Diam-diam India Lepas Ketergantungan dari China

cnbcindonesia.com
2 jam lalu
Cover Berita
Foto: Perdana Menteri India Narendra Modi berjabat tangan dengan Presiden China Xi Jinping selama pertemuan di sela-sela KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Tianjin, China, 31 Agustus 2025. (via REUTERS/PRESS INFORMATION BUREAU)

Jakarta, CNBC Indonesia - India kian agresif mengolah limbah elektronik menjadi sumber mineral strategis untuk mengurangi ketergantungan pada China. Langkah ini menjadi bagian dari strategi New Delhi mengamankan pasokan bahan baku penting bagi industri teknologi tinggi, kendaraan listrik, hingga sektor pertahanan.

Mengutip AFP, Rabu (18/2/2025), upaya tersebut terlihat di sebuah pabrik daur ulang di negara bagian Haryana. Di lokasi itu, ratusan baterai bekas dihancurkan dan diekstraksi menjadi mineral penting seperti litium, kobalt, dan nikel, yakni komoditas krusial bagi ponsel pintar, pusat data, hingga jet tempur.


Baca: Banyak Negara Terapkan Aturan Indonesia, Dunia Kompak Berubah

Di fasilitas Exigo Recycling, baterai skuter listrik diolah menjadi bubuk hitam pekat, lalu melalui proses pelarutan, penyaringan, dan penguapan hingga berubah menjadi bubuk putih halus berupa litium.

"Ini adalah emas putih," kata ilmuwan utama fasilitas tersebut sambil menunjukkan hasil akhir proses daur ulang.

Kekhawatiran global terhadap dominasi China dalam rantai pasok mineral kritis mendorong India beralih ke sumber yang selama ini terabaikan, yakni limbah elektronik. Permintaan mineral strategis diperkirakan terus melonjak, sementara penambangan domestik India diproyeksikan belum menghasilkan output signifikan setidaknya selama satu dekade. Dalam kondisi ini, limbah elektronik dipandang sebagai solusi jangka menengah.

Baterai bekas mengandung litium, kobalt, dan nikel. Layar LED menyimpan germanium, papan sirkuit mengandung platinum dan paladium, sementara harddisk menyimpan unsur tanah jarang. Karena itu, limbah elektronik kerap disebut sebagai "tambang emas" mineral penting.

Data resmi menunjukkan India menghasilkan hampir 1,5 juta ton limbah elektronik sepanjang 2024. Namun, para ahli memperkirakan jumlah sebenarnya bisa mencapai dua kali lipat dari angka tersebut.

Baca: Bayar Utang Whoosh Jadi Pakai APBN? Ini Jawab Purbaya!

Perkiraan industri menyebutkan aktivitas urban mining atau pemulihan mineral dari limbah elektronik berpotensi bernilai hingga US$6 miliar atau sekitar Rp97 triliun per tahun. Meski belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan domestik, sektor ini dinilai dapat membantu meredam guncangan impor sekaligus memperkuat ketahanan rantai pasok India.

Namun, sebagian besar limbah elektronik masih dibongkar di bengkel-bengkel informal. Praktik ini umumnya hanya mengekstraksi logam bernilai cepat seperti tembaga dan aluminium, sementara mineral penting lainnya tidak dimanfaatkan secara optimal.

Sebagai informasi, kapasitas daur ulang formal India juga masih tertinggal dibandingkan China dan Uni Eropa yang telah berinvestasi besar dalam teknologi pemulihan canggih serta sistem ketertelusuran.

India saat ini tercatat memiliki ketergantungan impor 100% untuk mineral penting utama seperti litium, kobalt, dan nikel. Untuk menutup celah tersebut, pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi menyetujui program senilai US$170 juta atau sekitar Rp2,75 triliun guna memperluas daur ulang mineral strategis.

Program ini didukung kebijakan Extended Producer Responsibility (EPR) yang mewajibkan produsen mengumpulkan dan menyalurkan limbah elektronik ke pendaur ulang resmi.

"EPR telah bertindak sebagai katalis utama dalam meningkatkan skala industri daur ulang," ujar Raman Singh, Direktur Pelaksana Exigo Recycling.

Baca: Investasi Jumbo di AI, Adani Group Bakal Guyur Duit Sampai Rp1.600 T

Meski demikian, tantangan masih besar. "Sebelum EPR diterapkan sepenuhnya, 99% limbah elektronik didaur ulang secara informal. Sekitar 60% kini sudah beralih ke sektor formal," kata Nitin Gupta dari Attero Recycling.

Catatan Program Pembangunan PBB menunjukkan lebih dari 80% limbah elektronik India masih diproses secara informal, dengan risiko kesehatan dan lingkungan akibat pembakaran terbuka serta rendaman asam.

"Sektor informal masih menjadi tulang punggung pengumpulan dan pemilahan limbah," kata Sandip Chatterjee, penasihat senior Sustainable Electronics Recycling International.

Sejumlah inisiatif kini berupaya mengintegrasikan pekerja informal ke rantai pasok formal melalui pelatihan dan fasilitas kerja yang lebih aman. Langkah ini dinilai krusial agar India tidak hanya mengurangi ketergantungan pada China, tetapi juga memaksimalkan nilai ekonomi dari limbah elektronik yang selama ini dipandang sekadar sampah.


(tfa/mij)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Harga Minyakita Masih Mahal - Presiden Main Mata Dengan China

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kondisi Sebelum dan Sesudah Sampah Kiriman di Pantai Kelan Bali Dibersihkan
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Pemotor Kecelakaan di Bali, Warga Temukan Pil Putih di Motornya
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Untung Rugi Perminas Garap Logam Tanah Jarang di Gabon
• 4 jam lalubisnis.com
thumb
Harga Minyak Naik Tipis Setelah AS & Iran Isyaratkan Kemajuan Perundingan Nuklir
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Kemarin, Gibran apresiasi umat Konghucu hingga peran RI di BoP
• 19 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.