Penurunan tarif impor Amerika Serikat menjadi 19 persen membawa angin segar bagi sejumlah sektor industri strategis di Indonesia. Sektor tekstil dan pakaian jadi diprediksi menjadi penerima manfaat terbesar karena kini dapat bersaing lebih ketat dengan produsen asal Vietnam dan Bangladesh.
Industri alas kaki dan produk kulit juga berpeluang besar meningkatkan volume ekspornya secara signifikan ke pasar Amerika Serikat. Kebijakan tarif rendah ini diyakini mampu menarik investor asing untuk merelokasi basis manufaktur mereka dari Tiongkok ke wilayah Indonesia.
Sektor furnitur dan produk berbasis kayu dipastikan akan semakin kompetitif berkat keahlian pengrajin lokal dan melimpahnya sumber daya alam. Selain itu, industri makanan dan minuman olahan seperti produk buah tropis kini memiliki akses pasar yang lebih terbuka bagi konsumen di sana.
Indonesia juga memposisikan komponen otomotif, terutama suku cadang kendaraan listrik, sebagai komoditas ekspor yang sangat menjanjikan. Penurunan tarif membuat pengiriman sistem kabel, ban, dan mesin kecil ke Amerika Serikat menjadi jauh lebih layak secara ekonomi dan menguntungkan.
Baca Juga: ART Indonesia-AS Diteken 19 Februari 2026, Jadi Penentu Arah Tarif Dagang
Komoditas asli seperti sawit, kopi, dan kakao mendapatkan keistimewaan luar biasa dengan pemberlakuan tarif 0 persen atau bebas bea masuk. Fasilitas ini menjadi modal kuat bagi produk turunan sumber daya alam Indonesia untuk mendominasi perdagangan di kawasan Amerika Utara.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan tidak ada lagi negosiasi lanjutan setelah kesepakatan tarif ini resmi ditetapkan. Pemerintah kini fokus mendorong para pelaku usaha untuk mempersiapkan legalitas perusahaan agar dapat memanfaatkan peluang ekspor besar ini.





