Bisnis.com, JAKARTA —Tak seperti penerbitan sebelumnya, Obligasi Negara Ritel seri ORI029 yang ditawarkan pada awal tahun ini tampak sepi peminat. Hingga H-1 batas akhir penawaran, kuota penjualan ORI029 masih tersisa lebih dari Rp10 triliun dan penawaran akan ditutup pada hari ini.
Berdasarkan data PT Bibit Tumbuh Bersama (Bibit) pada Rabu (18/2/2026) pukul 12.43 WIB, penjualan ORI029 secara total masih tersisa Rp12,22 triliun. Padahal, tenggat penawaran akan jatuh pada hari ini, Kamis (19/2/2026).
Diperinci, ORI029-T3 masih tersisa sekitar 35,4% atau setara dengan Rp5,31 triliun dan ORI029-T6 masih tersisa 69,1% atau Rp6,91 triliun. Dengan kata lain, dari total Rp25 triliun target dana terhimpun dari penerbitan ORI029, produk ini baru terjual 51,12% dari target.
Sebagai informasi, ORI029-T3 menawarkan kupon 5,45% untuk tenor 3 tahun dan ORI029-T6 membanderol kupon 5,8% untuk tenor 5 tahun.
Tingkat kupon itu memiliki spread yang tipis dibandingkan dengan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate yang saat ini bertengger di posisi 4,75%. Kupon ORI029 juga tak jauh berbeda dengan yield SUN benchmark.
Data Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) menunjukkan bahwa yield obligasi bertenor 10 tahun telah berada di level 6,39%. Terhadap tenor 3 tahun, investor meminta yield sebesar 5,41% dan 5,97% terhadap tenor 6 tahun.
Head of Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto, menilai ketegangan geopolitik antara AS—Iran membuat investor meminta imbal hasil yang lebih atas ketidakpastian yang terjadi saat ini.
”Ketegangan geopolitik ini kan menyebabkan ketidakpastian meningkat. Kalau saya lihat juga, ritel akhirnya wait and see untuk masuk,” katanya kepada Bisnis, Senin (16/2/2026).
Hanya saja, peluang terserap penuh ORI029 dinilai kecil, meskipun kondisi makroekonomi dalam negeri dinilai tengah dalam fase yang solid. Ramdhan memprediksi penawaran ORI029 masih akan tersisa 10% di bawah target.
Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana, menerangkan, kombinasi ketegangan geopolitik yang kian tidak menentu dan daya beli masyarakat dalam negeri yang lesu, membuat serapan pasar terhadap produk ini kian terbatas.
Laporan Mandiri Institute, misalnya, mengungkapkan populasi kelas menengah di Indonesia mengalami kontraksi signifikan pada 2025, yang mana sebanyak 1,2 juta masyarakat terlempar dari kategori ini dan turun ke level ekonomi yang lebih rendah.
”Hal yang juga perlu dilihat adalah daya beli masyarakat ya. Harusnya ORI atau SBN Ritel ditujukan untuk investor individu dalam negeri, yang biasanya menjadi target market-nya kan kelas menengah ya. Pada saat yang sama kita lihat kelas menengah kita jumlahnya makin berkurang juga,” katanya kepada Bisnis, Senin (16/2/2026).
Fikri menilai, hal ini perlu menjadi perhatian utama pengurus negara. Sebabnya, pendanaan melalui SBN Ritel hanya dapat diakses melalui investor individu, dengan besaran yang terbatas. Dengan begitu, menurunnya kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pokok, bakal segera memberikan dampak terhadap serapan instrumen investasi ini.
”Jadi tidak hanya kondisi global saja. Saya pikir ini [menurunnya kelas menengah] perlu diwaspadai dan saya pikir ini hal utama karena memang daya beli masyarakat,” katanya.
Selain tantangan dari kondisi daya beli masyarakat, Fikri menilai kondisi geopolitik antara AS—Iran membuat investor meminta risk premi yang lebih besar, sehingga ORI029 dengan tenor 5,45%—5,80% memiliki spread yang cukup berjarak dengan yield acuan saat ini sebesar 6,4%.
Terlebih, emas sebagai safe haven tengah mengalami reli yang cukup signifikan belakangan. Investor dinilai lebih memilih instrumen investasi logam mulia itu lantaran imbal hasil yang cukup besar, dengan jaminan keamanan berinvestasi.
”Mungkin investor juga melihat bahwa ada instrumen investasi yang cukup menarik dan bebas risiko juga, bentuknya emas. Bahkan return-nya lebih tinggi dibandingkan ORI atau SBN sendiri,” katanya.
menilai dalam sisa waktu penjualan peluang penyerapan ORI029 masih dapat berasal dari aksi reinvestasi investor di pasar SBN. Namun, kontribusi tersebut dinilai tidak cukup signifikan untuk menyerap seluruh sisa penerbitan.
Data BRI Danareksa Sekuritas menunjukkan sedikitnya terdapat empat Surat Utang Negara (SUN) yang jatuh tempo pada Februari 2026 dengan total Rp46,85 triliun. Kendati demikian, tidak terdapat produk SBN Ritel yang jatuh tempo pada periode tersebut.
”Hari Rabu akan ada lelang SUN juga. Mungkin investor juga melihat ini [lelang SUN] lebih menarik,” kata Fikri, Senin (16/2/2026).





