Pantau - Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menyatakan putaran kedua perundingan tak langsung antara Iran dan Amerika Serikat berlangsung lebih "konstruktif" di Jenewa dibandingkan putaran sebelumnya di Oman.
Pernyataan itu disampaikan Araghchi pada Selasa 17 Februari dalam wawancara dengan stasiun televisi pemerintah Iran IRIB TV usai perundingan nuklir antara delegasi Iran dan Amerika Serikat yang dimediasi Oman.
Perundingan tersebut digelar di Kedutaan Besar Oman di Jenewa, Swiss.
Araghchi mengatakan, "Berbagai gagasan telah diajukan dan dibahas secara serius dan pada akhirnya, kami berhasil mencapai kesepakatan umum mengenai serangkaian prinsip pedoman, yang menjadi dasar bagi kami untuk melangkah ke tahap berikutnya dan mulai menyusun teks perjanjian yang potensial," ujar Araghchi.
Ia menambahkan, "hal ini tidak berarti kami dapat segera mencapai kesepakatan, namun setidaknya jalurnya telah dimulai. Kami optimistis pekerjaan ini akan diselesaikan sesegera mungkin dan kami siap mencurahkan cukup waktu untuk hal itu," ungkapnya.
Araghchi menegaskan, "Kami kini memiliki gambaran yang lebih jelas perihal apa yang harus dilakukan seiring berlanjutnya jalur diplomatik," ucap Araghchi.
Ia menyampaikan bahwa belum ada tanggal yang ditetapkan untuk putaran perundingan berikutnya.
Kedua pihak sepakat menyusun draf teks perjanjian yang potensial dan akan saling mempertukarkannya sebelum menjadwalkan putaran selanjutnya.
Ketegangan dan Latihan Militer di Selat HormuzSetelah putaran kedua dimulai, Iran mengumumkan penutupan sementara di sejumlah bagian Selat Hormuz.
Penutupan dilakukan untuk memenuhi prinsip keselamatan dan pelayaran selama latihan tembak langsung live fire drill bertajuk "Pengendalian Cerdas Selat Hormuz" (Smart Control of the Strait of Hormuz) yang diselenggarakan Iran.
Proses diplomatik ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat serta penguatan kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan Asia Barat.
Pernyataan Khamenei dan Ancaman TrumpPada Selasa 17 Februari, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei menyatakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, seperti para pendahulunya, akan gagal menghancurkan Republik Islam Iran.
Pernyataan itu disampaikan sebagai tanggapan atas komentar Trump pada Jumat 13 Februari.
Trump kembali mengancam Iran dengan tindakan militer dan mengatakan bahwa menggulingkan pemerintahan Iran "akan menjadi hal terbaik yang dapat terjadi."
Putaran pertama perundingan nuklir tak langsung sebelumnya digelar di Muscat, Oman, pada 6 Februari.




