Sistem Pangan yang Menggerogoti Tubuh Bangsa

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

Di ruang pertemuan Rumah Sakit St Elisabeth, Desa Lela, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, udara siang itu terasa lebih pengap dari biasanya. Laki-laki dan perempuan memenuhi ruangan untuk mendengar hasil pemeriksaan kesehatan. Namun, semangat mereka mengkerut saat dibacakan hasilnya.

"Sebagian besar warga yang diperiksa mengalami hipertensi," kata Safarina G Malik, peneliti utama MRIN-Universitas Pelita Harapan, Jakarta, membacakan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan timnya, Rabu (3/2/2026).

Dari 164 warga desa yang diperiksa, hanya 18,9 persen yang memiliki tekanan darah normal. Sebanyak 40,2 persen mengalami pra-hipertensi, , 30, 5 persen hipertensi tingkat 1, dan 10,4 peren hipertensi tingkat 2.

Angka ini cukup buruk untuk warga desa yang mayoritas petani. Responden terdiri dari 63 laki-laki dan 101 perempuan. Usia responden di atas 20 tahun dengan mayoritas 41-50 tahun.

Baca JugaPola Konsumsi Memperburuk Kesehatan, Darurat Cuci Darah di Sikka

Sekalipun mayoritas petani yang diasumsikan banyak melakukan aktivitas fisik, namun mereka mengalami obesitas sentral, mencapai 55,5 persen. Obesitas sentral merupakan penumpukan lemak yang berpusat di bagian perut yang ditandai dengan ciri-ciri perut buncit dan memiliki lingkar pinggang yang lebar.

Sebanyak 85 persen laki-laki mengalami asam urat tinggi, sementara perempuan 15 persen. Hampir seperlima sudah pradiabetes, dan lebih dari seperempat mengalami penurunan fungsi ginjal, serta 5 persen mengalami gagal ginjal kronis.

“Saya tidak pernah mengalami gejala sakit, tetapi mengapa asam urat saya disebutkan sangat tinggi,” ujar Stepanus Lopes, petani paruh baya. Ia merasa masih kuat mencangkul setiap hari.

Seorang perempuan paruh baya, yang juga merasa masih sehat hanya terdiam saat tahu kadar kolesterolnya tinggi. Mereka tinggal dekat laut, mudah mendapat ikan. Mereka menanam sendiri sebagian pangan.

Namun angka-angka itu tak bisa dibantah. Ketika Safarina mengajak warga untuk berefleksi tentang pola konsumsi sehari-hari, banyak yang akhirnya menyadari ada yang keliru. "Dia memang tukang minum," kata seorang ibu, sambil menunjuk lelaki yang sebelumnya protes karena asam uratnya dinyatakan tinggi.

"Setiap malam memang minum, 1-2 gelas. Kalau tidak minum, tidak bisa tidur. Rokok, ini juga susah dihentikan," kilah Stepanus.

Safarina berupaya menjelaskan kepada warga bahaya pola konsumsi yang selama ini dianggap remeh, seperti makan terlalu banyak gula, garam, dan lemak tidak sehat. Belum lagi mayoritas merokok dan minuman keras yang tak pernah absen.

Di desa yang subur dan dekat laut itu, penyakit kronis tumbuh bersama pola konsumsi yang berubah yang mencerminkan buruknya kondisi kesehatan masyarakat. Apa yang terjadi di Lela itu menjelaskan mengenai banyaknya pasien cuci darah di RSUD dr TC Hillers Maumere.

Lebih dari seratus orang kini bergantung pada mesin untuk menyaring darahnya. Sebagian harus menunggu giliran. Unit baru disiapkan di kabupaten tetangga karena jumlah pasien terus bertambah.

Biaya cuci darah bukan hanya soal angka dalam anggaran BPJS. Ia adalah ongkos tersembunyi dari sistem pangan yang berubah tanpa banyak disadari. Ongkos itu dibayar pelan-pelan: oleh ginjal yang melemah, oleh pembuluh darah yang menegang, oleh keluarga yang kehilangan hari kerja untuk berobat.

