Ramadhan dan Momentum Akselerasi Ekonomi Nasional

detik.com
3 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Bulan Ramadhan selalu menghadirkan ruang refleksi yang khas dalam kehidupan bangsa. Ia bukan sekadar momentum spiritual, melainkan juga fase sosial-ekonomi yang sarat makna. Dalam tradisi masyarakat Indonesia, Ramadhan menghadirkan dinamika konsumsi, mobilitas, solidaritas sosial, hingga peningkatan aktivitas ekonomi berbasis komunitas. Karena itu, memandang Ramadhan hanya sebagai periode perlambatan produktivitas adalah cara pandang yang terlalu sempit. Justru sebaliknya, dengan pengelolaan yang tepat, bulan suci ini dapat menjadi akselerator pertumbuhan ekonomi nasional.

Pengalaman berbagai tahun sebelumnya menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi selama Ramadhan dan Idulfitri mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang signifikan. Sektor perdagangan, transportasi, pariwisata domestik, industri makanan-minuman, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), hingga ekonomi kreatif mengalami peningkatan permintaan. Fenomena ini memperlihatkan bahwa konsumsi masyarakat bukan sekadar aktivitas belanja, melainkan bagian dari siklus ekonomi yang menggerakkan produksi, distribusi, pertumbuhan ekonomi, dan penciptaan lapangan kerja.

Data resmi yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa fondasi ekonomi Indonesia saat ini masih kuat. Badan Pusat Statistik mencatat perekonomian Indonesia sepanjang 2025 tumbuh 5,11 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 2024 sebesar 5,03 persen, dengan nilai PDB mencapai Rp23.821,1 triliun dan PDB per kapita sekitar Rp83,7 juta. Angka ini bukan sekadar statistik; ia menggambarkan bahwa mesin produksi nasional tetap bergerak dan permintaan domestik tetap terjaga. Bahkan pada triwulan IV-2025, ekonomi tumbuh 5,39 persen (y-on-y) yang menjadi indikator bahwa momentum pertumbuhan tetap kuat menjelang tahun berikutnya.

Dalam perspektif kebijakan publik, momentum Ramadhan perlu dibaca sebagai peluang strategis. Ketika daya beli masyarakat terjaga, inflasi terkendali, dan distribusi barang berjalan lancar, maka aktivitas ekonomi musiman dapat berubah menjadi dorongan pertumbuhan yang nyata. Stabilitas harga dan kelancaran pasokan menjadi faktor kunci agar peningkatan konsumsi tidak berubah menjadi tekanan inflasi yang merugikan masyarakat, terutama kelompok berpendapatan rendah.

Karena itu, langkah pemerintah menjaga stabilitas ekonomi patut diapresiasi. Sepanjang periode terakhir, ketahanan ekonomi nasional tetap terjaga di tengah ketidakpastian global. Stabilitas ini bukan hanya tercermin pada angka pertumbuhan, tetapi juga pada kemampuan negara menjaga inflasi, memperkuat jaring pengaman sosial, serta memastikan roda ekonomi tetap berputar hingga ke daerah.

Pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto telah berhasil menjaga tingkat inflasi tetap terkendali yang menjadi salah satu faktor penopang daya beli masyarakat. Per Desember 2025, inflasi tahunan tercatat sebesar 2,92 persen, masih berada dalam rentang target pemerintah dan Bank Indonesia (BI) yaitu sebesar 2,5±1 persen. Kondisi harga yang stabil memberi ruang bagi konsumsi masyarakat untuk tumbuh tanpa tekanan biaya hidup yang berlebihan, sebuah faktor penting menjelang Ramadhan ketika aktivitas belanja meningkat.

Namun, optimisme tidak boleh membuat kita abai terhadap tantangan. Lingkungan global masih diwarnai ketidakpastian geopolitik, volatilitas harga komoditas, serta dinamika suku bunga internasional. Kondisi tersebut dapat memengaruhi arus investasi, stabilitas nilai tukar, dan juga biaya produksi domestik. Di sisi lain, tantangan dalam negeri juga tidak boleh dianggap ringan. Peningkatan produktivitas tenaga kerja, penguatan daya saing industri, serta pemerataan pembangunan antarwilayah masih menjadi pekerjaan bersama yang harus diselesaikan secara konsisten dan terukur.

Di sektor ketenagakerjaan, sinyal perbaikan juga terlihat sangat jelas. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Agustus 2025 tercatat 4,85 persen, turun dari 4,91 persen pada tahun sebelumnya, dengan jumlah pengangguran sekitar 7,46 juta orang. Penurunan ini menunjukkan pasar kerja mulai pulih dan sektor-sektor produktif kembali menyerap tenaga kerja, khususnya di sektor pertanian, industri pengolahan, serta akomodasi dan makan minum.

Di sinilah makna produktivitas Ramadhan menjadi relevan. Produktivitas tidak selalu identik dengan jam kerja panjang atau output fisik semata. Produktivitas juga berkaitan dengan efisiensi, kualitas kerja, disiplin, serta integritas. Nilai-nilai Ramadhan seperti pengendalian diri, kejujuran, empati sosial, dan semangat berbagi sesungguhnya merupakan fondasi etos kerja yang kuat. Jika nilai-nilai tersebut terinternalisasi dalam perilaku individu maupun institusi, maka produktivitas nasional justru berpotensi meningkat selama bulan suci.

