Penulis: Nirmala Hanifah
TVRINews, Washington DC
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko) Airlangga Hartarto menuturkan bahwa kerja sama perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat dalam bentuk Agreement on Reciprocal Trade (ART) membuka peluang besar bagi sektor tekstil Tanah Air. Di mana, kesepakatan ini akan memberikan manfaat langsung bagi pekerja industri tekstil di Indonesia.
Melalui perjanjian ini, lanjutnya AS menyetujui penerapan tarif impor nol persen untuk produk tekstil dan pakaian jadi asal Indonesia.
Nantinya, mekanisme teknisnya akan diatur melalui sistem tariff-rate quota (TRQ), yang memastikan produk Indonesia dapat bersaing lebih kuat di pasar AS.
“Keputusan ini akan berdampak positif bagi sekitar 4 juta pekerja di sektor tekstil. Jika dihitung bersama keluarga, kebijakan ini menyentuh lebih dari 20 juta masyarakat Indonesia,” kata Airlangga pada Jumat, 20 Februari 206.
Menurut Airlangga, pasar AS menawarkan peluang ekspansi yang besar karena ukurannya sekitar 28 kali lipat dibanding pasar domestik Indonesia.
“Dengan adanya pembebasan tarif, kapasitas produksi diprediksi meningkat dan penyerapan tenaga kerja tetap terjaga,” ungkanya
Dalam jangka panjang, langkah ini diharapkan mampu mendorong peningkatan nilai ekspor produk tekstil dan pakaian jadi hingga sepuluh kali lipat dalam satu dekade ke depan.
Airlangga menargetkan ekspor industri tekstil tumbuh dari sekitar USD 4 miliar menjadi USD 40 miliar dalam 10 tahun.
Kesepakatan ini merupakan hasil negosiasi intensif sejak pengumuman kebijakan tarif resiprokal AS pada April 2025.
Diinformasikan, awalnya Indonesia dikenakan tarif impor sebesar 32 persen. Setelah beberapa kali perundingan, tarif disepakati menjadi 19 persen sebagai dasar.
Namun, Indonesia berhasil mengamankan tarif 0–10 persen untuk beberapa produk tertentu melalui ART.
Editor: Redaktur TVRINews





