Realitas Mental yang Sering Dialami Gen Z

kumparan.com
14 jam lalu
Cover Berita

Hidup Generasi Z (Gen Z) berlangsung dalam ritme yang nyaris tidak pernah melambat. Bangun tidur disambut notifikasi, hari diisi dengan tuntutan produktivitas, dan malam ditutup dengan linimasa media sosial yang seolah tak ada habisnya. Di tengah kecepatan ini, muncul satu realitas yang kian terasa: pikiran yang lelah, meski tubuh tak selalu bergerak berat.

Gen Z sering disebut sebagai generasi paling adaptif terhadap teknologi. Mereka tumbuh bersama gawai, internet, dan media sosial. Namun, adaptif tidak selalu berarti kebal. Justru di balik kecakapan digital itu, banyak dari mereka bergulat dengan tekanan mental yang kompleks—mulai dari kecemasan, kelelahan emosional, hingga kebingungan arah hidup.

Budaya Serba Cepat dan Tuntutan Selalu “Siap”

Teknologi telah memangkas jarak dan waktu, tetapi sekaligus mempercepat ekspektasi. Pesan harus dibalas cepat, tugas harus selesai segera, dan perkembangan diri dituntut terlihat nyata dalam waktu singkat. Dalam dunia yang bergerak cepat, lambat sering kali dianggap gagal.

Bagi Gen Z, kecepatan ini tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam diri. Ada dorongan kuat untuk selalu “on”, selalu relevan, dan selalu berkembang.

Tanpa disadari, hidup berubah menjadi perlombaan yang tidak jelas garis akhirnya. Akibatnya, banyak Gen Z merasa kelelahan meski secara fisik tidak melakukan pekerjaan berat.

Media Sosial dan Beban Perbandingan Sosial

Media sosial menjadi ruang ekspresi, tetapi juga arena perbandingan. Timeline dipenuhi pencapaian, produktivitas, gaya hidup ideal, dan narasi sukses yang sering kali tidak menampilkan proses di baliknya. Generasi Z pun tumbuh dengan standar keberhasilan yang terus bergerak dan sulit dikejar.

Perbandingan yang terjadi berulang-ulang dapat menggerus rasa cukup dan kepercayaan diri. Banyak yang merasa tertinggal, kurang berhasil, atau tidak cukup baik, meski sedang berada di fase hidup yang wajar. Pikiran menjadi penuh, tetapi jarang diberi ruang untuk berhenti dan bernapas.

Pendidikan, Karier, dan Kecemasan Masa Depan

Di bidang pendidikan dan karier, Gen Z dihadapkan pada paradoks. Di satu sisi, peluang terbuka luas. Di sisi lain, ketidakpastian juga semakin besar. Persaingan ketat, perubahan dunia kerja yang cepat, dan narasi “harus sukses sejak muda” menciptakan tekanan psikologis yang tidak ringan.

Banyak Gen Z merasa harus memiliki rencana hidup yang jelas sejak dini, padahal realitas tidak selalu linear. Ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan, muncul rasa gagal dan cemas yang berlarut-larut. Pikiran lelah bukan karena tidak berusaha, melainkan karena terlalu banyak memikirkan masa depan yang belum tentu terjadi.

Ketika Istirahat Menjadi Hal yang Sulit

Ironisnya, di tengah kesadaran tentang kesehatan mental yang semakin terbuka, istirahat justru menjadi hal yang sulit dilakukan. Waktu luang sering diisi dengan konsumsi konten tanpa henti. Tubuh mungkin diam, tetapi pikiran terus bekerja.

Gen Z hidup dalam kondisi stimulasi yang berlebih: informasi datang tanpa jeda, opini berseliweran, dan emosi kolektif mudah menular. Tanpa kemampuan menyaring dan membatasi, pikiran kehilangan ruang untuk tenang.

Solusi Sederhana yang Bisa Dilakukan Sehari-hari

Realitas mental Gen Z tidak bisa diselesaikan dengan satu solusi instan. Namun, ada langkah-langkah sederhana yang dapat dipahami dan dipraktikkan oleh siapa pun dalam kehidupan sehari-hari.

1. Belajar Melambat Tanpa Merasa Bersalah

Melambat bukan tanda kemunduran. Mengurangi ritme, mengambil jeda, dan tidak selalu responsif terhadap segala hal adalah bentuk merawat diri. Tidak semua pesan harus dibalas segera dan tidak semua hari harus produktif secara maksimal.

2. Batasi Konsumsi Media Sosial secara Sadar

Bukan soal meninggalkan media sosial, tetapi menggunakannya dengan kendali. Tentukan waktu tertentu untuk mengakses, berhenti mengikuti akun yang memicu tekanan, dan sadari bahwa apa yang terlihat di layar bukan gambaran utuh kehidupan seseorang.

3. Pisahkan Nilai Diri dari Pencapaian

Nilai diri tidak selalu ditentukan oleh prestasi, produktivitas, atau pengakuan publik. Menghargai diri sendiri atas usaha, proses, dan keberanian bertahan adalah langkah penting untuk kesehatan mental.

4. Bangun Rutinitas Kecil yang Menenangkan

Rutinitas sederhana seperti berjalan kaki tanpa gawai, menulis jurnal singkat, berdoa, atau sekadar duduk diam beberapa menit dapat membantu pikiran kembali berpijak pada saat ini.

5. Normalisasi Bicara dan Mencari Dukungan

Berbicara tentang kelelahan mental bukan tanda lemah. Dukungan bisa datang dari teman, keluarga, komunitas, atau ruang aman lainnya. Tidak semua beban harus ditanggung sendiri.

Hidup di era serba cepat memang tidak terelakkan. Namun, Gen Z berhak untuk hidup dengan pikiran yang lebih sehat dan napas yang lebih panjang. Melambat, memilih, dan menyadari batas diri bukan bentuk kekalahan, melainkan cara bertahan dengan utuh. Di tengah dunia yang terus berlari, berhenti sejenak bisa menjadi keputusan paling berani.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Satgas Saber Pangan Sidak Pasar Koja Baru, Ini Sejumlah Temuannya
• 9 jam laluidxchannel.com
thumb
Mendagri Terbitkan SE, Minta Pemda Dukung Pelaksanaan Gerakan Indonesia Asri
• 4 jam lalukompas.com
thumb
Temukan Tempat Hiburan "Bandel" Saat Ramadan? Segera Hubungi 110, Polda Metro Jaya: Ormas Dilarang Sweeping
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
Kronologi Jatuhnya Pesawat Pelita Air di Kalimantan Utara
• 5 jam lalutvrinews.com
thumb
Pemerintah kaji riset sawit berkelanjutan kolaborasi kampus-industri
• 7 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.