Indonesia dan Amerika Serikat (AS) telah menandatangani kesepakatan senilai lebih dari USD 7 miliar atau sekitar Rp 118,5 triliun (kurs Rp 16.928) pada Rabu (18/2), sehari sebelum pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump untuk menandatangani pakta dagang final, seperti dikonfirmasi oleh U.S.-ASEAN Business Council.
Lembar fakta USABC mengungkapkan kesepakatan yang ditandatangani dalam jamuan makan malam untuk Prabowo yang diselenggarakan oleh U.S. Chamber of Commerce (Kadin AS) itu mencakup pembelian oleh perusahaan Indonesia atas 1 juta ton metrik kedelai AS, 1,6 juta ton jagung, dan 93 ribu ton kapas dalam periode yang tidak disebutkan. Selain itu, Indonesia dikabarkan akan membeli 1 juta ton gandum tahun ini dan hingga 5 juta ton pada 2030.
Kesepakatan juga mencakup nota kesepahaman antara perusahaan tambang AS Freeport-McMoRan dan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Indonesia untuk kerja sama mineral kritis, serta perjanjian antara produsen minyak negara Pertamina dan Halliburton untuk kerja sama pemulihan ladang minyak.
CEO Freeport-McMoRan, Richard Adkerson, menyatakan pihaknya bersama Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM menandatangani kesepakatan awal untuk memperpanjang izin tambang melampaui 2041.
“(Kesepakatan) ini adalah perpanjangan umur sumber daya, dan kami tidak sabar untuk melakukan pengeboran delineasi guna mengetahui seperti apa tubuh bijih itu selama beberapa dekade mendatang,” kata Richard, dikutip dari Reuters, Kamis (19/2).
Kesepakatan tersebut juga mencakup dua perjanjian joint venture semikonduktor, termasuk satu senilai USD 4,89 miliar antara Essence Global Group dan mitra Indonesia, serta satu lagi tanpa nilai yang diungkapkan yang melibatkan Tynergy Technology Group.
USABC menilai, pembelian kedelai Indonesia mencapai USD 685 juta, gandum USD 1,25 miliar, kapas USD 122 juta, serta tambahan pembelian pakaian bekas cacah dari AS untuk didaur ulang senilai USD 200 juta.
Data perdagangan U.S Census Bureau mencatat dalam satu dekade dari 2015 hingga 2024, Indonesia rata-rata mengimpor 2,3 juta ton metrik kedelai AS per tahun, hampir 800 ribu ton gandum, sekitar 180 ribu ton kapas, dan kurang dari 100 rubu ton jagung. Sehingga, Indonesia tercatat dalam beberapa tahun terakhir telah mengimpor sekitar 3 miliar dolar AS produk pertanian AS setiap tahun, menjadikannya pasar terbesar ke-11 bagi seluruh komoditas pertanian AS.
Meski demikian, tidak semua nilai transaksi kesepakatan diungkap, termasuk pembelian produk kayu dan furnitur AS oleh Indonesia. Indonesia pada Juli mengumumkan serangkaian kesepakatan bisnis dengan AS senilai USD 34 miliar sebagai bagian dari negosiasi tarifnya, termasuk kesepakatan impor gandum dan kedelai yang mirip dengan yang ditandatangani pada Rabu (18/2).
Prabowo mengatakan dalam jamuan tersebut bahwa kesepakatan itu merupakan bagian dari perjanjian implementasi atas kesepakatan dagang Indonesia–AS yang akan ia tandatangani pada Kamis (19/2) bersama Trump. Ia mengatakan kesepakatan tersebut akan membantu mengurangi surplus perdagangan Indonesia terhadap AS.
“Saya sangat optimistis mengenai masa depan hubungan kita,” tambah Prabowo.
Kepala negara Indonesia ini tiba di Washington pekan ini untuk menghadiri pertemuan Board of Peace Trump, dengan harapan Indonesia bisa memperoleh sedikit penurunan tarif menjadi 18 persen dari 19 persenyang disepakati tahun lalu. Angka itu akan menyamai tarif yang diberikan Trump kepada India pada awal Februari.
Wakil Perwakilan Dagang AS, Rick Switzer, tidak mengungkapkan besaran tarif final untuk Indonesia saat memberikan sambutan dalam jamuan makan malam. Namun, ia menegaskan Agreement on Reciprocal Trade antara kedua negara akan memperkuat hubungan ekonomi dan perdagangan bilateral.
“(Perjanjian tersebut) akan berarti lebih banyak perdagangan, perdagangan bilateral. Ini akan berarti lebih banyak investasi. Ini akan menghasilkan hubungan ekonomi, investasi, dan perdagangan yang lebih dalam serta lebih komprehensif,” ucap Rick.