“Ini biaya tersembunyi yang harus ditanggung masyarakat karena pola hidup tidak sehat, terutama pola konsumsi yang buruk,” kata Herawati Supolo Sudoyo, Ketua Komisi Kedokteran Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dan peneliti MRIN-UPH.

Gunung es itu tidak terlihat dari kejauhan. Ia tersembunyi di dapur-dapur rumah, di cangkir kopi yang manis, di bungkus-bungkus makanan instan dan ultra-olahan yang semakin mudah dan murah.

Rokok dihisap oleh 70 persen laki-laki responden. Alkohol dikonsumsi oleh hampir semua laki-laki dan seperempat perempuan.

Data menunjukkan, setengah dari responden di Desa Lela minum kopi dan 89 persen di antaranya menambahkan gula. Teh pun demikian. Konsumsi gula melampaui ambang yang disarankan. Rokok dihisap oleh 70 persen laki-laki responden. Alkohol dikonsumsi oleh hampir semua laki-laki dan seperempat perempuan.

Ironisnya, ini desa petani. Desa dekat pantai. Logika sederhana mengatakan pangan segar mestinya melimpah karena banyak sayur dari kebun, ikan dari laut. Namun yang mengisi tubuh justru gula, lemak, garam, dan produk-produk olahan dan instan yang makin mudah dijangkau hingga ke warung kecil.

Baca JugaMakanan Ultra-olahan Meningkatkan Risiko Penyakit Kronis, Bahkan dalam Jumlah Kecil

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah gencar berbicara tentang stunting. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diluncurkan dengan ambisi besar untuk memastikan anak-anak Indonesia tidak lagi kurang gizi. Kekurangan gizi kronis pada anak memang nyata dan mendesak.

Namun di sisi lain, sebuah gelombang lain tumbuh diam-diam dalam bentuk obesitas, diabetes, hipertensi, penyakit ginjal kronis. Menjadi ironis, karena pemerintah menyatakan ingin mengatasi kurang gizi, tetapi membiarkan obesitas naik karena subsidi dan regulasi pro-pangan sehat.

Masalah ini berpotensi membesar karena menurut sejumlah laporan, MBG juga kerap memberikan menu beruapa pangan ultra-olahan dalam bentuk roti dan biskuit, hingga gula berlebih dari minuman berperisa susu.

Serial Artikel

Makan ”Berbahaya” Gratis

Keberadaan makanan ultra-olahan dalam menu Makan Bergizi Gratis menunjukkan adanya berlapis masalah dalam program ini. 

Baca Artikel

Biaya tersembunyi

Desa Lela hanyalah satu contoh. Penelitian serupa oleh Safarina dan tim di Dieng, Bali, Banjarmasin, hingga Jayapura menunjukkan pola serupa penyakit tidak menular yang dipicu gaya hidup meningkat, termasuk di desa-desa yang dahulu diasosiasikan dengan kerja fisik berat dan pangan alami.

"Pola pangan tidak sehat menjadi pemicu utama berbagai penyakit kronis. Biaya tersembunyi dari pola konsumsi ini sangat besar," kata Herawati.

Mengurangi gula, garam, dan lemak berlebih, berhenti merokok, membatasi alkohol, serta kembali mengonsumsi pangan segar lokal menjadi langkah mendasar yang sering terdengar sederhana, tetapi dampaknya sangat besar. Dan perubahan ini tidak mungkin hanya dilakukan masyarakat, tanpa ada perubahan struktural, termasuk regulasi.

Menurut Herawati, kalau masyarakat saja yang disuruh berubah akan sulit. Harus juga ada pembatasan dan regulasi. Misalnya, soal makanan ultra-olahan, cukai minuman berpemanis hingga rokok, harus ada regulasi yang lebih ketat. Ironisnya, pemberlakukan cukai minuman berpemanis terus ditunda dan makanan ultra-olahan juga tak terkendali.

