Ramadan dan Inflasi: Mengapa Harga Sering Naik Saat Bulan Puasa?

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Ramadan selalu datang dengan suasana yang berbeda. Azan Subuh terasa lebih syahdu, masjid kembali dipenuhi jamaah, dan masyarakat memulai hari dengan niat yang lebih tenang. Bulan ini bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang memperbaiki diri dan mempererat kebersamaan. Namun, di balik ketenangan spiritual itu, ada dinamika lain yang hampir selalu menyertai awal Ramadan: harga-harga yang mulai bergerak naik.

Apa itu Inflasi?

Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam suatu periode tertentu. Inflasi menyebabkan daya beli masyarakat menurun, karena dengan jumlah uang yang sama, barang dan jasa yang dapat dibeli menjadi lebih sedikit. Inflasi biasanya diukur menggunakan Indeks Harga Konsumen (IHK).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada Maret 2025, yang bertepatan dengan awal Ramadan, Indonesia mengalami inflasi sebesar 1,65% secara bulanan (month-to-month) dan 1,03% secara tahunan (year-on-year). Angka ini mencerminkan peningkatan Indeks Harga Konsumen (IHK) dan menunjukkan adanya tekanan harga yang lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya, terutama dari kelompok bahan pangan.

Setiap Ramadan, masyarakat Indonesia hampir selalu menghadapi fenomena yang sama: kenaikan harga bahan pokok. Mulai dari beras, cabai, ayam, hingga daging sapi, banyak komoditas mengalami peningkatan harga seiring meningkatnya permintaan masyarakat. Secara historis, inflasi Indonesia cenderung meningkat pada periode Ramadan.

Inflasi bulanan selama Ramadan biasanya lebih tinggi dibanding bulan normal karena konsumsi rumah tangga meningkat signifikan. Konsumsi masyarakat meningkat untuk kebutuhan berbuka puasa, sahur, serta persiapan hari raya. Komoditas seperti cabai rawit, bawang merah, dan daging ayam sering menjadi penyumbang utama inflasi karena permintaannya melonjak dalam waktu singkat.

Teori Ekonomi

Fenomena ini terjadi karena hukum dasar ekonomi: ketika permintaan meningkat lebih cepat dibanding pasokan, harga cenderung naik. Selama Ramadan, masyarakat tidak hanya membeli untuk kebutuhan harian, tetapi juga untuk kegiatan sosial seperti buka bersama, sedekah makanan, dan persiapan Lebaran. Akibatnya, tekanan terhadap harga menjadi lebih besar dibanding bulan biasa.

Namun demikian, inflasi Ramadan umumnya bersifat musiman dan sementara. Setelah periode Ramadan dan Idulfitri berakhir, harga-harga biasanya kembali stabil seiring normalnya permintaan masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa inflasi Ramadan bukan semata-mata tanda pelemahan ekonomi, tetapi justru mencerminkan meningkatnya aktivitas sosial, konsumsi, dan perputaran ekonomi.

Pada akhirnya, Ramadan selalu menghadirkan dua sisi yang berjalan beriringan: ketenangan spiritual dan dinamika ekonomi. Di tengah kenaikan harga, Ramadan tetap menjadi pengingat bahwa makna utama bulan ini bukan terletak pada apa yang dikonsumsi, tetapi pada bagaimana manusia belajar menahan diri, berbagi, dan kembali kepada nilai-nilai kesederhanaan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bupati dan DPRD Tana Toraja Enggan Tanda Tangan Pernyataan Sikap Tolak Geotermal di Bittuang
• 2 jam laluharianfajar
thumb
Khidmat Tarawih Pertama di Masjid Istiqlal
• 23 jam lalukompas.com
thumb
AHY Pastikan Persiapan Infrastruktur Mudik Lebaran 2026 Lancar dan Aman
• 13 jam lalutvrinews.com
thumb
Mensesneg: Diaspora Aceh di Malaysia Dapat Salurkan Bantuan melalui BNPB
• 18 jam lalukompas.tv
thumb
Bakamla RI Kirim Enam Personel Ikuti Pelatihan Pemantauan Laut dengan Pesawat Canggih Coast Guard Jepang
• 3 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.