Bisnis.com, BANDUNG—Dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025 lalu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mendapatkan validasi kinerja dirinya memimpin selama satu tahun dari seorang pemulung ranting kayu bernama Ainul Hidayat, warga Ujung Jaya, Kabupaten Sumedang.
Berangkat dari Lembur Pakuan, Kabuapaten Subang pada Sabtu (14/2/2026) Dedi Mulyadi mengajak Wali Kota Depok Supian Suri, Bupati Cianjur Mohammad Wahyu Ferdian untuk menemani dirinya bermotor mengunjungi sejumlah daerah, melihat hasil pembangunan fisik selama satu tahun terakhir. “Ngecek jalan,” kata Dedi.
Rombongan kecil dari Subang mula-mula bergerak ke Indramayu lalu lanjut ke Majalengka, untuk akhirnya bermuara di Pangandaran pada Minggu (15/2/2026). Dari Indramayu rombongan mengambil ruas provinsi Jalan Cijelag-Ujung Jaya, Cikamurang yang merupakan perbatasan Indramayu-Sumedang.
KDM, panggilan akrab Dedi Mulyadi, bersirobok dengan seorang laki-laki paruh baya berkaos merah dengan motor yang kondisinya sudah amburadul. Dengan setelan helm, hingga jaket serba putih, KDM pura-pura bertanya arah ke Majalengka pada Ainul.
Ainul menjawab seluruh pertanyaan yang diajukan mulai dari penghasilan sebagai pemulung ranting, punya anak istri, sampai kondisi motor yang sehari-hari dipakai masuk hutan Ujung Jaya. Wajahnya tegang, agak rikuh karena tidak mengetahui sosok yang tengah dihadapinya adalah KDM; Gubernur Jawa Barat.
KDM—jika bertemu orang yang tidak mengenal dirinya—akan memperkenalkan diri sebagai Haji Udin, kali ini pada Ainul ia mengaku sebagai pengamat politik dan pembenci Dedi Mulyadi yang melahirkan serangkaian dialog.
“Gubernur terjelek se-Indonesia itu Gubernur Jawa Barat,” kata KDM pada Ainul.
Ainul dengan keluguannya menimpali jika dalam politik sudah biasa saling menjelekan dan menjatuhkan. Namun menurutnya KDM sudah menunjukan keberhasilan dengan memperbaiki jalan, terutama di kawasan Ujung Jaya.
“Jalan ini tara sae (tidak pernah bagus), sekarang alhamdulilah jadi sae,” katanya pada KDM sang pengamat politik.
KDM membantah Ainul jika jalan yang dibangun tersebut bukan oleh gubernur melainkan pemborong dari hasil pajak kendaraan. KDM juga menuding jika gubernur memperhatikan rakyatnya, Ainul tidak akan sengsara dengan mengandalkan mencari ranting kering.
“Alhamdulilah masih bisa dahar [makan] pak,” kilahnya menjawab pertanyaan tersebut.
Tak cukup sampai disitu, KDM menilai jika gubernurnya bekerja dengan benar maka orang seperti Ainul harusnya mendapatkan bantuan dari gubernur. Lagi-lagi jawaban Ainul mencengangkan.
“Kan bukan abi wungkul rakyatna, Pak [bukan saya saja rakyatnya]. Ada yang lebih butuh dari saya Pak,” katanya.
KDM akhirnya menawarkan sejumlah uang agar Ainul bisa mengubah pendapatnya tentang Dedi Mulyadi.
“Bapak saya kasih Rp1 juta Dedi Mulyadi jelek,” ujarnya.
Ainul menolak, alasannya ia harus menghormati pemimpin, apalagi Dedi Mulyadi merupakan pilihan warga Jabar.
“Kalau saya menghina gubernur, berarti saya menghina rakyat Jawa Barat,” tegasnya.
Pendapatnya tidak berubah, bahkan ia mendukung sejumlah program KDM seperti penutupan tambang dan pelarangan study tour. KDM terus menaikan tawaran uang pada Ainul dan berupaya mengiring opini. Dari Rp2 juta,Rp5 juta, Rp10 juta hingga tawaran uang tersebut untuk membeli motor baru senilai Rp20 juta, Ainul menolak. Menurutnya pemimpin bagus atau jelek merupakan resiko pilihan rakyat, tapi tidak perlu dihina.
“Saya nggak berani menghina orang, meskipun saya butuh [uang], menghina orang saya nggak berani,” ujarnya.
