Jakarta, VIVA – Salat Tarawih menjadi salah satu ibadah paling khas di bulan Ramadhan. Ketika malam tiba, masjid-masjid dipenuhi jamaah yang ingin meraih keutamaan qiyam Ramadan. Namun, pertanyaan yang kerap muncul setiap tahun adalah: apakah Tarawih lebih utama dikerjakan sendiri di rumah atau berjamaah di masjid?
Dalam khazanah fikih Islam, mayoritas ulama sepakat bahwa salat Tarawih lebih afdal dilaksanakan secara berjamaah. Meski demikian, salat Tarawih sendirian tetap sah dan berpahala. Perbedaan ini lebih pada tingkat keutamaan, bukan pada sah atau tidaknya ibadah.
Landasan utama keutamaan Tarawih berjamaah dapat ditelusuri dari praktik Nabi Muhammad saw. sendiri pada masa hidup beliau. Ummul Mukminin ‘Aisyah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah melaksanakan salat malam Ramadan di masjid dan diikuti para sahabat.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ، ثُمَّ صَلَّى مِنَ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ، ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ: «قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ، وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ»، وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ
“Dari ‘Aisyah ra diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. pada suatu malam salat di masjid, lalu beberapa orang ikut salat bersama beliau. Pada malam berikutnya beliau salat lagi dan jumlah manusia semakin banyak. Kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau keempat, tetapi Rasulullah saw. tidak keluar menemui mereka. Ketika pagi hari beliau bersabda: ‘Aku telah melihat apa yang kalian lakukan. Tidak ada yang menghalangiku untuk keluar menemui kalian kecuali aku khawatir salat itu akan diwajibkan atas kalian.’ Peristiwa itu terjadi pada bulan Ramadan.” (HR. al-Bukhārī dan Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa Nabi saw. memang pernah menunaikan Tarawih secara berjamaah. Beliau kemudian tidak melanjutkannya secara rutin bukan karena berjamaah tidak dianjurkan, melainkan karena kekhawatiran syariat salat malam Ramadan akan menjadi wajib bagi umatnya. Dengan kata lain, penghentian itu bersifat situasional, bukan larangan.
Dalil lain yang sering dijadikan rujukan ulama tentang keutamaan berjamaah adalah riwayat Abu Dzar ra. Dalam hadis tersebut, Nabi menegaskan besarnya pahala mengikuti imam hingga selesai.
عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ: صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ، فَلَمْ يَقُمْ بِنَا شَيْئًا مِنَ الشَّهْرِ حَتَّى بَقِيَ سَبْعٌ، فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ، ثُمَّ لَمْ يَقُمْ بِنَا فِي السَّادِسَةِ، وَقَامَ بِنَا فِي الْخَامِسَةِ حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا قِيَامَ هَذِهِ اللَّيْلَةِ، فَقَالَ: «إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ».
“Sesungguhnya siapa yang salat bersama imam hingga imam selesai, maka dicatat baginya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. at-Tirmiżi, Abu Dawud, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah).
Hadis ini menjadi dasar kuat bahwa berjamaah dalam salat malam Ramadan memiliki keutamaan besar. Bahkan, mengikuti imam sampai selesai disetarakan dengan pahala salat malam semalam suntuk.





