraga yang sebelumnya kurang inklusif.
Perjalanan RunSight pun tak berhenti di tingkat nasional. Setelah melalui seleksi regional dan global, Tim Labmino terpilih sebagai salah satu dari sepuluh tim terbaik dunia dan menyandang status SFT Global Ambassador. Bagi Samsung, pencapaian ini menjadi pengakuan dunia terhadap inovasi yang lahir dari konteks lokal dan dirancang berdasarkan kebutuhan nyata pengguna.
Harry menambahkan, Samsung Solve for Tomorrow berada di persimpangan antara teknologi, empati, dan masa depan generasi muda. Ia menilai perjalanan Tim Labmino menjadi bukti bahwa ide sederhana yang muncul dari pengalaman sehari-hari, bahkan dari kebutuhan yang sering terabaikan, bisa berkembang menjadi solusi berdampak luas.
“Peran kami adalah menjaga agar ruang ini terus terbuka, sehingga generasi berikutnya dapat melangkah lebih jauh dan membentuk masa depan inovasi yang relevan, inklusif, dan berdampak,” katanya.
Bagi Samsung, AI yang bermakna bukan hanya tentang kecanggihan teknologi, melainkan tentang bagaimana ia memberdayakan manusia. Dan melalui ruang seperti Solve for Tomorrow, pesan itu ingin ditegaskan bahwa inovasi dengan tujuan bisa lahir dari Indonesia, untuk dunia.





