Bisnis.com, JAKARTA – Keputusan Bank Indonesia menahan suku bunga acuan atau BI Rate di 4,75% menjadi penopang sentimen pasar sekaligus menjaga prospek pertumbuhan reksa dana pendapatan tetap solid pada 2026.
Direktur dan Chief Investment Officer Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia Ezra Nazula menilai permintaan pasar terhadap reksa dana pendapatan tetap masih tetap kuat. Menurutnya dengan kondisi turunnya suku bunga deposito perbankan berpotensi mendorong minat investor terhadap reksa dana pendapatan tetap untuk mencari potensi yield lebih menarik.
Meski saat ini suku bunga masih bertahan di level 4,75%, peluang pelonggaran ke-depan masih terbuka.
“Kami melihat masih ada ruang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga tahun ini, menjadi potensi katalis lanjutan bagi pasar obligasi dan reksa dana pendapatan tetap,” ujarnya, Jumat (20/2/2026).
Ezra menyebut, dengan mengacu pada data Januari 2026, kinerja dan dana kelolaan Reksa Dana Pendapatan Tetap Manulife terpantau tetap terjaga. Secara historis, kinerjanya memang fluktuatif dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang mampu mengungguli tolok ukur masing-masing.
Sejauh ini dia juga memandang sentimen penurunan outlook oleh lembaga pemeringkat internasional seperti Moody’s lebih sebagai pelemahan sentimen sementara, bukan sinyal krisis fundamental. Manajer investasi menilai pasar obligasi domestik masih resilien dan tidak menunjukkan gejala panic selling.
“Penurunan outlook Moody’s ini lebih berarah ke pelemahan sentimen yang biasanya hanya bersifat temporer selama tindakan korektif dijalankan dalam waktu yang dekat,” terangnya.
Dia melanjutkan kekuatan utama pasar SBN Indonesia saat ini terletak pada dominasi investor domestik. Sekitar 86% kepemilikan SBN berada di tangan investor dalam negeri, sehingga volatilitas akibat sentimen eksternal relatif lebih terkendali.
Pengalaman pada 2020 sebelumnya juga menjadi referensi. Saat itu, Indonesia sempat mengalami penurunan outlook dari S&P Global Ratings dari stable menjadi negatif. Namun rating tetap bertahan di level BBB, bahkan outlook kembali direvisi menjadi stable pada 2022.
Meski prospek jangka panjang dinilai positif, manajer investasi mengakui pasar masih tentatif dalam jangka pendek sambil menanti respons kebijakan pemerintah.
Sejauh ini, Manulife menyesuaikan strategi portofolio defensif dengan mengurangi alokasi pada obligasi tenor panjang dan menaikkan porsi cash di portofolio sampai imbal hasil mencapai level equilibrium baru yang dapat menjadi level masuk yang menarik.
Mengacu pada data Otoritas Jasa Keuangan atau OJK, dana kelolaan industri reksa dana mencapai Rp706,37 miliar per Januari 2026 atau tumbuh 3,99% dibandingkan dengan bulan sebelumnya yak mencapai Rp679,24 miliar. Dana kelolaan terbesar pada Januari 2026 masih dicatatkan oleh reksa dana pendapatan tetap senilai Rp706,37 miliar.





