Selama ini masyarakat sudah paham jika makanan dan minuman manis mempunyai dampak buruk bagi kesehatan fisik, seperti diabetes, obesitas, dan jantung. Namun, hasil penelitian terbaru oleh tim dari Universitas Bournemouth menunjukkan dampaknya tak berhenti pada aspek itu saja.
Penelitian itu menunjukkan bahwa asupan makanan dan minuman manis juga berpotensi meningkatkan risiko kecemasan, khususnya pada remaja. Hal ini memperkuat pentingnya kewaspadaan dan pembatasan konsumsi pada makanan dan minuman manis.
Hasil studi tersebut telah diterbitkan di jurnal ilmiah Journal of Human Nutrition and Dietetics pada 18 Februari 2026. Penelitian dilakukan dengan menganalisis berbagai studi yang mengeksplorasi hubungan antara pola makan dan kesehatan mental.
Para peneliti menggabungkan data dari sejumlah studi observasional yang melibatkan remaja di berbagai negara. Hasilnya ditemukan bahwa ada pola yang konsisten antara konsumsi minuman manis dan peningkatan gejala kecemasan.
Dosen bidang nutrisi yang juga salah satu penulis studi tersebut, Chloe Casey, menyampaikan, masalah kesehatan mental masih kurang perhatian dalam riset terkait nutrisi. Selama ini riset terkait nutrisi remaja lebih banyak dikaitkan dengan masalah kesehatan fisik, seperti obesitas dan diabetes melitus tipe 2.
Padahal, pola makan dan masalah kesehatan mental mempunyai kaitan yang erat. “Implikasi kesehatan mental dari diet kurang dieksplorasi dibandingkan dengan masalah kesehatan fisik, terutama mengenai minuman yang padat energi tetapi rendah nutrisi,” tuturnya.
Remaja yang mengonsumsi minuman manis dalam jumlah tinggi ditemukan lebih sering mengalami kecemasan.
Dalam studi ini, peneliti meninjau konsumsi minuman manis pada remaja, antara lain soda berkarbonasi, minuman energi, jus manis, sirup buah, teh dan kopi manis, serta susu berperasa. Produk-produk tersebut mengandung gula dan kalori yang tinggi tetapi rendah nutrisi esensial.
Konsumsi produk itu secara rutin dalam jumlah besar ditemukan berisiko mengganggu keseimbangan kesehatan fisik dan psikologis remaja. Adapun remaja yang mengonsumsi minuman manis dalam jumlah tinggi ditemukan lebih sering mengalami kecemasan.
Adapun gejala tersebut meliputi antara lain rasa khawatir berlebihan, gelisah, serta kesulitan tidur. Gejala itu muncul dalam pola yang berulang. Penelitian ini pun dinilai penting mengingat tren gangguan kecemasan pada remaja dilaporkan terus meningkat.
Data global menunjukkan gangguan kecemasan menjadi masalah yang paling umum ditemukan di remaja. Pada 2023 diperkirakan satu dari lima anak dan remaja hidup dengan gangguan kesehatan mental. Kecemasan termasuk dalam kondisi yang paling sering dilaporkan.
Casey menyampaikan, kaitan antara konsumsi minuman manis dan gangguan kecemasan pada remaja memang belum dipastikan sebagai hubungan sebab akibat. Ada faktor lain yang perlu diperhatikan, antara lain kondisi keluarga, tekanan akademik, dan gangguan tidur.
Meski minuman manis dan gangguan kecemasan tidak terkait langsung, hubungan keduanya tetap perlu menjadi perhatian. “Gangguan kecemasan pada remaja telah meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Jadi penting untuk mengidentifikasi kebiasaan gaya hidup yang dapat diubah untuk mengurangi risiko berlanjutnya tren ini,” ucapnya.
Pada studi lain menunjukkan masalah depresi dan kecemasan bisa diatasi dengan meningkatkan aktivitas olahraga. Hal itu terutama melalui aktivitas yang bersifat aerobik, seperti berlari, berenang, ataupun menari.
Dalam studi yang diterbitkan di British Journal of Sport Medicine pada Februari 2026 itu disebutkan bahwa aktivitas kardio dapat meredakan gejala depresi dan kecemasan. Efek itu ditemukan di semua usia dengan manfaat yang paling signifikan pada usia dewasa muda dan ibu baru.
Studi itu bahkan menunjukkan manfaat olahraga bisa sama atau lebih dari terapi yang diberikan untuk mengatasi depresi. Meski begitu, dampak itu bisa berbeda-beda tergantung pada tingkat depresi dan kecemasan serta olahraga yang dilakukan.
“Mengingat olahraga relatif lebih mudah, mudah diakses, dan bisa sekaligus memberikan manfaat kesehatan fisik, studi ini bisa digunakan sebagai alternatif penanganan lini pertama untuk depresi dan kecemasan,” tulis para peneliti.
Olahraga pun bermanfaat untuk mencegah depresi. Setidaknya dengan mengganti satu jam menonton televisi dengan berolahraga bisa secara signifikan menurunkan risiko depresi berat, terutama pada usia lanjut. Hal itu diungkapkan dalam studi yang diterbitkan di European Psychiatry oleh Cambridge University Press pada Februari 2026.
Dari 65.000 orang usia dewasa yang diteliti selama empat tahun yang mengganti waktu 1 jam menonton TV untuk berolahraga ditemukan dapat mengurangi risiko depresi sebesar 11 persen. Manfaat itu ditemukan lebih tinggi pada usia lanjut yang mencapai 19 persen terkait penurunan risiko depresi.
Penulis utama studi tersebut, Roza Palazuelos-Gonzalez menyebutkan, manfaat pencegahan depresi bisa lebih besar didapatkan dengan meningkatkan aktivitas fisik daripada menonton televisi. Jika waktu menonton tv yang diganti dengan aktivitas fisik sekitar 90-120 menit, penurunan risiko depresi bisa mencapai 25,91 persen.
Perbaikan dalam risiko depresi paling mencolok terlihat pada orang dewasa usia menengah. Pada kelompok ini, mengganti satu jam waktu menonton televisi setiap hari dengan aktivitas lain menurunkan risiko depresi sebesar 18,78 persen.
“Dengan menggeser 90 menit, maka hal itu mengurangi kemungkinan depresi sebesar 29 persen, sementara mengganti dua jam menyebabkan penurunan sebesar 43 persen,” katanya.





