Jakarta, tvOnenews.com — Gelombang kepedulian terhadap korban bencana di Sumatera terus mengalir dari berbagai elemen masyarakat. Salah satu inisiatif kemanusiaan datang dari Berkeley Club Indonesia yang menggalang donasi publik guna membantu pemulihan pascabencana, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan dasar dan pembangunan kembali fasilitas vital bagi warga terdampak.
Melalui kampanye bertajuk Bears Care for Sumatra, penggalangan dana dilakukan bekerja sama dengan platform filantropi digital Kitabisa. Program ini mengajak alumni University of California, Berkeley, komunitas, serta masyarakat luas untuk berpartisipasi dalam aksi nyata membantu korban yang masih berjuang bangkit setelah bencana.
Hasilnya, donasi yang terkumpul mencapai Rp277.123.549 dari total 13.958 kontribusi masyarakat. Angka tersebut melampaui target awal sebesar Rp250 juta, menunjukkan tingginya solidaritas publik terhadap upaya kemanusiaan di wilayah terdampak.
Partisipasi tidak hanya datang dari individu, tetapi juga sektor korporasi yang turut memberikan dukungan signifikan. Beberapa perusahaan yang berkontribusi antara lain PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk dengan donasi Rp100 juta, SSEK Law Firm sebesar Rp25 juta, serta PT Kelolatama Albes yang menyumbang Rp20 juta. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi bukti bahwa respons kemanusiaan membutuhkan sinergi bersama, tidak hanya mengandalkan satu pihak.
Penyerahan donasi secara simbolis dilakukan pada Rabu, 18 Februari 2026, kepada Yayasan Salam Setara Amanah Nusantara yang dipercaya sebagai pelaksana program di lapangan. Lembaga tersebut akan mengelola implementasi bantuan agar tepat sasaran dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat terdampak.
Dalam pemaparannya, pihak yayasan menjelaskan bahwa dana yang terkumpul tidak hanya digunakan untuk bantuan darurat, tetapi difokuskan pada program pemulihan jangka menengah dan panjang. Sejumlah proyek yang direncanakan meliputi pembangunan sumur bor, penyediaan sistem filter air minum, pembangunan fasilitas mandi cuci kakus (MCK), serta tempat wudhu permanen.
Langkah ini dinilai krusial karena salah satu tantangan terbesar pascabencana adalah ketersediaan air bersih dan fasilitas sanitasi yang layak. Tanpa infrastruktur dasar tersebut, masyarakat akan kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari, bahkan berisiko menghadapi persoalan kesehatan baru.
Program berbasis infrastruktur dipilih karena memiliki dampak berkelanjutan. Bantuan tidak berhenti pada fase tanggap darurat, melainkan menjadi fondasi bagi pemulihan kualitas hidup masyarakat dalam jangka panjang. Akses air bersih, sanitasi, dan fasilitas umum yang memadai diharapkan dapat mempercepat proses normalisasi kehidupan sosial dan ekonomi warga.




