Presiden PKS, Al Muzammil Yusuf berbicara soal koalisi partai permanen menuju Pilpres 2029. Menurutnya, koalisi permanen dibentuk untuk kepentingan bangsa.
Adapun PKS kini tergabung dalam Koalisi Indonesia Maju (KIM), sebuah koalisi pengusung Presiden Prabowo Subianto pada Pilpres 2024 lalu. PKS bergabung usai Pilpres. Al Muzammil menilai koalisi harus terus mendengar aspirasi masyarakat untuk menghindari demo besar terjadi lagi.
“Saya kira koalisi permanen itu permanennya adalah kepentingan bangsa dan negara. Itu yang permanen. Enggak bisa permanen diperkecil menjadi kepentingan elite, itu tidak boleh. Dalam konteks koalisi permanen dalam artian kita membangun bangsa dan negara yang terbaik untuk anak bangsa, iya,” ucap Al Muzammil di NasDem Tower, Jakarta pada Kamis (19/2).
“Saya kira kita belajar bahwa pemerintah di mana pun di negara di dunia ini harus memperhatikan aspirasi publik ya. Sehingga ada link and match antara keinginan elite dan keinginan publik itu dibangun bersama-sama. Di situlah koalisi rakyat dan penguasa,” tambahnya.
Al Muzammil mengatakan, koalisi permanen harus menggabungkan antara keinginan elite partai dan masyarakat.
“Saya kira saya garis bawahi, koalisi permanen kita atas nama elite harus bersatu dengan atas nama rakyat. Di situ. Nggak bisa elite koalisi sendiri, rakyat koalisi sendiri, ini nggak. Saya kira apa yang terjadi di Nepal itu seperti itu,” ucap Al Muzzamil.
“Jadi saya kira koalisi permanen itu adalah mempertemukan antara kehendak rakyat dan keinginan elite itu bersatu. Itulah yang ada di tujuan berbangsa-bernegara kita di konstitusi. Saya kira itu titik tolaknya,” tambahnya.
Meski begitu, Al Muzzamil mengatakan PKS belum menentukan sikap soal Prabowo dua periode. Saat ini, PKS fokus mendukung kesuksesan pemerintah.
“Ya kami terikat oleh Majelis Syuro, sehingga tidak bisa siapa pun pimpinan PKS untuk bicara kalau tidak atas nama keputusan Majelis Syuro. Saat ini kita fokus di koalisi, berjuang, mudah-mudahan Pak Prabowo sukses. Kesuksesan beliau adalah keberuntungan seluruh anak bangsa. Kita fokus di situ,” tambah Al Muzammil.
Terkait penetapan koalisi permanen, Al Muzammil mengatakan belum ada komunikasi formal antar partai. Namun, PKS terbuka untuk dialog.
“Kalau bicara resmi tidak ada ya. Tapi kalau semangat kita kan semangat gotong royong ya. Jadi memang landasan budaya kita punya, kita semangat gotong royong. Tapi dalam gotong royong itu kan ada koreksi, ada kritik saran, saya kira itu juga sejalan dengan politik kita,” ucap Al Muzammil.
“Jadi tidak berarti apa, kita semua koalisi menutup dialog, menutup masukan, menutup kritik saran, saya kira nggak. Jadi nuansa check and balances tetap berjalan, nuansa ukhuwah tetap berjalan, nuansa gotong royong berjalan. Inilah khas Indonesia. Setiap negara punya kekhasan, ya inilah khasnya kita,” lanjutnya.





