Bencana banjir kembali melanda wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatra Utara, usai banjir susulan yang terjadi pada Minggu lalu. Sedikitnya 10 kecamatan di kabupaten tersebut dilaporkan kembali porak-poranda akibat terjangan air bah yang merusak infrastruktur dan pemukiman warga.
Salah satu wilayah dengan dampak kerusakan terparah berada di Kelurahan Huta Nabolon, Kecamatan Tukka. Selain itu, kondisi memprihatinkan juga terjadi di Kecamatan Badiri, di mana tiga desa kini kembali terisolir karena akses jalan dan jembatan putus total.
Akibatnya, warga terpaksa berjalan kaki untuk menyeberangi sungai dengan arus yang sangat deras. Untuk melintasi sungai, warga hanya mengandalkan material kayu gelondongan sisa material banjir yang membentang di atas aliran sungai.
Baca juga: Mendagri: 29 Desa di Aceh-Sumut Hilang Akibat Banjir dan Longsor
Salah seorang warga, Lamsiohar Tambunan mengungkapkan bahwa mereka harus memberanikan diri menyeberangi jembatan darurat meskipun dihantui rasa takut akan derasnya arus sungai. "Diberanikan saja, karena tidak mungkin terus-terusan merasa takut sementara akses jalan seperti ini," ujarnya.
Kondisi Desa Lubuk Ampolu di Kecamatan Badiri kini bahkan sangat memprihatinkan. Desa tersebut berubah menyerupai pulau, karena dikelilingi oleh luapan aliran Sungai Aek Botar.
Lantaran kondisi desa yang kian membahayakan dan sulitnya akses logistik, sebagian besar warga memilih untuk meninggalkan kediaman mereka dan tinggal sementara waktu bersama sanak keluarga di wilayah lain di Kecamatan Badiri.




