Banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra akhir tahun lalu tak hanya merusak permukiman, tapi juga menyapu ribuan hektare lahan Perhutanan Sosial di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Di tengah kondisi prihatin di pengungsian, anggota-anggota Kelompok usaha Perhutanan Sosial atau KUPS mulai menyusun rencana penghijauan untuk pemulihan lingkungan dan pendapatan masyarakat.
"Kami ke depannya ingin membuat program untuk menghijaukan kembali dengan kopi, alpukat, kulit manis, dan buah-buahan markisa,” kata Perwakilan KUPS Renggali dari Desa Uning Mas, Aceh, Masmiko dalam diskusi tentang Perhutanan Sosial di Jakarta, Kamis (19/2).
Masmiko menjelaskan, bencana banjir dan longsor membuat desanya luluh lantak. "Luas hutan kami di Desa Uning Mas berjumlah 369 hektare. Sekarang tidak tahu jumlahnya berapa, karena tiga dusun di Desa Uning Mas hampir 80 persen terbawa longsor dan banjir,” ujarnya. Saat ini, banyak anggota KUPS masih tinggal di pengungsian.
Direktur Jenderal Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan Catur Endah Prasetiani menyatakan dukungan terhadap upaya pemulihan Sumatra lewat perhutanan sosial. Dia merencanakan kerja sama dengan berbagai pihak termasuk Direktorat Perencanaan dan Evaluasi Daerah Aliran Sungai.
“Akan kami komunikasikan, dari KUPS butuhnya apa, kemudian pemerintah daerah butuh komoditas apa untuk diunggulkan, juga dari dunia usaha, kira-kira membutuhkan apa,” ucapnya. “Hasil yang ditanam itu selain untuk pemulihan ekologi, juga untuk pemulihan ekonomi dan sosial,” kata dia menambahkan.
Sungai Melebar hingga 180 Meter, Penghijauan Pascabencana Hadapi TantanganKepala Dinas Kehutanan Sumatera Barat Ferdinal Asmi, menyatakan siap untuk menghijaukan kembali area terdampak bencana di wilayahnya. Tapi, dirinya meminta dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, untuk membenahi sungai-sungai yang ada.
Pasalnya, imbas bencana banjir dan longsor, sungai-sungai menjadi sangat lebar. “Kalau menanam itu kami sangat siap, tapi sepanjang sungainya belum dikendalikan, percuma kami menanam di kiri-kanan sungai,” ucap dia.
Berdasarkan cerita Masmiko, sungai di desanya melebar dari sebelumnya 2-3 meter menjadi 150 meter atau bahkan 180 meter. Dia juga meminta pemerintah pusat turun tangan untuk menjaga aliran sungai. “Agar sungai itu bisa dimanfaatkan di kemudian hari,” kata dia.




