Ibu Menyusui Tetap Puasa Ramadan? Ini Cara Ampuh Jaga Produksi ASI Tetap Lancar dan Bayi Aman

grid.id
3 jam lalu
Cover Berita

Grid.ID - Menjalani puasa Ramadan 2026 menjadi tantangan tersendiri bagi ibu menyusui karena harus tetap menjaga asupan nutrisi dan cairan. Produksi ASI yang optimal tetap menjadi prioritas agar kebutuhan bayi tidak terganggu selama ibu berpuasa.

Ibu menyusui tetap bisa berpuasa dengan catatan kondisi tubuh terpantau baik. Salah satu strategi yang dianjurkan adalah memompa ASI secara rutin untuk menjaga kelancaran produksinya.

Bidan dan doula pendiri Bumilpamil, Jamilatus Sa’diyah, membagikan panduan waktu ideal memompa ASI selama Ramadan. Ia menjelaskan ada beberapa waktu yang dinilai efektif untuk menjaga produksi tetap stabil.

“Waktu yang sering terasa optimal adalah setelah sahur, siang hari, menjelang berbuka, dan malam hari sebelum tidur,” kata Jamilatus Sa’diyah yang dikutip Kompas.com, (19/2/2026).

Ia menyarankan pemompaan dilakukan setiap 2–3 jam sekali atau sekitar 8–12 kali dalam sehari untuk bayi usia kecil. Frekuensi tersebut membantu payudara tetap terstimulasi sehingga produksi ASI tidak menurun.

Jamila juga menekankan pentingnya penggunaan corong pompa yang sesuai ukuran payudara. Teknik yang tepat dapat membantu proses pengeluaran ASI menjadi lebih maksimal.

“Terapkan juga teknik kompresi payudara dalam memompa ASI, yakni dengan meremas payudara secara lembut untuk merangsang refleks pengeluaran ASI,” tambah Jamila.

Selain teknik memompa, asupan cairan menjadi faktor krusial yang memengaruhi jumlah ASI. Ibu menyusui perlu memastikan kebutuhan cairan tercukupi saat sahur dan berbuka.

“Maka dari itu penting untuk memastikan kebutuhan cairan ibu terpenuhi dengan segera minum saat berbuka dan sahur,” kata Jamila.

Menyebut nutrisi seimbang tak kalah penting selama puasa. Asupan protein, serat, serta vitamin dan mineral harus diperhatikan saat sahur dan berbuka.

Istirahat cukup juga menjadi faktor penting yang tidak boleh diabaikan oleh ibu menyusui. Tidur minimal tujuh jam per malam membantu tubuh memulihkan energi dan menjaga kestabilan hormon.

 

“Penurunan berat badan drastis atau mengalami tanda-tanda hipoglikemia juga harus segera membatalkan puasa,” tutup Jamila.

Ibu menyusui juga dianjurkan tetap memperhatikan tanda dehidrasi seperti urine pekat, pusing, dan tubuh lemas. Jika kondisi tersebut muncul, konsultasi dengan tenaga kesehatan sangat disarankan.

Jamila menegaskan bahwa keselamatan ibu dan bayi harus menjadi prioritas utama selama Ramadhan. Prinsip kesehatan ibu dan anak tetap harus dikedepankan dibanding memaksakan diri berpuasa.(*)

 

Artikel Asli


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
RI-AS Sepakati Komitmen Kerja Sama Rp649,42 Triliun, dari Agro hingga Manufaktur
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Tarif Nol Persen Kedelai dan Gandum AS, Airlangga Pastikan Tak Picu Inflasi
• 1 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
3,26 Juta Wajib Pajak Sudah Lapor SPT Tahunan 2025
• 7 jam laluidxchannel.com
thumb
Ngabuburit Warga Bandung, Lengkong Night Street Food Jadi Jujugan Favorit Buka Puasa Ramadan 2026
• 4 jam lalukompas.tv
thumb
Harga Emas Antam, UBS dan Galeri 24 di Pegadaian Hari Ini, Jumat 20 Februari 2026
• 9 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.