PRESIDEN Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Almuzzammil Yusuf, menyebut kegiatan buka puasa bersama sebagai momentum penting untuk memperkokoh silaturahmi lintas partai. Hal itu ia sampaikan saat menghadiri acara buka puasa bersama di kantor DPP Nasdem, Jakarta Pusat, Kamis (19/2).
Muzzammil menilai Ramadan merupakan ruang untuk mempererat persatuan anak bangsa tanpa memandang latar belakang partai politik maupun organisasi kemasyarakatan (ormas). Ia menyebut semangat pertemuan lintas tokoh tersebut sejalan dengan visi memperkuat kekuatan nasional di tengah keberagaman.
“Ramadan ini bulan dakwah dan bulan memperkokoh bangsa. Tadi disampaikan oleh Pak Surya Paloh (Ketua Umum Partai NasDem), saya kira sudah cocok. Kita datang tidak pandang partai atau ormas, tapi untuk memperkokoh kekuatan bangsa,” ujar Muzzammil.
Baca juga : Dasco Hadiri Buka Puasa Bersama DPP NasDem, Bertemu Surya Paloh hingga Anies Baswedan
Ramadan 2026 Dinilai Punya Makna KhususSelain mempererat silaturahmi politik, Muzzammil menyebut Ramadan 2026 memiliki arti tersendiri. Pasalnya, tanggal 9 Ramadan tahun ini bertepatan dengan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia menurut penanggalan hijriah.
“Bagi kami ini sebagai tasyakuran kemerdekaan sekaligus tasyakuran ibadah. Apa saja yang bisa mempererat anak bangsa, muslim maupun nonmuslim, ya kita perkuat melalui buka bersama ini,” tambahnya.
Muzzammil juga menanggapi isu wacana pembentukan koalisi permanen pendukung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia menegaskan, secara resmi PKS belum membahas hal tersebut. Namun, ia menekankan politik Indonesia perlu tetap berpijak pada asas gotong royong.
Baca juga : Presiden PKS Merasa Diuji Kesabaran saat Bermalam di Aceh Tamiang
“Kalau bicara resmi tidak ada. Tapi semangat kita adalah gotong royong. Inilah kekhasan Indonesia,” tegasnya.
PKS Tetap Jalankan Check and BalancesMeski mengedepankan persatuan, Muzzammil memastikan PKS tetap menjalankan fungsi check and balances terhadap pemerintah. Menurutnya, kerja sama antarpartai tidak boleh menutup ruang kritik dan saran.
“Gotong royong bukan berarti menutup dialog atau kritik. Nuansa check and balances tetap harus berjalan, ukhuwah tetap berjalan. Inilah yang kita perkuat agar politik kita tetap sehat,” pungkas Muzzammil. (Z-10)





