Warga penyintas banjir bandang di Aceh Tamiang menjalani sahur perdana Ramadan 1447 H di hunian darurat pengungsi Desa Bundar, Karang Baru, Kamis (19/2). Sekitar 23 kepala keluarga yang masih bertahan di lokasi tersebut menyiapkan santap sahur secara mandiri dan sederhana demi menjalankan ibadah puasa.
Dikutip dari Antara, di tengah keterbatasan, sebagian warga bahkan mencoba mendulang rezeki. Di kawasan pengungsian Dusun Bahagia, Desa Bundar, seorang pengungsi bernama Siti Hasanah (59), yang akrab disapa Nur Lamek, membuka warung makan kecil untuk melayani praja IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri) yang bertugas di lokasi tersebut.
“Sahur pertama di pengungsian saya memang semangat. Cepat saya bangun, jam setengah dua. (Anak saya) tanya, mau ngapain? Saya mau masak untuk anak-anak IPDN,” ujar Siti Hasanah.
Nur Lamek mengaku bangun sejak pukul 01.30 WIB untuk menyiapkan menu sahur. Ia memasak berbagai hidangan seperti ayam goreng, sop sayur, rendang, mi instan, telur dadar, hingga nasi goreng. Setiap porsi dijual seharga Rp 15 ribu, khusus untuk praja IPDN yang mengabdi di sana sebesar Rp 13 ribu.
Dengan peralatan seadanya dan penerangan lampu darurat, ia tetap memasak dengan penuh semangat. Wajan yang digunakan masih menyisakan bekas lumpur banjir di bagian luar, sementara kompor dan perlengkapan lainnya diperoleh dari bantuan dan tempatnya bekerja.
Meski suasana sahur kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, Nur Lamek mengaku tetap bersyukur. Baginya, perbedaan hanya soal tempat, sementara semangat menjalani Ramadan tetap sama meski dalam kondisi musibah.





