Garuda Indonesia kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan mutu penyelenggaraan ibadah haji melalui langkah yang cukup taktis. Maskapai pelat merah tersebut menyerahkan satu unit pesawat sebagai fasilitas manasik di Asrama Haji Kelas I Aceh. Hibah ini bukan sekadar "pajangan" atau penanda simbolis, melainkan difungsikan sebagai sarana praktik nyata bagi calon jemaah sebelum keberangkatan.
Peresmian sendiri dilakukan Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak, Minggu (15/2/2026). Hadir Direktur Utama Garuda Indonesia Glenny H. Kairupan, Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, serta Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah.
Pesawat yang dihibahkan merupakan Boeing 737 eks Citilink yang telah melalui proses perakitan ulang dan penyesuaian interior sehingga menyerupai kabin operasional aktif. Dengan konfigurasi tersebut, calon jemaah dapat melakukan simulasi langsung, mulai dari proses boarding, pengaturan dan penempatan bagasi kabin, penggunaan sabuk pengaman, hingga memahami prosedur standar selama penerbangan jarak jauh menuju Tanah Suci.
“Pesawat ini kami hadirkan agar jemaah merasakan suasana penerbangan haji. Saat hari keberangkatan tiba, mereka lebih tenang dan siap,” kata Dahnil dalam keterangan tertulis yang diterima Rabu, 18 Februari.
Momen Penyerahan Mock-U Pesawat Garuda (Foto: Istimewa)Langkah ini menjawab persoalan klasik yaitu kecemasan jemaah, terutama lansia, saat pertama kali menghadapi perjalanan udara panjang. Manasik tidak lagi berhenti pada teori rukun dan wajib haji, tetapi menyentuh aspek teknis perjalanan yang kerap menjadi sumber kekhawatiran.
Penempatan pesawat di Aceh juga memiliki nilai historis. Dari daerah ini lahir Garuda Indonesia melalui pesawat legendaris Seulawah RI-001 yang didukung rakyat Aceh. Hibah ini menjadi penghormatan atas kontribusi tersebut, sekaligus mengembalikan jejak sejarah ke tanah asalnya.
Di bawah kepemimpinan Glenny H. Kairupan, Garuda menegaskan perannya sebagai mitra strategis negara dalam ekosistem haji nasional. Sinergi pemerintah pusat, maskapai, dan daerah kini bergerak lebih konkret—mempersiapkan jemaah sejak dari embarkasi.
Dengan hadirnya fasilitas simulasi pesawat ini, pelaksanaan manasik di Aceh menjadi lebih komprehensif dan kontekstual. Calon jemaah tidak hanya dibekali pemahaman teoritis, tetapi juga pengalaman teknis yang relevan dengan situasi nyata perjalanan udara. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan rasa percaya diri serta kesiapan menyeluruh jemaah dalam menghadapi rangkaian ibadah haji, khususnya pada fase transportasi udara yang menjadi bagian krusial dari perjalanan menuju Tanah Suci.




