Suara dua mesin pompa air terdengar lirih terbawa angin dari kejauhan. Mesin tersebut menyedot air yang merendam ribuan makam di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Budidarma Semper di Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (19/2/2026). Silih berganti truk tangki Suku Dinas Pertamanan dan Pemakaman Administrasi Jakarta Utara membawa air tersebut. Setiap hujan deras, TPU tersebut menjadi langganan banjir. Kondisi tersebut terjadi sejak tahun 2018.
Di satu sudut lahan, Yadi berjalan zig-zag mencari celah pijakan tanah melewati makam yang terendam. Yadi sudah mencoba jalan yang biasa dia lewati, tetapi gagal karena lumpur terlalu dalam. Ia kembali mencari jalan dan akhirnya menemukan makam istrinya, yakni Leni binti Muslim, yang dimakamkan pada September 2024. Tangannya segera mengusap nisan dan membersihkan nisan yang dipenuhi gumpalan telur siput emas. Dua plastik yang berisi ”kembang tujuh rupa” disebarkan ke makam. ”Bilangnya (warga) tidak banjir, saya percaya saja. Ternyata banjirnya dalam, merendam makam istri saya,” kata Yadi.
Anak dan mertua Yadi hanya melihat dari jarak 50 meter di sekitar motor yang diparkir. Terlalu riskan untuk mencapainya karena jalan licin dan airnya dalam serta berlumpur.
Angin berembus pelan. Kembang yang disebar di makam lalu terbawa air.
Tak jauh di blok yang berbeda, tampak sebuah truk penuh muatan tanah merah. Dua pekerja menurunkan tanah untuk menguruk makam yang terendam. Meninggikan makam 1 meter memakan biaya total Rp 2,5 juta, termasuk semen dan tenaga kerja.
Curah hujan yang tinggi hingga Kamis (19/2/2026) masih menggenangi enam blok permakaman dengan ketinggian 10-50 sentimeter dan mengakibatkan sekitar 2.400 makam terendam air. TPU tersebut menjadi ”langganan” banjir saat curah hujan tinggi karena berada di dataran yang lebih rendah daripada aliran sungai.
Alih fungsi lahan di sekitar area permakaman berupa perumahan dan pergudangan mempercepat penurunan muka tanah. TPU tersebut menjadi langganan banjir saat curah hujan tinggi sejak tahun 2018. Lokasi TPU Semper diapit dua aliran sungai, yakni Kali Begok dan Cakung Drain. Penyempitan kali di sekitarnya menjadi penyebab air hujan terjebak di makam tersebut.





