Prabowo-Teken Perjanjian Dagang, Ini Rapor Neraca Dagang RI-AS 5 Tahun Terakhir

bisnis.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat (AS) secara resmi menandatangani pakta kerja sama perdagangan Agreement on Reciprocal Trade (ART). 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengonfirmasi bahwa dokumen kesepakatan bertajuk Toward a New Golden Age for the U.S.-Indonesia Alliance tersebut ditandatangani langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump hari ini, pasca-pertemuan bilateral kedua kepala negara di Washington DC pada Kamis (19/2/2026) waktu setempat.

"Perjanjian ini akan berlaku 90 hari setelah proses hukum diselesaikan kedua belah pihak, baik itu di Indonesia dengan konsultasi dengan DPR, maupun di Amerika dengan proses internalnya," jelas Airlangga dalam konferensi pers di Washington DC, Jumat (20/2/2026) waktu Indonesia.

Adapun, kesepakatan ART ini menjadi proses final dari proses negosiasi tarif yang berlangsung antara kedua negara sejak diumumkan oleh Presiden Trump pada 2 April 2025. Salah satu poin kesepakatan yaitu terkait pemberlakuan tarif 0% bagi produk tekstil dan pakaian jadi (apparel) Indonesia di pasar Negeri Paman Sam.

"Khusus untuk produk tekstil dan apparel Indonesia, Amerika akan memberikan tarif 0% dengan mekanisme Tariff Rate Quota atau TRQ. Tentunya ini memberikan manfaat bagi 4 juta pekerja di sektor ini, dan kalau kita hitung dengan keluarga, ini sangat berpengaruh terhadap 20 juta masyarakat Indonesia," kata Airlangga.

Berdasarkan dokumen resmi perjanjian ART, mekanisme fasilitas tarif preferensi untuk sektor padat karya ini didesain secara resiprokal. AS berkomitmen membentuk mekanisme yang memungkinkan produk tekstil dan pakaian jadi dari Indonesia menerima tingkat tarif resiprokal nol.

Baca Juga

  • Momen Bersejarah! Trump-Prabowo Akhirnya Teken Perjanjian Dagang RI-AS
  • Prabowo-Trump Teken Perjanjian Dagang, Gedung Putih: Kesepakatan Besar
  • Airlangga: Perjanjian Dagang RI-AS Berlaku 90 Hari Setelah Ratifikasi di DPR

Kendati mekanisme ini memuat prasyarat kuantitatif, yaitu volume impor tekstil dan pakaian jadi dari Indonesia yang diizinkan masuk ke AS dengan penurunan tarif akan ditentukan berdasarkan rasio kuantitas ekspor bahan baku tekstil dari AS ke Indonesia, seperti kapas atau serat buatan (man-made fiber) produksi AS seperti yang ditekankan pada Article 6.3 dokumen perjanjian ART.

1.819 Pos Tarif 0%

Selain itu, Airlangga mengungkapkan 1.819 pos tarif produk Indonesia yang kini menikmati akses tarif 0% di AS mencakup minyak sawit (CPO), kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, hingga komponen pesawat terbang.

Sebagai timbal balik, pemerintah Indonesia juga memberikan fasilitas pembebasan tarif 0% untuk sejumlah produk agrikultur asal AS. Kendati demikian, Airlangga mengaku bahwa langkah ini justru sejalan dengan kepentingan pengendalian inflasi pangan domestik.

"Masyarakat Indonesia akan membayar 0% untuk barang yang diproduksi dari soybean [kedelai] ataupun wheat [gandum], dalam hal ini noodle [mie] ataupun dalam bentuk tahu dan tempe. Jadi masyarakat kita tidak dikenakan tambahan biaya untuk bahan baku yang kita impor dari Amerika Serikat," tegasnya.

Lebih lanjut, dia mengungkapkan kedua negara sepakat untuk merevitalisasi Council on Trade and Investment untuk menjaga stabilitas neraca perdagangan dan memitigasi risiko lonjakan impor ke depannya.

Menurut mantan menteri perindustrian itu, forum itu akan menjadi dewan ekonomi bilateral untuk menyelesaikan potensi sengketa perdagangan dan anomali arus barang.

