Warga di kawasan Jalan Haji Nawi, Cilandak, Jakarta Selatan, mengeluhkan kebisingan luar biasa yang bersumber dari operasional lapangan padel di sebelah rumah mereka.
Suara dentuman bola hingga teriakan pemain membuat aktivitas harian mereka, mulai dari ibadah, bekerja, hingga menyusun skripsi, menjadi terganggu.
Keluhan ini disampaikan oleh Naufal Arsyad dan Idham Rahmanarto, warga yang tinggal tepat di samping lapangan tersebut. Menurut Naufal, gangguan suara ini sudah dirasakan sejak pembangunan di Agustus 2025, namun semakin parah saat lapangan mulai beroperasi penuh pada 20 Januari 2026.
"Apa yang kita rasain sih? Gitu. Yang kita rasain tuh kita mulai dari bangun pagi itu jam 6 kebangun karena sudah ada yang main," ujar Noval saat ditemui kumparan di kediamannya, Rabu (18/2).
Naufal menjelaskan, jam operasional lapangan yang dimulai dari pukul 06.00 WIB hingga nyaris tengah malam sangat mengganggu ketenangan keluarganya. Gangguan ini merambah ke berbagai aspek kehidupan anggota keluarganya di rumah.
"Adik saya yang sedang skripsian juga terganggu, ibu saya yang mau WFH juga nggak bisa fokus, mau salat juga nggak bisa fokus, dan bahkan kalau dari segi kesehatan kita juga udah nggak sehat lah ini, gitu," kata Noval.
Bahkan, ia mengungkapkan, kondisi kesehatan ibunya menurun akibat stres suara bising tersebut.
"Ibu saya kayak contoh semalam itu sudah tensinya menyentuh 200, gitu, udah sangat tinggi yang diakibatkan oleh stres dari kejadian ini," tambahnya.
Hal senada dirasakan oleh Idham Rahmanarto, Ia mengontrak di salah satu rumah Naufal yang berbatasan langsung dengan lapangan padel.
“Pertama tentu pertemuan antara bola dengan raket, itu sangat kedengeran sekali. Yang kedua pada saat bola mantul ke kaca dalam, kan mereka pasti ada glass (kaca) dong, karena kan aturan di Padel kan ada itu. Pantulan kaca pantulan bola maupun ke kaca maupun ke dinding atau ke kisi-kisi polikarbonat ini. Biasanya bola tuh karena suka "duar" tiba-tiba terus geter,” ujarnya.
“Dan kadang malah ada suara teriakan gitu suara teriakan ada suara makian, suara makiannya kedengeran banget ya olahraga ya olahraga kan maksudnya kita kita nggak masalahin mereka main Padel, yang kita masalahin lebih pengelolanya, bisa nggak sih ini dikurangi atau apa gitu,” tambahnya.
Ia mengaku kini merasa takut dan tidak leluasa beraktivitas di rumah sendiri.
"Yang kita rasakan tuh ketakutan sih. Maksudnya kita yang terbiasanya tiap pagi nih buka jendela leluasa gitu, sekarang tuh takut. Kenapa? Aku kalau buka jendela bising banget gitu karena lagi orang lagi main, orang lagi teriak, orang lagi maki-makian atau apa, itu kan sesuatu yang nggak bisa kita kontrol," keluh Idham.
Idham melanjutkan, bising tersebut juga berpengaruh kepada kualitas hidupnya.
“Sangat amat mengurangi kualitas hidup kita juga yang tadinya mungkin Mas Noval sering berkumpul bersama keluarga, jadinya kayak kita saling menghindar karena ya kalau balik ke rumah berisik gimana nih tidak nyaman, tidak nyaman gitu. Dan saya juga kayak istri saya, saya kayak sesekali kayak ya udah kita keluar yuk,” ujarnya
“(Suaranya) Sampai yang bikin takut, betul. Bikin tidak mau pulang, betul. Bikin tidak betah di rumah,” tambahnya.
Rentetan Surat Peringatan dari Pemprov DKI
Idham menyayangkan tidak adanya sosialisasi awal sebelum lapangan tersebut berdiri. Idham menyebut bahwa tidak ada permintaan persetujuan lingkungan dari pihak RT maupun RW setempat.
“Tidak ada pemberitahuan, tidak ada sosialisasi dari RT/RW, tidak ada permintaan persetujuan lingkungan dari RT/RW, tuh sama sekali nggak ada yang masuk ke keluarga Mas Naufal dan saya juga tidak mengetahui, gitu sebagai pengontrak,” ujarnya
Berdasarkan penelusuran warga ke Dinas Citata (Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan), pembangunan lapangan tersebut rupanya sudah mendapatkan rentetan Surat Peringatan (SP).
"Dari Citata merespons dengan memberikan mereka sudah memberikan SP1 sampai SPPKS hingga November. Jadi SPPKS itu ada kalau aku cek itu adalah pelanggaran serius. Nah, yang jadi pertanyaan adalah kenapa setelah diberikan SPPKS mereka tetep beroperasi atau tetep menjalankan pembangunannya," tegas Idham.
Rangkaian peringatan tersebut meliputi SP1 (22 Oktober 2025), SP2 (28 Oktober 2025), SP3 (2 November 2025), hingga SPPKS pada 8 November 2025.
Sejauh ini, Idham dan Naufal sudah melayangkan puluhan laporan melalui aplikasi JAKI, media sosial, hingga menghubungi layanan polisi 110. Meski sempat ada mediasi dengan pengelola pada 31 Januari lalu, warga menilai langkah perbaikan seperti pemasangan dinding polikarbonat justru menambah gema suara (akustik) yang memperparah kebisingan.
Mereka berharap pihak berwenang segera mengambil tindakan tegas. Mereka merencanakan pertemuan lanjutan dengan pihak kelurahan dan dinas terkait pada Kamis (19/2) besok.
"Intinya poin kita pokoknya intinya pengen keadaan balik ke semula sebelum adanya lapangan ini," tutup Naufal.
kumparan sudah mendatangi lokasi lapangan padel tersebut, namun hanya ada staf di sana. Kondisi lapangan pun tampak sepi, tanpa pengunjung. kumparan juga sudah menghubungi pihak pengelola padel, namun belum ada jawaban.





