Wisuda seharusnya jadi garis akhir yang membahagiakan. Toga dilempar, foto keluarga diunggah, ucapan selamat berdatangan. Tapi setelah euforia itu selesai, muncul satu pertanyaan yang lebih sunyi dan lebih menekan: setelah ini, ke mana?
Menjadi fresh graduate hari ini bukan cuma soal mencari pekerjaan. Ini soal menghadapi ekspektasi dari orang tua, dari lingkungan, bahkan dari diri sendiri. Di usia awal 20-an, kita sudah ditanya rencana lima tahun ke depan, target karier, bahkan kapan mapan. Padahal, CV saja masih terasa kosong.
Lowongan kerja terlihat banyak. Timeline LinkedIn ramai. Tapi ketika dibaca lebih detail, syaratnya seperti level akhir permainan: minimal pengalaman dua tahun, menguasai berbagai tools, siap bekerja di bawah tekanan, komunikatif, adaptif, multitasking. Untuk posisi entry level.
Di titik ini, banyak lulusan baru mulai merasa cemas. Bukan karena tidak mau berusaha, tetapi karena standar terasa terlalu tinggi untuk garis start yang baru saja dimulai. Setiap notifikasi email membuat jantung berdebar berharap itu panggilan interview, tapi sering kali hanya promo diskon.
Di sisi lain, media sosial menambah tekanan. Ada teman yang sudah diterima di perusahaan besar. Ada yang lanjut S2, ada yang merintis bisnis. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan proses sendiri dengan pencapaian orang lain. Padahal, setiap orang memulai dari titik dan kondisi yang berbeda.
Keresahan ini sering diremehkan dengan kalimat, “Nanti juga dapat kerja.” Masalahnya, yang dihadapi fresh graduate bukan hanya soal mendapat pekerjaan, tetapi soal rasa cukup. Cukup kompeten, cukup layak, cukup siap. Ketika penolakan datang berulang, rasa percaya diri ikut terkikis.
Banyak dari kita akhirnya mengambil pekerjaan apa saja demi bertahan. Tidak selalu sesuai jurusan, tidak selalu sesuai passion. Di satu sisi, ini realistis. Di sisi lain, ada perasaan takut tertinggal dari “jalur ideal” yang dulu dibayangkan saat masih kuliah.
Namun mungkin, yang perlu diubah bukan hanya strategi mencari kerja, tetapi cara kita memaknai awal karier. Tidak semua orang harus langsung menemukan pekerjaan impian. Tidak semua langkah pertama menentukan seluruh perjalanan. Karier bukan sprint, melainkan proses yang kadang penuh belokan.
Menjadi fresh graduate memang berarti memulai dari nol. Tapi nol bukan berarti gagal. Nol adalah ruang kosong yang bisa diisi dengan pengalaman, dengan kesalahan, dengan pembelajaran.
Mungkin benar, hari ini adalah fase fresh graduate, fresh anxiety. Tapi kecemasan itu bukan tanda kita lemah. Itu tanda kita peduli pada masa depan. Dan peduli adalah awal yang baik untuk terus bergerak, meski pelan.