Herawati menambahkan, fokus pada pencegahan untuk mengubah gaya hidup masyarakat menjadi lebih sehat akan mengurangi secara signifikan beban biaya kesehatan. Apalagi risiko penyakit kronis seperti diabetes dan gagal ginjal kini semakin banyak dialami usia lebih muda.

Biaya sesungguhnya dari pola pangan kita yang tidak sehat itu selama ini diabaikan. Padahal, laporan Hidden Cost of Indonesia’s Food System yang ditulis Romauli Panggabean dan Lucentezza Napitupulu dari Koalisi Sistem Pangan Lestari & WRI Indonesia (2025), total biaya tersembunyi sistem pangan Indonesia mencapai sekitar 1,0–1,3 triliun dollar Amerika Serikat (AS) per tahun, atau setara dengan sekitar 30–40 persen dari pendapatan domestik bruto (PDB) nasional.

Biaya ini tidak muncul dalam harga pangan di pasar yang seolah terlihat murah, tetapi “dibayar” melalui tingginya biaya kesehatan. Biaya terkait masalah nutrisi ini, baik obesitas dan kurang gizi, mencapai 113,1 - 287,9 miliar dollar AS per tahun.

Biaya kesehatan juga datang dari polusi udara, cemaran pestisida, dan paparan anti-mikrobial, yang mencapai 69,2–205,9 miliar dollar AS per tahun. Polusi udara berasal dari aktivitas pertanian dan kebakaran lahan, serta dari bahan bakar biomassa untuk memasak.

Selain biaya kesehatan, biaya tersembunyi dari sistem pangan di Indonesia juga berasal dari biaya lingkungan sebesar 600 - 900 miliar dollar AS dan biaya sosial-ekonomi sebesar 150 - 250 miliar dollar AS. Biaya tersembunyi sosial-ekonomi ini dibebankan pada pendapatan petani yang berada di bawah standar hidup layak, kerentanan dan upah rendah pekerja di sektor pangan, ketimpangan distribusi nilai tambah dalam rantai pasok, hingga kehilangan produktivitas akibat kerentanan sosial.

Selama ini, kita jarang menghitung ongkos sistem pangan secara utuh. Harga mi instan mungkin hanya beberapa ribu rupiah. Minuman manis dalam kemasan sering lebih murah daripada buah segar. Produk ultra-olahan hadir dengan rasa kuat, daya simpan lama, dan promosi agresif. Ia praktis, tahan lama, dan memberi kenyang cepat.

Namun, seperti terlihat di Desa Lela, pola konsumsi tidak sehat ini telah menggeser sumber pangan segar dan beragam. Hal inilah yang kemudian berdampak pada meningkatnya obesitas, diabetes, hipertensi, penyakit jantung, hingga gagal ginjal.

Baca JugaDiabetes, Obesitas dan Sederet Penyakit Mematikan

Sementara itu, di ruang tunggu dialisis rumah sakit kita, mesin-mesin terus berdengung menyaring darah pasien. Bagi mereka yang sudah berada di kursi itu, pilihan memang semakin sempit.

Bagi jutaan orang lain yang belum sampai pada tahap tersebut, peringatan sudah terdengar jelas bahwa gaya hidup hari ini menentukan apakah esok harus ikut antre di ruang cuci darah. Bagi negara, peringatannya juga lebih jelas, fokus pada pencegahan, jangan menunggu pada pengobatan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mark Zuckerberg Disidang, Benarkah Instagram Sengaja Dibuat Candu bagi Anak?
• 11 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Jam Kerja ASN di Bulan Ramadan dan Makna Tanggung Jawab Publik
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
THR PNS 2026 Segera Cair Awal Ramadan, Ini Besaran dan Aturan Terbarunya
• 4 jam lalubisnis.com
thumb
Terekam CCTV, Kuli Bangunan Pencuri Motor Depan Kantor Pos Jakbar Dibekuk
• 5 jam laludetik.com
thumb
19 Titik Trotoar di Jakarta Bakal Dibersihkan dari PKL dan Parkir Liar Selama Ramadan
• 21 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.