Liputan6.com, Jakarta - BRIN atau Badan Riset dan Inovasi Nasional menyampaikan, kejadian pencemaran Sungai Cisadane yang disebabkan oleh tumpahnya zat kimia bisa berisiko menimbulkan efek kesehatan kronis.
Hal itu seperti disampaikan Periset dari Pusat Riset Limnologi dan Sumberdaya Air BRIN Ignasius Sutapa.
Advertisement
Ignasius menjelaskan, kejadian tersebut memungkinkan terjadinya bioakumulasi dan biomagnifikasi, yaitu proses di mana sisa residu pestisida atau metabolit berbahaya menumpuk dalam jaringan organisme udara dan kemudian berpindah ke tingkat pemangsa yang lebih tinggi, termasuk manusia yang mengonsumsi ikan hasil tangkapan dari sungai itu.
Kondisi ini menyebabkan polusi tidak hanya berdampak sesaat, tetapi berpotensi memicu gangguan kesehatan kronis dalam jangka panjang.
"Risiko ini membuat polusi tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi juga berpotensi menimbulkan efek kesehatan kronis," ujar Ignasius melansir Antara, Senin (16/02/2026).
Menurut Ignasius, kontaminasi juga dapat mencapai sedimen dasar sungai dan menjadi sumber pembuangan racun sekunder dalam jangka waktu lebih lama.
Artinya, kata dia, meskipun permukaan udara terlihat jernih, ancaman toksik masih dapat tersimpan di lapisan sedimen dan terlepas kembali ke kolom udara dalam kondisi tertentu.
Dari sudut kesehatan masyarakat, paparan pestisida tersebut dapat terjadi melalui kontak langsung dengan air sungai saat mandi atau mencuci, maupun melalui paparan tidak langsung seperti konsumsi udara mentah atau ikan yang terkontaminasi.
Ignasius menambahkan bahwa beberapa jenis pestisida khususnya yang bersifat neurotoksik dapat menyebabkan efek akut seperti mual, pusing, gangguan sistem saraf, bahkan kematian, tergantung tingkat paparan yang dialami.
"Dalam jangka panjang, paparan berpotensi memicu gangguan endokrin, kerusakan organ, bahkan risiko karsinogenik," kata Ignasius.



