Derit kayu dan suara gesekan di tembok yang belum selesai dibangun sesekali memecah pagi di gang sempit itu. Di antara tembok yang belum sepenuhnya rapi, Mas’at (46) berdiri memandangi rumahnya yang sedang dipersiapkan untuk dibangun kembali lewat program bedah rumah warga Pemprov DKI Jakarta, melalui Satpol PP DKI Jakarta.
Ketika keluar rumah dan hendak turun, ia sempat terjatuh karena kondisi disabilitas fisiknya.
“Ini saya tinggal dari kecil, sih. Jadi dibangun dari 1982 rumah ini. Belum pernah direnov,” ujarnya pelan di Cengkareng, Jakarta Barat, Rabu (18/2).
Rumah itu memanjang ke belakang sederhana. Dahulu ukurannya sekitar 15 x 5 meter, peninggalan orang tua. Namun kondisi ekonomi memaksanya menjual separuh bagian untuk membeli bahan bangunan dan membayar tukang. Kini, bagian yang ia tempati hanya sekitar 2 meter lebar dan 4,6 meter panjang.
“Ini kebagian jatah sebenarnya 2 meter, panjang 4,6 meter. Jadi separuh kan dibayarin sama kakak. Karena saya enggak punya modal buat bayar tukang sama buat beli hebel, buat nguruk, ya kan? Daripada rubuh,” katanya.
Di rumah itu tinggal tiga kepala keluarga. Mas’at dengan satu anaknya—istrinya telah meninggal. Di sisi lain ada kakaknya yang juga ditinggal wafat suami, bersama tiga anak. Sang kakak juga merupakan difabel. Sementara adiknya, tinggal dengan satu anak laki-laki. Semuanya hanya dipisahkan sekat-sekat tipis.
“Jadi masing-masing sekat doang,” ucapnya.
Rumah itu juga tak sepenuhnya aman dari air. Saat hujan deras, air bisa merembes dari samping. Banjir terakhir mencapai sekitar 10 sentimeter.
“Paling kemarin 10 sentian lah, semata kaki ini. Masuk ke dalam,” katanya sambil menunjuk lantai.
Listrik di rumah itu masih 450 watt, tak berubah sejak awal dipasang puluhan tahun lalu. Ia berbagi sambungan dengan sang kakak. Penggunaan pun serbahemat—lampu 5 watt dan pompa air dipakai bergantian.
“Masih 450. Jadi memang dari tahun '82 tuh enggak diubah. Paling pakai lampu doang sama sanyo (pompa air),” ujarnya.
Mas’at bekerja sebagai teknisi servis elektronik panggilan. Dulu, ketika istrinya masih ada, ia sempat membuka ruko kecil. Namun setelah sang istri meninggal, ia menutup usaha itu.
“Saat ini ya nunggu panggilan aja, via telepon,” katanya.
Program bedah rumah yang kini dijalaninya berawal dari hal tak terduga. Adiknya datang ke kelurahan untuk mengurus KTP yang hilang. Di sana, ia bertemu lurah dan menceritakan kondisi rumah mereka.
“Saya tadinya enggak kenal sama Pak Lurah. Kebetulan adik waktu itu ngurus KTP. Jadi cerita ke Pak Lurah, langsung Pak Lurah tanggap, disurvei kemari,” tutur Mas’at.
Tak ada persyaratan rumit, katanya. Ia menduga penilaian lebih pada kondisi fisik rumah dan keadaannya sebagai penyandang disabilitas.
“Mungkin layak dibantu, mungkin. Itu doang dari segi fisik. Karena saya kan termasuk disabilitas. Ya alhamdulillah ada yang mau bantu, ya saya sih bersyukur banget. Namanya kita kondisi begini,” ucapnya.
Selama proses renovasi, ia dan keluarga sementara mengontrak rumah tak jauh dari lokasi. Biaya kontrakan ditanggung pemerintah daerah.
“Ya nyari sendiri, dibiayain sama Pemprov,” katanya singkat.
Di tengah keterbatasan ruang, listrik, dan ancaman banjir, harapannya sederhana. Bukan rumah mewah, bukan pula bangunan bertingkat.
“Harapan saya sih, mudah-mudahan ini dibangun, rapi, ya kan, layak lah buat ditempati,” ujarnya.
“Ya untuk saat ini sih layak aja menurut saya. Karena kagak ada keadaannya, ya kan? Iyalah, layak enggak layak istilahnya, ya udah, tempati lah,” tambah dia.
Di rumah 2 x 4,6 meter itu, Mas’at menunggu bukan hanya tembok yang berdiri lebih kokoh, tetapi juga hidup yang sedikit lebih lapang.