Lebih jauh lagi, Ramadhan juga memperkuat ekonomi berbasis solidaritas. Zakat, infak, sedekah, serta berbagai bentuk filantropi sosial meningkat signifikan pada periode ini. Aktivitas tersebut bukan hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga fungsi ekonomi yang nyata. Distribusi dana sosial kepada kelompok rentan dapat meningkatkan konsumsi masyarakat lapisan bawah, yang pada gilirannya menggerakkan sektor UMKM. Ekonomi berbasis kepedulian sosial ini merupakan ciri khas sistem ekonomi Indonesia yang berlandaskan nilai gotong royong dan kerja sama.

Pengalaman menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi yang kuat selalu bertumpu pada kualitas manusia. Investasi pada pendidikan, kesehatan, dan keterampilan menjadi faktor penentu produktivitas jangka panjang. Dalam konteks ini, kebijakan pemerintah yang menempatkan pembangunan manusia sebagai prioritas strategis patut mendapat apresiasi dan dukungan dari semua lapisan masyarakat. Anggaran pendidikan yang terus meningkat menunjukkan komitmen negara menjadikan sumber daya manusia sebagai fondasi kesejahteraan masa depan.

Keberhasilan pemerintah dalam membangun kualitas SDM Indonesia yang unggul terlihat jelas dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Indeks Pembangunan Manusia Indonesia pada tahun 2025 mencapai 75,90, meningkat dari 75,02 dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh naiknya harapan lama sekolah menjadi 13,30 tahun, rata-rata lama sekolah 9,07 tahun, serta umur harapan hidup 74,47 tahun. Dalam perspektif dan dimensi konsumsi, pengeluaran riil per kapita juga meningkat menjadi Rp12,8 juta per tahun. Semua indikator tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang telah berhasil dibangun pemerintah tidak hanya tercermin pada angka makro, tetapi juga pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Semua indikator tersebut sejalan dengan tujuan utama bulan suci Ramadhan. Ramadhan seharusnya menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak hanya soal angka statistik pertumbuhan di atas kertas, tetapi juga kualitas kehidupan masyarakat. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tanpa pemerataan tidak akan menghasilkan kesejahteraan yang berkelanjutan. Karena itu, strategi pembangunan nasional harus terus diarahkan pada penciptaan lapangan kerja, penguatan UMKM, peningkatan keterampilan tenaga kerja, serta perlindungan sosial yang adaptif terhadap risiko ekonomi baik yang risiko global maupun domestik.

Momentum Ramadhan tahun ini menjadi semakin penting karena bertepatan dengan fase konsolidasi ekonomi nasional menuju target pembangunan jangka panjang. Visi Indonesia Emas bukan sekadar slogan, melainkan agenda besar yang menuntut konsistensi kebijakan, stabilitas politik, serta kolaborasi seluruh elemen bangsa. Pemerintah telah menunjukkan langkah nyata melalui berbagai program strategis yang mendorong investasi, memperluas kesempatan kerja, meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan, serta memperkuat infrastruktur ekonomi. Upaya-upaya tersebut memberi sinyal bahwa arah pembangunan nasional bergerak pada jalur yang tepat.

Tentu saja, perjalanan menuju Indonesia Emas tidak bebas hambatan layaknya jalan tol. Tantangan struktural seperti ketimpangan produktivitas antarwilayah, transformasi ekonomi digital, serta adaptasi terhadap perubahan iklim memerlukan kebijakan yang responsif dan terintegrasi. Tetapi sejarah pembangunan bangsa ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki daya lenting yang kuat. Modal sosial berupa gotong royong, tepa salira, kerja sama, solidaritas, dan optimisme kolektif menjadi kekuatan yang tidak dimiliki banyak negara.

Optimisme inilah yang harus dirawat. Sebagaimana refleksi pembangunan menunjukkan, kesejahteraan masyarakat tidak dapat dibangun secara instan, melainkan memerlukan konsistensi kebijakan, ketahanan sosial, dan keberanian berinovasi. Konsistensi adalah kunci. Jika pemerintah terus menjaga ritme kebijakan yang pro-pertumbuhan sekaligus pro-kesejahteraan, maka target pembangunan jangka panjang bukanlah sesuatu yang mustahil dicapai.

Pada akhirnya, Ramadhan mengajarkan bahwa kemajuan sejati lahir dari keseimbangan antara spiritualitas dan produktivitas, antara pertumbuhan ekonomi dan keadilan sosial, antara ambisi pembangunan dan kepedulian kemanusiaan. Bulan suci ini bukan alasan untuk melambat, melainkan kesempatan untuk mempercepat langkah dengan cara yang lebih bijak, lebih efisien, dan lebih berorientasi pada kemaslahatan bersama.

Dengan memanfaatkan momentum Ramadhan secara optimal, menjaga stabilitas ekonomi, serta melanjutkan konsistensi kebijakan pembangunan, kita memiliki alasan kuat untuk percaya bahwa akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional bukan sekadar harapan. Ia adalah kemungkinan nyata yang semakin dekat di depan mata. Dan jika arah ini terus dijaga, maka cita-cita besar Indonesia Emas bukan lagi sekadar visi masa depan, melainkan tujuan yang kian terasa dalam jangkauan.

Dr. H. Cucun Ahmad Syamsurijal. Wakil Ketua DPR RI.




(gbr/gbr)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kalsel bahas penguatan tata kelola penerimaan siswa baru dalam rakor
• 7 jam laluantaranews.com
thumb
BRIN Soroti Risiko Kronis Usai Insiden Pencemaran Sungai Cisadane
• 19 jam laluliputan6.com
thumb
Korupsi adalah Produk Penjajahan Sistem City of London (2)
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Jadwal Imsakiyah Kabupaten Tangerang Kamis 19 Februari 2026
• 16 jam lalukompas.com
thumb
Viral Diludahi di Podcast, Fajar Sadboy Pilih Rendah Hati: Mungkin Salah Aku
• 22 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.