JAKARTA, KOMPAS.com – Suasana khidmat shalat tarawih perdana di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat pada Rabu (18/2/2026) malam.
Sejak sore, ribuan jemaah dari berbagai penjuru Jakarta dan sekitarnya tampak memadati ruang utama masjid terbesar di Asia Tenggara tersebut.
Shalawat dan lantunan ayat suci Al-Qur'an mengiringi langkah kaki jemaah yang antusias mengisi tiap-tiap baris saf yang penuh tanpa menyisakan ruang kosong di ruang utama.
Baca juga: Jemaah Antusias Shalat Tarawih Perdana di Masjid Istiqlal: Absen ke Malaikat
Wajah-wajah cerah para jemaah tampak jelas, menandakan bahagianya perjumpaan kembali dengan bulan Ramadhan.
Sudut-sudut masjid pun dipenuhi para jemaah yang menghabiskan waktu menunggu datangnya waktu shalat sambil membaca Al Quran.
Tema Ramadhan HijauDi tengah rangkaian ibadah tarawih tersebut, Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, naik ke mimbar.
Dalam khotbah perdana ini, Nasaruddin membawakan topik "Ramadhan Hijau, Ramadhan Bersama" yang menggaungkan perhatian pada lingkungan.
Nasaruddin mengajak jemaah untuk bergeser dari simbol "merah" yang penuh amarah dan ego, menuju "hijau" yang penuh kesejukan.
"Kenapa Ramadhan ini disebut hijau? Karena yang membuat kita itu merah itu adalah ego. Jadi kalau merah itu simbol daripada struggling. Kalau hijau itu simbol daripada nurturing, kelembutan," kata Nasaruddin.
Baca juga: Masjid Istiqlal Terbakar, Api Berasal dari Ruang Server
Ia menjelaskan makna hijau sejatinya adalah sebagai bentuk kelembutan, kesejukan, keheningan, dan kepasrahan.
Menurutnya, Islam sesungguhnya mengajak umatnya untuk menjadi seseorang yang bila diibaratkan sebagai warna adalah hijau.
Ia menyebut bahwa Allah SWT memiliki dua sifat yaitu Ilahun sebagai Maha Kuasa dan Rabbun sebagai Pemelihara.
Namun, kata Nasaruddin, Allah lebih menonjolkan sisi pemelihara-Nya.
"Allah SWT Bapak-Ibu sekalian, lebih menonjolkan dirinya sebagai Rabbun daripada Ilahun. Lebih menonjolkan dirinya sebagai The God daripada The Lord... Lebih dari 80 persen dalam sifat Allah dan nama Allah itu memperkenalkan dirinya sebagai Rabbun, rububiyah, bukan Ilahun atau uluhiyah," jelasnya.
Ia memberikan contoh melalui Al Qur’an, di mana sifat Ar-Rahim (Maha Penyayang) terulang 114 kali dan Ar-Rahman (Maha Pengasih) 57 kali, sementara tidak ada sifat pemurka atau pendendam.
"Allah memperkenalkan dirinya sebagai sosok figur yang Maha Lembut, Maha Pengasih, Maha Penyayang. Tidak menampakkan dan menonjolkan dirinya sebagai Maha Pendendam atau Maha Angkus," ucap Nasaruddin.
Baca juga: Khusyuknya Jemaah Shalat Tarawih Perdana di Masjid Istiqlal





