Bisnis.com, JAKARTA - MSCI lalu menerapkan langkah sementara (interim freeze) yang antara lain membekukan kenaikan Foreign Inclusion Factor dan Number of Shares untuk perhitungan indeks, menunda penambahan saham Indonesia ke indeks investable tertentu, serta menghentikan migrasi naik segmen ukuran. MSCI juga memberi sinyal bahwa evaluasi pada Mei 2026 akan mempertimbangkan ulang status aksesibilitas pasar jika kemajuan transparansi tidak memadai.
Mengapa respons indeks global terasa “keras”? Karena bagi banyak investor institusional— termasuk pengelola dana pasif—indeks bukan sekadar label, melainkan peta alokasi. Perubahan perlakuan indeks dapat memengaruhi aliran dana, likuiditas, dan pada akhirnya biaya modal. Karena itu, isu yang tampak administratif, seperti definisi dan pengukuran free float sesungguhnya menyentuh jantung kredibilitas pasar: apakah data kepemilikan bisa dipercaya, dan apakah harga saham terbentuk secara wajar.
Di titik ini, berguna untuk menggeser lensa dari “aturan indeks” ke pertanyaan yang lebih mendasar: seberapa baik kualitas pembentukan harga (price discovery) di Bursa Efek Indonesia.
Dalam literatur struktur mikro pasar, kualitas itu sering dibaca melalui konsep noise, yaitu pergerakan harga yang tidak sepenuhnya merefleksikan informasi fundamental, melainkan dipengaruhi friksi perdagangan—misalnya bid–ask spread, kedalaman pasar yang tipis, atau saham yang beredar terbatas.
Dalam riset kami “Noise and efficient variance in the Indonesia Stock Exchange” (Pacific-Basin Finance Journal) berbasis data intrahari saham paling aktif periode 2000—2007, volatilitas dipisahkan menjadi komponen informasional (efficient variance) dan komponen noise.
Secara praktis, temuan tersebut terlihat dari kebutuhan “jarak” pengambilan sampel untuk mengukur volatilitas yang efisien. Rata-rata interval sampling optimal di BEI sekitar 10 menit—hampir dua kali lebih panjang dibanding praktik 5 menit yang lazim dipakai dalam banyak studi untuk pasar AS.
Baca Juga
- Luhut Ungkap Isi Pembicaraan dengan MSCI selama 2 Jam
- MSCI Beraksi, Investor Menadah Saham Murah
- MSCI, Moody's dkk. Berikan 'Kartu Kuning', Prabowo Anggap Menteri Kurang Aktif Kasih Informasi
Ini menandakan bahwa pada interval yang terlalu rapat, pergerakan harga di BEI lebih mudah “terkontaminasi” noise; agar ukuran volatilitas lebih mencerminkan perubahan nilai wajar, sampel perlu diambil lebih jarang sehingga sinyal informasi tidak tertutup oleh distorsi struktur mikro.
Temuan penting lain: noise bukan sekadar gangguan statistik. Noise berkorelasi positif dengan bid–ask spread; ketika spread melebar (biaya transaksi naik dan likuiditas menipis), noise cenderung meningkat.
Noise juga bergerak searah dengan ketidakpastian nilai aset; ketika ketidakpastian tentang nilai wajar meningkat, risiko bertransaksi dengan pihak yang memiliki informasi lebih baik ikut naik, dan ini tercermin dalam noise yang lebih besar. Dengan kata lain, noise dapat dibaca sebagai “termometer” kualitas pasar—naik ketika friksi meningkat atau asimetri informasi membesar.
Di sinilah keterkaitan langsung dengan kasus MSCI menjadi jelas. Opasitas kepemilikan dan konsentrasi free float bukan hanya soal pelaporan, melainkan dapat mengubah perilaku pasar secara nyata. Ketika kepemilikan sangat terkonsentrasi, pasokan saham yang benar-benar beredar bisa lebih kecil daripada yang diasumsikan; kondisi ini cenderung memperlebar spread dan membuat harga lebih sensitif terhadap transaksi yang tidak besar.
Dalam situasi seperti itu, kekhawatiran MSCI tentang perilaku perdagangan yang berpotensi mengganggu pembentukan harga menjadi masuk akal secara mekanisme: pasar dengan free float efektif yang tipis lebih rentan terhadap distorsi.
Permintaan MSCI atas data kepemilikan yang lebih rinci, termasuk pemantauan konsentrasi kepemilikan, pada dasarnya bertujuan memastikan bahwa free float yang dihitung benar-benar mewakili saham yang tersedia bagi publik. Tanpa transparansi tersebut, investor sulit menilai likuiditas, risiko tata kelola, dan risiko pembentukan harga, sehingga premi risiko cenderung naik.
Karena itu, respons kebijakan yang dibicarakan—menaikkan persyaratan free float minimum dan memperbaiki granularitas pengungkapan kepemilikan—perlu dipahami sebagai dua sisi dari satu agenda: memperkuat investability sekaligus memperbaiki kualitas price discovery. Namun, menaikkan free float bukan hanya soal angka persentase. Yang dibutuhkan adalah free float “efektif”: saham yang benar-benar tersedia dan independen untuk diperdagangkan, bukan sekadar tersebar di atas kertas.
Di saat yang sama, data kepemilikan perlu lebih granular, konsisten, dan dapat diaudit—termasuk klasifikasi pemegang saham serta keterkaitan/afiliasi—agar penilaian free float dan risiko konsentrasi menjadi lebih kredibel.
Langkah berikutnya adalah memastikan integritas pembentukan harga melalui pengawasan yang kuat. Keberhasilan reformasi tidak harus diperdebatkan di tingkat slogan; ia bisa dilihat dari indikator operasional yang relatif jelas: penyempitan bid–ask spread, perbaikan kedalaman pasar, turunnya dampak harga dari transaksi berukuran tertentu, dan—bila data intrahari dimanfaatkan—penurunan ukuran market microstructure noise. Jika indikator- indikator ini membaik, perbaikan yang terjadi bukan sekadar administratif, melainkan substantif bagi fungsi pasar.
Pada akhirnya, kasus MSCI seharusnya dibaca sebagai cermin. Fokus pada headline “downgrade atau tidak” memang wajar, tetapi itu hanya gejala. Substansinya adalah membangun pasar yang transparan, likuid, dan tahan terhadap distorsi—pasar yang membuat harga saham lebih banyak bergerak karena informasi, bukan karena noise





