Rajab sering diibaratkan sebagai bulan menanam, Sya'ban bulan menyiram, dan Ramadan bulan memanen. Di Indonesia, panen itu tidak hanya terasa secara spiritual, tetapi juga secara ekonomi. Ramadan menjadi momentum ketika konsumsi melonjak, uang beredar cepat, dan aktivitas usaha rakyat mencapai puncaknya.
Setiap Ramadan tiba, suasana ekonomi Indonesia ikut berubah. Pasar makin ramai, pedagang takjil bermunculan di setiap sudut jalan, aplikasi belanja penuh promo, dan jutaan orang bersiap mudik.
Tanpa kita sadari, Ramadan bukan hanya bulan ibadah. Ia adalah mesin ekonomi kolektif terbesar yang dimiliki Indonesia.
Fenomena ini bisa disebut sebagai Ramadan-nomics: siklus tahunan ketika konsumsi meningkat, uang beredar lebih cepat, dan kekayaan terdistribusi ulang secara alami melalui zakat, infak, sedekah, serta tradisi mudik.
Berbeda dengan banyak negara yang harus menyusun paket stimulus rumit untuk menggerakkan ekonomi, Indonesia memiliki “stimulus alami” yang datang setiap tahun, tepat waktu.
Ketika Uang Bergerak BersamaanRamadan mengubah perilaku belanja masyarakat. Pengeluaran rumah tangga meningkat untuk kebutuhan pangan, pakaian, perjalanan, hingga berbagi kepada sesama. Tunjangan Hari Raya (THR) ikut mempercepat perputaran uang.
Pada Ramadan 2025, Bank Indonesia mencatat kebutuhan uang kartal nasional mencapai Rp160,3 triliun. Angka ini menegaskan bahwa dalam waktu singkat, triliunan rupiah masuk ke sirkulasi ekonomi domestik.
Inilah yang membuat Ramadan bekerja seperti “penyangga otomatis” ekonomi. Saat dunia sedang dilanda ketidakpastian global, konsumsi masyarakat Indonesia justru bergerak serempak. Warung kecil, UMKM kuliner, jasa transportasi, hingga pedagang musiman ikut menikmati dampaknya.
Di berbagai daerah, lonjakan aktivitas ekonomi ini terasa nyata sejak sore hari menjelang berbuka hingga dini hari. Lapak takjil, pedagang pakaian, pengemudi ojek daring, hingga UMKM rumahan mengalami peningkatan transaksi yang signifikan. Bahkan, sektor informal yang biasanya luput dari statistik resmi ikut terdorong, mulai dari jasa parkir hingga penjual es keliling.
Perputaran uang yang terjadi tidak hanya terkonsentrasi di pusat perbelanjaan modern, tetapi juga menghidupkan pasar tradisional dan lingkungan permukiman. Inilah bentuk ekonomi kerakyatan yang bergerak spontan, di mana pertumbuhan tidak datang dari investasi besar, tetapi dari jutaan transaksi kecil yang terjadi serentak.
Zakat dan Mudik: Jalur Redistribusi Unik IndonesiaKeunikan Ramadan-nomics tidak hanya terletak pada konsumsi, tetapi juga pada cara uang berpindah tangan.
Melalui zakat, infak, dan sedekah, dana mengalir langsung dari kelompok mampu ke masyarakat lapis bawah. Karena penerima manfaat biasanya segera membelanjakan uang tersebut, efeknya terasa cepat di pasar lokal. Pedagang sembako, tukang sayur, hingga usaha rumahan ikut merasakan perputaran ini.
Tradisi mudik memperkuat proses tersebut. Pada Lebaran 2025, Kementerian Perhubungan menyebutkan lebih dari 154,6 juta orang melakukan perjalanan pulang kampung. Bersama mereka, uang ikut berpindah dari kota besar ke daerah.
