Serang (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang, Banten, mendorong pembangunan dan optimalisasi Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R) di seluruh kecamatan serta memfasilitasi pembentukan bank sampah di setiap desa guna mengatasi persoalan sampah di wilayah tersebut.
Wakil Bupati Serang Muhammad Najib Hamas, di Serang, Kamis, mengatakan bahwa pengelolaan sampah saat ini tidak lagi dapat dilakukan secara konvensional, melainkan memerlukan pendekatan sistemik, terpadu, dan berkelanjutan dari hulu ke hilir.
"Perubahan ini menjadi momentum untuk memperkuat kebijakan pengelolaan sampah. Kami akan memperkuat regulasi yang mewajibkan pemilahan sejak dari sumber, baik rumah tangga, pasar, kawasan industri, maupun fasilitas umum," ujar Najib.
Najib menjelaskan bahwa Pemkab Serang akan menyusun program khusus pengelolaan sampah terpadu di wilayah pasar dan pusat ekonomi. Program tersebut mencakup penyediaan sarana prasarana pemilahan, pengangkutan terjadwal, hingga sosialisasi berkelanjutan bagi para pedagang.
Baca juga: DPRD Serang setujui sampah Tangsel masuk TPSA Cilowong
Terkait keberadaan bank sampah, ia menegaskan bahwa unit tersebut merupakan bagian dari strategi manajemen untuk memilah sampah secara ekonomi. Hal ini diharapkan dapat mengurangi beban volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
"Melalui bank sampah, kita melakukan pemberdayaan dan edukasi kepada masyarakat di tingkat desa. Sampah yang memiliki nilai ekonomi dipilah di awal, sehingga tidak semua harus dikirim ke TPA," tuturnya.
Selain itu, Pemkab Serang juga berencana menambah pembangunan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) sesuai dengan kenaikan produksi sampah harian. Langkah ini juga menjadi antisipasi potensi kenaikan volume sampah dari Program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Baca juga: DLH Kota Serang usulkan incinerator untuk kurangi beban TPA Cilowong
Pemerintah daerah juga menargetkan pengiriman volume sampah minimal 500 ton per hari ke lokasi Pengolah Sampah Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai bagian dari program strategis bersama Kota Serang dan Cilegon.
Wakil Bupati Serang Muhammad Najib Hamas, di Serang, Kamis, mengatakan bahwa pengelolaan sampah saat ini tidak lagi dapat dilakukan secara konvensional, melainkan memerlukan pendekatan sistemik, terpadu, dan berkelanjutan dari hulu ke hilir.
"Perubahan ini menjadi momentum untuk memperkuat kebijakan pengelolaan sampah. Kami akan memperkuat regulasi yang mewajibkan pemilahan sejak dari sumber, baik rumah tangga, pasar, kawasan industri, maupun fasilitas umum," ujar Najib.
Najib menjelaskan bahwa Pemkab Serang akan menyusun program khusus pengelolaan sampah terpadu di wilayah pasar dan pusat ekonomi. Program tersebut mencakup penyediaan sarana prasarana pemilahan, pengangkutan terjadwal, hingga sosialisasi berkelanjutan bagi para pedagang.
Baca juga: DPRD Serang setujui sampah Tangsel masuk TPSA Cilowong
Terkait keberadaan bank sampah, ia menegaskan bahwa unit tersebut merupakan bagian dari strategi manajemen untuk memilah sampah secara ekonomi. Hal ini diharapkan dapat mengurangi beban volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
"Melalui bank sampah, kita melakukan pemberdayaan dan edukasi kepada masyarakat di tingkat desa. Sampah yang memiliki nilai ekonomi dipilah di awal, sehingga tidak semua harus dikirim ke TPA," tuturnya.
Selain itu, Pemkab Serang juga berencana menambah pembangunan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) sesuai dengan kenaikan produksi sampah harian. Langkah ini juga menjadi antisipasi potensi kenaikan volume sampah dari Program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Baca juga: DLH Kota Serang usulkan incinerator untuk kurangi beban TPA Cilowong
Pemerintah daerah juga menargetkan pengiriman volume sampah minimal 500 ton per hari ke lokasi Pengolah Sampah Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai bagian dari program strategis bersama Kota Serang dan Cilegon.





