Penulis: Nirmala Hanifah
TVRINews, Banjarbaru
Di tepian Sungai Martapura, sejarah panjang peradaban Islam Banjar bermula dari seorang ulama besar yakni Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Sosok yang tak hanya dikenal sebagai pengajar agama, tetapi juga sebagai pembaru pendidikan Islam di Nusantara.
Syekh Arsyad dilahirkan di Lok Gabang, Martapura. Dalam sejumlah riwayat, ayahnya disebut memiliki garis keturunan dari Mindanao, Filipina. Hal ini pula yang membuat namanya dinisbatkan sebagai Al-Mindanawi.
Ketua MUI Kabupaten Banjar sekaligus zuriat Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Dr. KH. Muhammad Husein“Kelahiran Datu Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari ini beliau asli dilahirkan di Lok Gabang, Martapura. Sedangkan ayah beliau adalah seorang pendatang dari salah satu zuriat orang Mindanao. Makanya Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah bin Abu Bakar Al-Mindanawi,” kata Ketua MUI Kabupaten Banjar sekaligus zuriat Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Dr. KH. Muhammad Husein kepada tvrinews.com.
Ia juga menambahkan bahwa dokumentasi mengenai Syekh Arsyad bahkan ditemukan di Mindanao.
“Di dalam Museum Mindanao ada biografi tentang Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Mereka meyakini beliau adalah keturunan dari Mindanao,” ucapnya
Sejak kecil, kecerdasannya sudah terlihat. Dalam catatan sejarah, bakat melukisnya membuat pihak Kesultanan Banjar tertarik. Pada masa pemerintahan Sultan Tahmidullah II, ia kemudian dibawa ke lingkungan kerajaan untuk mendapatkan pendidikan lebih lanjut.
Hasrat menuntut ilmu membawa Syekh Arsyad berangkat ke Makkah pada usia sekitar 30 tahun. Ia menetap selama kurang lebih 30 tahun untuk memperdalam berbagai disiplin ilmu agama.
“Keinginan beliau untuk menuntut ilmu di tanah suci Makkah itu sangat besar sekali. Dengan kegigihan dan kecerdasan yang beliau miliki, kitab-kitab berlandaskan mazhab Imam Syafi’i beliau pelajari dengan sungguh-sungguh, terutama dalam bidang fikih,” imbuhnya
Tak hanya fikih, Syekh Arsyad juga dikenal sebagai ahli tafsir, qira’at, dan hadis. Sanad keilmuannya kemudian diwariskan kepada ulama-ulama Nusantara setelahnya.
Sepulang dari Makkah, Syekh Arsyad membuka pusat pengajaran di kawasan yang kini dikenal sebagai Dalam Pagar. Tempat itu awalnya adalah lahan belukar yang diberikan oleh Kesultanan Banjar.
“Setiba di negeri Banjar ini, beliau ingin meneruskan dakwah. Kerajaan Banjar memberikan sebidang tanah di pinggir sungai. Rumah itu dipagari sekelilingnya, dan para jemaah yang hadir mengatakan ingin pengajian ‘di dalam pagar’. Dari situlah nama itu dikenal,” ucapnya
Kini, kawasan tersebut berstatus sebagai Objek Diduga Cagar Budaya. Raudati Hildayati menyampaikan komitmen pelestariannya.
“Kawasan Dalam Pagar merupakan ODCB yang akan selalu kami lakukan penguatan melalui Tim Ahli Cagar Budaya untuk memberikan rekomendasi kepada pemerintah daerah,” bebernya
Karya monumental Syekh Arsyad adalah Sabilal Muhtadin, kitab fikih berbahasa Melayu yang menjadi rujukan luas di Asia Tenggara.
Guru Haji Ahmad Daudi bin Tuan Guru Irsyad Zein“Beliaulah salah satu ulama yang pertama kali menulis kitab fikih berbahasa Melayu dengan judul Kitab Sabilal Muhtadin Lit-tafaqquh Fi Amrid-din. Ini tulisan yang sangat fenomenal di kalangan masyarakat Kalimantan Selatan,” Guru Haji Ahmad Daudi bin Tuan Guru Irsyad Zein, salah satu zuriat Syekh Arsyad
Ia menambahkan bahwa penyebaran kitab tersebut melintasi batas wilayah.
“Kitab ini bukan saja diajarkan di Martapura dan Kabupaten Banjar, tetapi juga di Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand (Patani), bahkan di Filipina daerah Mindanao,” ucapnya
Upaya penulisan ulang kitab tersebut kini terus dilakukan agar lebih sistematis dan mudah dipelajari generasi masa kini.
Bagi para zuriatnya, keteladanan Syekh Arsyad adalah warisan terbesar.
“Kami sebagai zuriat sangat mengagumi sosok keteladanan beliau sebagai ulama yang mewariskan ilmu pengetahuan agama kepada masyarakat Kalimantan Selatan, bahkan Nusantara,” tutur Dr. KH. Muhammad Husein.
Lebih dari tiga abad berlalu, nama Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari tetap hidup dalam tradisi keagamaan masyarakat Banjar. Dari Lok Gabang hingga Makkah, dari Dalam Pagar hingga Asia Tenggara, cahaya ilmunya terus menyinari zaman.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kalimantan Selatan, Raudati Hildayati, menegaskan bahwa Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari memiliki pengaruh yang besar bagi masyarakat Banjar.
“Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari merupakan ulama besar yang sangat berpengaruh di Provinsi Kalimantan Selatan. Beliau sering disebut sebagai matahari dari Bumi Banjar. Karena melalui keilmuan beliau menjadi sumber utama pencerahan bagi masyarakat Banjar, khususnya di bidang keagamaan dan sosial bermasyarakat,” ujarnya
Editor: Redaktur TVRINews





