Saham-saham tambang emas kompak menguat pada perdagangan Kamis (19/2/2026), seiring sentimen positif harga komoditas.
IDXChannel – Saham-saham tambang emas kompak menguat pada perdagangan Kamis (19/2/2026), seiring sentimen positif harga komoditas dan meningkatnya minat beli investor terhadap aset berbasis logam mulia.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), 11.27 WIB, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) melonjak 8,21 persen ke level Rp3.560 per unit. Volume transaksi tercatat 110,1 juta saham dengan nilai transaksi mencapai Rp389,2 miliar.
Penguatan juga terjadi pada PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) yang naik 4,23 persen ke Rp2.710 per unit, serta PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM) yang menguat 3,46 persen ke Rp4.190 unit.
Sementara itu, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) bertambah 3,37 persen ke Rp1.075 unit dan PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) naik 2,80 persen ke Rp550 per unit.
Di luar itu, saham PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) menguat 2,36 persen, diikuti PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) yang naik 1,95 persen, serta PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang terapresiasi 0,66 persen.
Sementara, harga emas menguat tipis pada awal perdagangan Asia, seiring meningkatnya risiko konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berpotensi memperkuat daya tarik logam mulia sebagai aset safe haven.
Tim analis InTouch Capital Markets dalam komentarnya menyebut, dikutip Dow Jones Newswires, kekhawatiran terhadap potensi perang AS-Iran kembali memanas.
Mereka mengutip laporan media yang menyebut pemerintahan Trump dinilai semakin dekat pada konflik dengan Iran, seiring peluang tercapainya kesepakatan yang kian menjauh, serta kemungkinan operasi gabungan dengan Israel.
Emas spot tercatat naik 0,2 persen ke USD4.986,05 per troy ons.
Pelaku pasar juga mencermati risalah terbaru FOMC dan menyesuaikan kembali ekspektasi terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat.
Risalah tersebut menunjukkan adanya perbedaan pandangan di antara para peserta rapat.
Sebagian membuka ruang pemangkasan suku bunga jika disinflasi berlanjut, sementara lainnya cenderung mempertahankan atau bahkan memperketat kebijakan jika inflasi terbukti tetap persisten.
Menurut Trading Economics, Gubernur The Fed Michael Barr condong mempertahankan suku bunga dalam beberapa waktu ke depan, sedangkan Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee menyatakan pemangkasan suku bunga masih mungkin dilakukan di kemudian hari jika data ekonomi mendukung.
Meski The Fed mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,5 persen–3,75 persen dan memberi sinyal bahwa kemajuan menuju target 2 persen bisa lebih lambat dan tidak merata, pasar tetap memproyeksikan jalur kebijakan yang bergantung pada data.
Dengan pendekatan tersebut, pelaku pasar masih melihat ruang pelonggaran pada akhir tahun ini.
Ketidakjelasan arah kebijakan tersebut menjaga daya tarik emas sebagai lindung nilai terhadap potensi kesalahan kebijakan dan ketidakpastian makro, meskipun sentimen risiko di pasar saham membaik dan negosiasi geopolitik yang terus berlangsung meredam urgensi arus ke aset aman. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.