Desa yang biasanya sepi mendadak ramai. Warung penuh pembeli, transportasi lokal hidup, jasa informal bermunculan. Mudik menjadi bentuk desentralisasi ekonomi paling efektif di Indonesia, tanpa perlu program pemerintah yang kompleks.
Lebih dari sekadar perputaran uang, Ramadan juga menciptakan efek psikologis kolektif. Ada dorongan moral untuk berbagi, membeli dari pedagang kecil, dan membantu sesama. Banyak UMKM musiman menggantungkan pendapatan tahunannya pada periode ini. Artinya, Ramadan bukan hanya menggerakkan konsumsi, melainkan juga membuka peluang mobilitas ekonomi, meski sifatnya masih temporer.
Tantangan di Balik EuforiaNamun, Ramadan-nomics juga punya sisi gelap karena lonjakan belanja berisiko “bocor” ke luar negeri jika masyarakat lebih banyak membeli produk impor, terutama lewat digital platform. Jika ini terjadi, uang yang seharusnya berputar di dalam negeri justru mengalir ke produsen asing.
Masalah lain adalah inflasi. Setiap Ramadan, harga pangan dan ongkos transportasi cenderung naik. Tanpa pengelolaan distribusi yang baik, kenaikan ini bisa menggerus daya beli masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah.
Karena itu, keberhasilan Ramadan sebagai momentum ekonomi sangat bergantung pada peran pemerintah. Stabilitas harga, kelancaran pasokan, serta perlindungan UMKM lokal menjadi kunci agar manfaat Ramadan dirasakan lebih merata.
Lebih jauh, Ramadan-nomics menunjukkan bahwa ekonomi kita sangat bergantung pada lonjakan belanja musiman yang kuat, tetapi belum sepenuhnya berdampak pada peningkatan produksi nasional.
Lonjakan ini memang menggerakkan ekonomi jangka pendek, tetapi belum otomatis meningkatkan kapasitas produksi nasional. Tanpa intervensi kebijakan yang tepat, momentum ini hanya berakhir sebagai pesta konsumsi tahunan.
Karena itu, pemerintah perlu menjadikan Ramadan sebagai momentum kebijakan ekonomi rakyat, misalnya melalui pemberian insentif pajak sementara bagi UMKM pangan dan fashion lokal.
Kewajiban kurasi produk dalam negeri pada platform e-commerce selama Ramadan serta program belanja institusi publik (ASN, BUMN, dan pemerintah daerah) juga perlu diprioritaskan untuk produk UMKM menjelang Ramadan.
Di sisi lain, penguatan cold chain pangan daerah dan subsidi logistik antardaerah penting dilakukan agar lonjakan permintaan tidak berujung pada inflasi. Dengan pendekatan ini, Ramadan tidak hanya mendorong konsumsi, tetapi juga memperkuat basis produksi rakyat dan ketahanan ekonomi nasional.
Dari Tradisi Menjadi StrategiRamadan-nomics menunjukkan bahwa spiritualitas dan ekonomi tidak berjalan terpisah. Di Indonesia, keduanya saling menguatkan.
Momentum ini seharusnya tidak dibiarkan berlalu begitu saja setiap tahun. Jika dikelola dengan kebijakan yang konsisten, Ramadan dapat menjadi laboratorium ekonomi rakyat, tempat UMKM tumbuh, rantai pasok diperkuat, dan belanja publik diarahkan ke produk dalam negeri. Di sinilah peran negara, swasta, dan masyarakat bertemu dalam satu irama.
Karena itu, Ramadan perlu dipandang sebagai peluang strategis tahunan untuk memperkuat ekonomi rakyat. Dukungan pada produk lokal, penguatan logistik daerah, dan pengawasan perdagangan digital harus menjadi agenda serius.
Ramadan bukan sekadar bulan berbagi. Ia adalah momentum ekonomi nasional yang datang setiap tahun.
Apakah kita hanya akan menikmati keramaiannya, atau berani menjadikan Ramadan sebagai fondasi ketahanan ekonomi bangsa?





