Pantau - Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak menilai hibah satu unit pesawat dari Garuda Indonesia untuk fasilitas manasik di Asrama Haji Kelas I Aceh memperkuat manasik berbasis simulasi penerbangan guna meningkatkan kesiapan teknis calon jamaah haji Indonesia.
Garuda Indonesia menghibahkan pesawat jenis Boeing 737 eks Citilink sebagai langkah strategis peningkatan kualitas penyelenggaraan haji.
"Pesawat ini kami hadirkan agar calon jamaah haji merasakan suasana penerbangan haji. Saat hari keberangkatan tiba, mereka lebih tenang dan siap,” ujar Dahnil.
Ia menegaskan hibah pesawat tersebut bukan sekadar simbol atau pajangan melainkan dirancang sebagai sarana praktik langsung bagi calon jamaah.
Pesawat Boeing 737 eks Citilink itu telah dirakit ulang dan disesuaikan menyerupai kabin aktif untuk kebutuhan simulasi.
Calon jamaah dapat mempraktikkan proses boarding, penempatan bagasi kabin, penggunaan sabuk pengaman, hingga memahami prosedur selama penerbangan jarak jauh ke Tanah Suci.
Langkah tersebut dinilai menjawab persoalan klasik berupa kecemasan jamaah terutama lansia saat pertama kali menghadapi perjalanan udara yang panjang.
Dahnil menegaskan manasik tidak lagi berhenti pada teori rukun dan wajib haji tetapi juga menyentuh aspek teknis perjalanan yang kerap menjadi sumber kekhawatiran.
Peresmian hibah pesawat turut dihadiri Direktur Utama Garuda Indonesia Glenny H. Kairupan, Menteri PPN atau Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, serta Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah.
Penempatan pesawat di Aceh memiliki nilai historis karena dari daerah tersebut lahir Garuda Indonesia melalui pesawat legendaris Seulawah RI-001 yang didukung rakyat Aceh.
"Hibah ini menjadi penghormatan atas kontribusi tersebut, sekaligus mengembalikan jejak sejarah ke tanah asalnya," ungkap Dahnil.
Direktur Utama Garuda Indonesia Glenny H. Kairupan menegaskan komitmen pihaknya sebagai mitra strategis negara dalam ekosistem haji nasional.
Sinergi dilakukan secara konkret antara pemerintah pusat, maskapai, dan pemerintah daerah untuk mempersiapkan jamaah sejak tahap embarkasi.
Dengan fasilitas tersebut, manasik di Aceh menjadi lebih komprehensif karena calon jamaah tidak hanya memahami teori tetapi juga siap secara mental dan teknis menghadapi penerbangan haji yang sesungguhnya.