***
Setahun memimpin Jawa Barat, dukungan dan kecintaan warga pada sosok KDM menjadi modal besar mantan bupati Purwakarta dua periode tersebut mengakselerasi kebijakan. Pembangunan infrastruktur di gas meski kondisi fiskal tidak leluasa, di sisi lain KDM menginjak rem sangat pakem pada kegiatan yang merusak lingkugan seperti tambang dan pembangunan perumahan di wilayah rawan bencana.
Lewat langkah dan sejumlah gebrakannya selama satu tahun terakhir melahirkan gelembung besar dukungan. Dari lewat survei yang dilakukan Indikator Politik Indonesia pada periode 30 Januari–8 Februari 2026 menunjukkan, tingkat kepuasan publik Jabar terhadap kepemimpinan Dedi Mulyadi mencapai 95,5% dimana sebanyak 35,8% responden menyatakan sangat puas dan 59,7% cukup puas terhadap kinerja Dedi Mulyadi.
Dalam survei, kepuasan tinggi warga Jabar pada kinerja KDM datang mulai dari urusan pembangunan jalan, larangan study tour hingga penertiban lingkungan hidup. Survei Indikator menunjukan masyarakat cukup puas terhadap upaya Pemprov Jabar dalam menjaga kualitas lingkungan hidup mencapai 65,7 %.
Pendiri dan Peneliti Indikator Prof. Burhanudin Muhtadi menuturkan, angka tersebut naik dibandingkan Mei 2024 sebesar 64,8%.
Sementara, masyarakat yang sangat puas terhadap upaya Pemprov Jabar menjaga kualitas lingkungan hidup mencapai 10,6%, naik 2,4% dibandingkan Mei 2024.
Terdapat beberapa kegiatan dalam upaya menjaga lingkungan hidup. Salah satu kegiatan intensif yang dilakukan selama KDM menjabat Gubernur Jawa Barat yaitu normalisasi sungai untuk mencegah potensi banjir.Kegiatan tersebut mendapat dukungan masyarakat.
"Hal itu terbukti dari hasil survei Indikator yang menunjukkan 63,9% masyarakat cukup puas dengan kegiatan normalisasi sungai, sedangkan presentase masyarakat yang sangat puas sebesar 34,3%," ujar Burhanudin, Senin (16/2/2026).
Gebrakan lain yang dilakukan KDM dalam bidang lingkungan hidup yakni penutupan tambang liar. Sebanyak 60,6% masyarakat cukup puas terhadap kegiatan tersebut. Sementara, 34,6% masyarakat sangat puas terhadap program penutupan tambang liar.
Dalam menjalankan pemerintahan, KDM berkomitmen untuk terus menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan hidup. Tanpa adanya keseimbangan antara dua hal itu, hasil pembangunan akan menimbulkan dampak buruk bagi masyarakat dan alam.
Sementara itu, 4,1% responden menyatakan kurang puas dan 1,3% menjawab tidak tahu atau tidak menjawab. Jika dibandingkan dengan survei sebelumnya pada Mei 2025, proporsi responden yang menyatakan sangat puas justru menurun dari 41,1% menjadi 35,8%. Sebaliknya, kategori cukup puas meningkat dari 53,6% menjadi 59,7%.
Di luar urusan survei politik, data makro Badan Pusat Statistik (BPS) pun memperlihatkan adanya laju positif pertumbuhan ekonomi Jawa Barat, arus investasi yang masih jadi primadona, hingga angka kemiskinan dan pengangguran yang turun tipis. Sisi lainnya, kritik atas kebijakannnya masih rutin mengiringi.
KDM sendiri memaknai kepemimpinan sebagai bentuk perbuatan dan aksi nyata dalam memimpin Provinsi Jabar, demi mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.
"Bagi saya, menjadi pemimpin yang beragamanya baik, yaitu pemimpin yang mampu mengelola keuangan negara dengan baik, dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemamuran rakyatnya," katanya.
Ia juga menilai tingkat kepuasan publik yang tinggi hingga 95% itu lebih mencerminkan kesetiaan warga dalam mengawal kepemimpinannya, bukan indikator keberhasilan program pembangunan.
“95,5% itu mengangkat kecintaan warga Jabar pada saya, bukan angka keberhasilan. Saya merasa belum berhasil dalam satu tahun ini,” ujarnya.
***
Pada ujung perbincangan uang Rp20 juta itu akhirnya diterima Ainul.
“Nanti salam, kalau ketemu Pak Dedi, bilang salam dari saya musuh bebuyutannya, Haji Udin,” kata KDM sambil kembali memacu motornya.
Angka-angka makro dan survei bisa saja hanya statistik, tapi dari kejujuran Ainul, semua itu tercermin.





