Financial Freedom: Realita atau Ilusi Generasi Muda?

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Istilah financial freedom semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Di media sosial, konsep ini sering digambarkan sebagai kondisi ideal: tidak lagi bekerja karena kebutuhan, memiliki aset yang menghasilkan pendapatan pasif, dan bebas menentukan gaya hidup tanpa tekanan finansial.

Banyak konten menyarankan bahwa kebebasan finansial bisa dicapai sebelum usia 30, bahkan 25, asalkan disiplin berinvestasi dan memiliki lebih dari satu sumber penghasilan.

Namun, di balik narasi optimistis tersebut, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: Apakah 'financial freedom' benar-benar realistis bagi sebagian besar generasi muda, atau ia telah berubah menjadi ilusi yang dibentuk oleh tekanan sosial dan ekspektasi digital?

Antara Konsep dan Realitas

Secara teoritis, 'financial freedom' berarti kondisi ketika pendapatan pasif dari aset—seperti investasi, bisnis, atau properti—mampu menutupi seluruh kebutuhan hidup. Dalam literatur keuangan pribadi, ini bukan konsep yang mustahil. Dengan perencanaan, disiplin menabung dan investasi jangka panjang, seseorang memang dapat mencapai kemandirian finansial.

Namun, konteks ekonomi tidak bisa diabaikan. Harga properti meningkat lebih cepat dibandingkan pertumbuhan upah di banyak kota. Biaya pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan dasar terus naik. Sementara itu, pasar kerja semakin kompetitif dan fleksibel, dengan banyak pekerja muda berada dalam kontrak jangka pendek atau sistem gig economy yang tidak selalu stabil.

Dalam situasi seperti ini, menargetkan kebebasan finansial dalam waktu singkat bisa menjadi tekanan tambahan, bukan solusi.

Hustle Culture dan Romantisasi Produktivitas

Fenomena hustle culture turut memperkuat narasi bahwa bekerja keras tanpa henti adalah kunci utama kebebasan finansial. Memiliki pekerjaan tetap dianggap belum cukup; seseorang didorong untuk memiliki side hustle, berinvestasi agresif, membangun personal branding, dan terus meningkatkan penghasilan.

Di satu sisi, semangat produktif ini bisa positif. Ia mendorong literasi keuangan dan kesadaran untuk tidak sepenuhnya bergantung pada satu sumber pendapatan. Namun, di sisi lain, muncul romantisasi kelelahan. Istirahat dianggap kemunduran, sementara kerja berlebihan dipuji sebagai dedikasi.

Dalam ekonomi, setiap pilihan memiliki opportunity cost. Waktu yang digunakan untuk mengejar tambahan penghasilan adalah waktu yang tidak digunakan untuk kesehatan, relasi sosial, atau pengembangan diri non-ekonomis. Jika kebebasan finansial dicapai dengan mengorbankan kualitas hidup saat ini, pertanyaannya menjadi: Kebebasan seperti apa yang sebenarnya sedang dikejar?

FOMO Investasi dan Risiko yang Diremehkan

Generasi muda saat ini memiliki akses informasi finansial yang jauh lebih luas dibanding generasi sebelumnya. Investasi saham, reksa dana, hingga aset kripto dapat dilakukan hanya melalui ponsel. Namun, kemudahan akses ini juga memicu fenomena fear of missing out (FOMO).

Ketika melihat orang lain memamerkan keuntungan investasi, muncul dorongan untuk ikut terlibat tanpa pemahaman yang memadai. Risiko sering kali dipandang sebagai bagian kecil dari narasi sukses yang ditampilkan. Padahal, dalam teori ekonomi, semakin tinggi potensi imbal hasil, semakin tinggi pula risiko yang menyertainya.

Jika ekspektasi keuntungan tidak realistis, kekecewaan finansial dapat berdampak pada kondisi psikologis. Alih-alih mendekati kebebasan, sebagian orang justru terjebak dalam siklus spekulasi dan utang.

Ketimpangan Akses dan Titik Awal yang Berbeda

Diskusi tentang 'financial freedom' sering kali mengabaikan fakta bahwa setiap individu memulai dari titik awal yang berbeda. Akses terhadap pendidikan berkualitas, jaringan profesional, modal awal, dan stabilitas keluarga sangat memengaruhi peluang seseorang untuk membangun aset.

Dalam ekonomi pembangunan, ketimpangan struktural menjadi faktor penting dalam menentukan mobilitas sosial. Tidak semua orang memiliki ruang yang sama untuk mengambil risiko atau menunda konsumsi demi investasi jangka panjang. Bagi sebagian orang, prioritas utama masih pada pemenuhan kebutuhan dasar dan membantu keluarga.

Ketika narasi kebebasan finansial disamaratakan, ia berpotensi mengaburkan realitas ketimpangan tersebut.

Mendefinisikan Ulang Kebebasan Finansial

Mungkin persoalannya bukan pada konsep 'financial freedom' itu sendiri, melainkan pada definisinya yang terlalu disederhanakan. Kebebasan finansial tidak selalu berarti pensiun dini atau berhenti bekerja sepenuhnya. Ia bisa dimaknai sebagai kemampuan mengelola keuangan dengan stabil, memiliki dana darurat, terbebas dari utang konsumtif, dan memiliki kendali atas pilihan hidup.

Dalam perspektif yang lebih realistis, kebebasan finansial adalah spektrum, bukan garis akhir yang harus dicapai dalam usia tertentu. Ia merupakan proses jangka panjang yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.

Alih-alih mengejar standar yang dibentuk media sosial, generasi muda dapat memulai dari langkah yang lebih fundamental: meningkatkan literasi keuangan, memahami risiko, mengatur pengeluaran, dan membangun aset secara bertahap.

Financial freedom bukanlah mitos, bukan juga formula instan. Ia menuntut waktu, konsistensi, dan strategi yang rasional. Tantangannya terletak pada bagaimana membedakan antara tujuan yang realistis dan ekspektasi yang dibentuk oleh tekanan sosial.

Pada akhirnya, kebebasan finansial seharusnya memberi ruang untuk hidup lebih tenang dan bermakna, bukan menjadi sumber kecemasan baru. Mungkin yang perlu direvisi bukanlah impiannya, melainkan cara kita memaknainya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Agrinas Impor 105 Ribu Pick up dari India di Tengah Lesunya Industri Otomotif RI
• 1 menit lalukatadata.co.id
thumb
Kesepakatan Dagang RI-AS: Indonesia Akan Beli 50 Pesawat Boeing
• 4 jam lalubisnis.com
thumb
Tradisi Gule Kambing di Masjid Gedhe Kauman, Sajian Berbuka yang Bertahan Puluhan Tahun
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Jadwal Imsakiyah Ramadan 1447 H Kota Semarang 20 sampai 22 Februari 2026
• 22 jam lalugrid.id
thumb
Politikus PDIP Sebut Jokowi Jangan Lepas Tangan dari Proses Revisi UU KPK pada 2019
• 1 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.