Jakarta, CNBC Indonesia - Kabar baik datang ke sektor minyak sawit atau Crude Palm Oil (CPO) seiring tarif impor ke Amerika Serikat (AS) jadi nol persen.
Penurunan tarif ini merupakan hasil negosiasi antara pemerintah Indonesia dan AS, termasuk pembicaraan langsung antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump.
Pemerintah memastikan tarif impor AS untuk produk Indonesia resmi turun menjadi 19%, dari sebelumnya 32% yang sempat diberlakukan pada awal 2025.
Dalam kesepakatan tersebut, sejumlah komoditas utama Indonesia seperti sawit, kopi, dan kakao mendapat tarif 0% (bebas bea masuk) ke pasar AS. Sebagai timbal balik, Indonesia juga membebaskan bea masuk untuk sebagian besar produk asal AS.
Kemenko Perekonomian menyatakan proses negosiasi sudah selesai secara substansi dan tahap harmonisasi hukum juga telah dirampungkan.
Kesepakatan ini diharapkan dapat memperkuat perdagangan kedua negara dan meningkatkan daya saing ekspor Indonesia ke pasar AS.
Saham CPO Diramal Bangkit LagiSaham CPO selama ini geraknya jauh tertinggal dibandingkan sektor lain. Secara teknikal masih banyak yang bertahan dalam tren sideways, bagi trader pergerakan ini cenderung membosankan.
Sebagaimana terlihat pada tabel di bawah ini, tren sideways tercermin dari pergerakan selama sebulan yang mayoritas terbatas, seperti saham BWPT, LSIP, TAPG yang penguatan-nya kurang dari 1%.
Meski begitu, BWPT pada kemarin Rabu (18/2/2026) geraknya sudah cukup moncer sampai 10%, diikuti saham GZCO naik kisaran 9%, dan saham JARR naik 5%nan.
Gerak saham CPO yang mulai bergerak positif secara harian memberikan sinyal positif terkait sentimen bebas tarif impor AS, hal ini menjadi peluang bagi produsen minyak sawit untuk menambah porsi ekspor ke negeri Paman Sam.
Selain itu, permintan dalam negeri diproyeksi juga akan meningkat seiring dengan seasonality Ramadan yang datang lebih cepat tahun ini.
Pada Kamis hari ini a(19/1/2026) pemerintah melalui Kementerian Agama secara resmi menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah. Sementara itu, Muhammadiyah sudah mengumumkan puasa sehari lebih awal.
Momentum Ramadan akan menjadi katalis bagi permintaan produk CPO dan turunan-nya. Harapannya, hal ini akan mengimplikasi pendapatan dan laba tumbuh lebih positif pada kuartal I/2026.
Sebagian saham emiten sawit juga masih ada yang mencatat valuasi murah, sebagaimana terlihat di bawah ini. Biasanya saham-saham dengan valuasi murah menarik untuk dikoleksi secara bertahap, terutama jika fundamental perusahaan tetap solid dan prospek industrinya membaik.
Valuasi yang berada di bawah rata-rata historis (misalnya PBV di bawah rata-rata 5 tahun) sering kali mencerminkan harga yang belum sepenuhnya merefleksikan potensi kinerja ke depan.
Tapi...masih ada tantangan
Namun demikian, investor tetap perlu mencermati faktor pendukungnya, seperti pergerakan harga CPO global, kebijakan biodiesel (B40/B50), dinamika ekspor, hingga kondisi neraca dan arus kas masing-masing emiten.
Dengan kata lain, valuasi murah bisa menjadi peluang, tetapi tetap harus dikombinasikan dengan analisis fundamental dan sentimen sektor agar keputusan investasi lebih terukur.
Sebut saja untuk perkembangan harga komoditas sawit terkini masih dalam tren sideways jangka menengah ke panjang, sementara dalam jangka pendek cenderung turun.
Selama setahun terakhir harga komoditas CPO di bursa Malaysia sudah turun kisaran 11% ke posisi MYR 4.001 per ton.
Tantangan juga masih datang dari pungutan ekspor CPO yang naik dari 10% menjadi 12,5% per Maret 2026 mendatang. Pemerintah juga menaikkan pungutan pada produk turunan CPO lainnya sebanyak 2,5%.
Jadi, di satu sisi untuk ekspor ke AS memang tarif 0%, tetapi pemerintah menetapkan kenaikan bea keluar juga. Di sini perusahaan harus menyeimbangkan porsi ekspor dan pemenuhan domestik yang optimal, supaya bisa menekan biaya pungutan tersebut.
Di sisi lain, mandatory kebijakan B50 juga ditunda pada tahun ini, sebenarnya hal ini masuk akal, karena harga minyak mentah masih jauh lebih murah, jadi untuk keamanan energi nasional, pemerintah sudah bijak.
Namun, dalam jangka pendek, ini akan membuat berpotensi mengurangi tambahan permintaan yang sudah diekspektasikan dari tahun sebelumnya.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(saw/saw)