Neraca Dagang AS-R1 Tahun Ekspor Impor  Defisit 2021 9,38 27,04 17,66 2022 9,83 34,54 24,71 2023 9,84 26,77 16,92 2024 10,15 28,05 17,89 2015 11,02 34,74 23,71

Sumber: Cencus.gov, dalam miliar US$

Tergantung AS-China

Neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2025 masih sangat tergantung dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Indonesia menikmati surplus dari perdagangan dengan Amerika Serikat (AS), tetapi harus menanggung defisit yang kian dalam dengan China.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, defisit neraca perdagangan nonmigas Indonesia dengan China membengkak hampir dua kali lipat sepanjang Januari—Desember 2025.

Defisit dagang RI dengan Negeri Panda pada 2025 menembus angka US$22,17 miliar. Angka ini melonjak 94,3% apabila dibandingkan dengan defisit pada periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar US$11,41 miliar.

Pembengkakan defisit ini dipicu oleh derasnya arus impor barang dari China yang mencapai US$86,99 miliar, naik tajam dibandingkan realisasi 2024 sebesar US$71,63 miliar. Sementara itu, ekspor RI ke China hanya mampu tumbuh moderat dari US$60,22 miliar menjadi US$64,82 miliar.

Secara neraca perdagangan total, BPS mencatat China (-US$20,50 miliar) memang menjadi negara penyumbang defisit terbesar pada 2025, diikuti Australia (US$5,63%) dan Singapura (-US$5,47 miliar).

Kondisi tersebut kontras justru terjadi pada perdagangan dengan AS. Negeri Paman Sam semakin mengukuhkan posisinya sebagai penyumbang surplus terbesar bagi neraca dagang Indonesia.

Sepanjang 2025, surplus dagang RI dengan AS tercatat menebal menjadi US$21,12 miliar, naik 23,6% dibandingkan capaian surplus 2024 yang sebesar US$17,09 miliar. Perkembangan tersebut ditopang oleh ekspor nonmigas ke AS yang melesat ke level US$30,96 miliar, sedangkan impor dari negara tersebut relatif terjaga di angka US$9,84 miliar.

Data BPS menunjukkan AS (US$18,11 miliar) memang menjadi negara dengan penyumbang neraca perdagangan total terbesar RI pada 2025, diikuti India (US$13,49 miliar) dan Filipina (US$8,42 miliar).

Akses Penuh ke Pasar Indonesia 

Adapun pemerintah AS menyambut baik kesepakatan dagang dengan Indonesia. Mereka menyebut secara khusus penandatanganan perjanjian dagang timbal balik itu sebagai sebuah kesepakatan besar bagi AS. 

Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer mengatakan bahwa kesepakatan tersebut akan memperluas akses pasar Amerika ke negara terpadat keempat di dunia sekaligus menghilangkan hambatan tarif pada lebih dari 99% produk AS yang diekspor ke Indonesia di semua sektor.

“Presiden Trump membuka pasar Indonesia yang berpenduduk lebih dari 280 juta orang untuk menciptakan peluang komersial yang berarti bagi petani dan produsen Amerika,” kata Greer.

Greer secara spesifik juga menekankan bahwa kesepakatan dengan Indonesia akan memajukan kepentingan ekonomi dan keamanan rakyat Amerika.

“Saya senang menandatangani perjanjian bersejarah ini dengan Indonesia dan saya berterima kasih kepada Menteri Indonesia Airlangga Hartarto atas komitmennya untuk menyeimbangkan kembali hubungan perdagangan kita. Saya berharap dapat berkoordinasi dan terlibat secara erat dengan Indonesia dalam implementasi komitmen berstandar tinggi ini.”


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ray Rangkuti: Sjafrie Sjamsoeddin Tambah Daftar Capres Individu di Pilpres 2029
• 19 jam lalujpnn.com
thumb
Aceh Tamiang laporkan 98 persen UMKM mulai aktif pascabencana banjir
• 15 jam laluantaranews.com
thumb
Freeport Tambah Investasi Rp337 Triliun Usai Izin Tambang Diperpanjang RI hingga 2061
• 1 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Dipecat, Eks Kapolres Bima Kota Terbukti Langgar 7 Pasal
• 10 jam lalukompas.com
thumb
Bos Pan Brother (PBRX) Buka Suara Soal MoU dengan Perusahaan AS Ravel
• 22 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.