Jakarta (ANTARA) - Dompet Dhuafa membangun meunasah atau pusat komunitas, ibadah, dan pendidikan agama setingkat gampong (desa) di Blang Awe, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Rabu (18/2) untuk menghidupkan suasana tarawih pascabencana dalam Ramadhan 1447 H.
Meunasah Al-Hijra dibangun untuk membantu masyarakat Pidie Jaya menjalani bulan Ramadhan dengan penuh kebangkitan dan harapan, mengingat bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah itu pada akhir 2025 telah merusak berbagai fasilitas umum, termasuk tempat ibadah.
"Pembangunan Meunasah ini bukan sekadar mendirikan struktur bangunan, melainkan simbol tegaknya kembali ukhuwah dan semangat gotong royong kita," kata Wakil Ketua Yayasan Dompet Dhuafa Herdiansah dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
"Kita bangun rumah ibadah ini sebagai tempat suci yang akan merekatkan kembali hati yang sempat terkoyak bencana. Mari kita jaga harmoni ini karena Meunasah ini adalah milik bersama, dari kita dan untuk kita semua," demikian ditambahkan.
Proses pembangunan Meunasah Al-Hijra yang memakan waktu dan melibatkan banyak pihak, menunjukkan komitmen kuat untuk membantu masyarakat bangkit dari keterpurukan.
Kehadiran Meunasah Al-Hijra juga diharapkan dapat menjadi pusat kegiatan positif lainnya bagi masyarakat, seperti pengajian, pendidikan agama untuk anak-anak, dan berbagai pertemuan komunitas. Ini adalah langkah maju yang signifikan dalam upaya pemulihan pascabencana tidak hanya dari sisi fisik, tetapi juga spiritual dan sosial.
Pembangunan Meunasah Al-Hijra adalah salah satu wujud nyata komitmen berbagai pihak, termasuk Dompet Dhuafa untuk terus hadir mendampingi para penyintas bencana, yang menunjukkan bahwa solidaritas dan kepedulian dapat membawa perubahan besar dalam kehidupan sesama.
Dengan semangat Ramadhan, masyarakat di Blang Awe pun memulai ibadah tarawih perdana mereka di Meunasah Al-Hijra dengan lebih tenang.
Baca juga: Dompet Dhuafa dukung pemkab pulihkan Polindes di wilayah banjir Aceh
Baca juga: Dompet Dhuafa bangun 1.000 Rumtara untuk penyintas bencana Sumatera
Meunasah Al-Hijra dibangun untuk membantu masyarakat Pidie Jaya menjalani bulan Ramadhan dengan penuh kebangkitan dan harapan, mengingat bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah itu pada akhir 2025 telah merusak berbagai fasilitas umum, termasuk tempat ibadah.
"Pembangunan Meunasah ini bukan sekadar mendirikan struktur bangunan, melainkan simbol tegaknya kembali ukhuwah dan semangat gotong royong kita," kata Wakil Ketua Yayasan Dompet Dhuafa Herdiansah dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
"Kita bangun rumah ibadah ini sebagai tempat suci yang akan merekatkan kembali hati yang sempat terkoyak bencana. Mari kita jaga harmoni ini karena Meunasah ini adalah milik bersama, dari kita dan untuk kita semua," demikian ditambahkan.
Proses pembangunan Meunasah Al-Hijra yang memakan waktu dan melibatkan banyak pihak, menunjukkan komitmen kuat untuk membantu masyarakat bangkit dari keterpurukan.
Kehadiran Meunasah Al-Hijra juga diharapkan dapat menjadi pusat kegiatan positif lainnya bagi masyarakat, seperti pengajian, pendidikan agama untuk anak-anak, dan berbagai pertemuan komunitas. Ini adalah langkah maju yang signifikan dalam upaya pemulihan pascabencana tidak hanya dari sisi fisik, tetapi juga spiritual dan sosial.
Pembangunan Meunasah Al-Hijra adalah salah satu wujud nyata komitmen berbagai pihak, termasuk Dompet Dhuafa untuk terus hadir mendampingi para penyintas bencana, yang menunjukkan bahwa solidaritas dan kepedulian dapat membawa perubahan besar dalam kehidupan sesama.
Dengan semangat Ramadhan, masyarakat di Blang Awe pun memulai ibadah tarawih perdana mereka di Meunasah Al-Hijra dengan lebih tenang.
Baca juga: Dompet Dhuafa dukung pemkab pulihkan Polindes di wilayah banjir Aceh
Baca juga: Dompet Dhuafa bangun 1.000 Rumtara untuk penyintas bencana Sumatera





