10 Fakta Unik Soal Olimpiade: Medali Emas Isi Perak Hingga Cabor Memahat

bisnis.com
7 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA - Ajang olahraga empat tahunan dunia, Olimpiade musim panas maupun musim dingin, terus berkembang dan penuh inovasi.

Olimpiade bahkan layak disebut laboratorium sosial jumbo buat seluruh manusia di bumi, bukan hanya soal lomba itu sendiri, melainkan segala teknologi pengiring, infrastruktur pendukung, sampai keuangan negara dan politik. 

Tak heran, banyak fakta unik maupun realitas menarik yang bermunculan, seiring terus berkembangnya penyelenggaraan Olimpiade dari masa ke masa. 

Mulai dari fungsi medali, bagaimana jeroan wisma buat ribuan atlet, 

Berikut fakta-fakta tersebut, diolah dari berbagai sumber, seperti laman resmi International Olympic Committee, Olympic Studies Center, Smithsonian, hingga BBC Olympics:

1. Medali emas isi perak

Baca Juga

  • Fakta-Fakta Olimpiade Musim Dingin 2026 yang Digelar di Milano Cortina
  • Atlet Terkaya di Olimpiade Musim Dingin 2026, Usia 22 Tahun
  • Atlet Olimpiade Nurul Akmal Jadi PPPK Paruh Waktu, Kemenpora Buka Suara

Medali emas Olimpiade modern mayoritas berisi perak, tapi dilapisi emas tipis sekitar 6 gram. Persentase emas murni hanya berkisar 1,3% dari total berat medali.

Tradisi emas murni kelewat mahal, juga berat, dan kurang estetik. Seberapa pun uang sponsor yang masuk, menggunakan emas murni hanya akan bikin merah hitung-hitungan penyelenggaraan acara.

Namun, jangan salah, lapisan emas dari 'medali emas' itu harganya tetap lumayan mahal kalau mau dilelehkan dan dijual. Mencapai sekitar US$800 atau setara Rp13,5 jutaan.

2. Medali buat Seni dan Arsitektur

Olimpiade modern terdahulu sempat mengikutsertakan keahlian di bidang seni, seperti musik, melukis, memahat, literatur, juga arsitektur. Namun, semua cabang ini dihentikan sejak 1948.

3. Kasur kardus itu nyata

Kasur kardus buat wisma atlet di Tokyo terbuat dari karton kuat, dirancang tahan beban hingga 200 kg.

Tujuannya tentu agar lebih praktis, ramah lingkungan, dan bisa didaur ulang. Apalagi, kita bicara soal puluhan ribu atlet yang datang dan pergi sekaligus.

4. Medali dari sampah elektronik

Pada Olimpiade Tokyo 2020, medali dibuat dari logam hasil daur ulang perangkat elektronik bekas dengan berat total 78.985 ton, di antaranya mencakup hingga 6,21 juta ponsel bekas dari warga Jepang.

Proyek ini sukses mengumpulkan 32 kg emas, 3.500 kg perak, dan 2.200 kg perunggu untuk memproduksi hingga 5.000 medali. 

5. Desa atlet seperti kota mini sementara

Sebuah desa atlet punya segalanya. Mulai dari klinik, layanan penatu, ruang ibadah, hingga kantin raksasa. 

Logistiknya setara mengoperasikan kota, tapi hanya sementara, dan ribuan penduduknya adalah orang-orang super sehat.

6. Ada cabang yang muncul sementara

Beberapa cabang hadir karena konteks budaya tuan rumah. 

Pada Olimpiade Paris 2024 misalnya, olahraga urban seperti breakdance dan 3x3 basketball tampil menonjol. 

Sementara pada Olimpiade Los Angeles 2028, akan muncul Flag Football alias futbol tarik, versi American Football dengan kontak fisik terbatas, digantikan tekel lewat menarik pita bendera di pinggang.

7. Upacara pembukaan erat berkaitan dengan geopolitik.

Defile atlet bukan cuma parade, melainkan sinyal identitas nasional, diplomasi simbolik, dan narasi keberadaan dalam bahasa koreografi. Tak heran, terkadang sentimen geopolitik ikut bermain di dalamnya.

8. Biaya infrastruktur jumbo dan warisan venue

Tuan rumah penyelenggara Olimpiadi bisa menghabiskan belasan miliar dolar untuk biaya pembangunan, infrastruktur, keamanan, dan penyelenggaraan.

Tapi, tantangannya bukan hanya soal waktu acara, tapi bagaimana membuatnya berguna setelah api padam. Jangan sampai venue megah itu jadi monumen besar yang sepi.

9. Peraih medali perak paling nelangsa

Hasil studi psikologis dari para atlet pemenang medali membuktikan bahwa peraih perak biasanya punya perasaan paling tidak puas, pola pikir merasa gagal, hingga paling nelangsa.

Berbeda dengan peraih medali perunggu dan tentunya medali emas, wajah peraih medali perak biasanya terlihat paling sedih ketika naik podium.

10. Api di obor Olimpiade selalu asli

Api Olimpiade dianggap suci, simbol persatuan, sehingga akan terus menyala dari upacara pembukaan hingga penutupan Olimpiade. 

Itulah alasan obor modern buat Olimpiade memiliki teknologi sistem bahan bakar ganda, hingga pelindung angin dan hujan, serta sistem penyalaan kembali api utama secara otomatis.

Menariknya, selama perjalanan estafet, selalu ada lentera pengaman yang membawa api asli dari Athena sebagai cadangan jika obor utama mati. 

Jika api obor benar-benar mati, relawan atau petugas keamanan akan menyalakannya kembali menggunakan api dari lentera cadangan itu. Benar-benar menjaga keaslian sumber api. 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dissos Makassar Tingkatkan Patroli Ramadan, Sekda Siapkan HT untuk Perkuat Koordinasi Wilayah
• 25 menit laluharianfajar
thumb
Kemarin, 1.000 Kopdes Merah Putih hingga status persero Antam & PTBA
• 18 jam laluantaranews.com
thumb
Bursa Asia Melejit! Indeks Kospi Cetak All Time High Ditopang Kinclongnya Saham Teknologi
• 18 jam laluviva.co.id
thumb
Pelita Air Bebeberkan Kronologi Lengkap Kecelakaan Pesawat Pengangkut BBM di Nunukan, Ternyata...
• 25 menit lalutvonenews.com
thumb
Elon Musk Ramal Coding akan Punah Tahun Ini
• 4 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.