Perum Bulog merespons adanya keluhan dari pedagang yang mengaku kesulitan mendapat stok MinyaKita. Hal ini merupakan temuan dari inspeksi dadakan (sidak) Bulog di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur.
Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menilai kesulitan stok disebabkan karena pembagian MinyaKita harus merata. Jika ada pedagang yang kesulitan stok, Rizal menduga pedagang tersebut memang menginginkan stok yang lebih banyak.
“Jadi minyak kita ini kan minyak subsidi. Jadi minyak subsidi, jadi pembagiannya harus rata. Jadi kalau mungkin yang tadi dibilang kesulitan, dia maunya ngambil banyak, nanti takutnya teman yang toko yang sebagian nggak kebagian,” kata Rizal di Pasar Jatinegara pada Jumat (20/2).
“Jadi harus dibagi rata, harus dibagi rata ke masing-masing toko. Jadi nggak mungkin dipenuhi satu toko sendiri penuhin minyaknya demikian,” lanjutnya.
Nantinya, jelang lebaran, Bulog juga akan menambah stok MinyaKita untuk disalurkan mencapai 70.000 kiloliter. Angka ini berada di atas stok rata-rata pada musim biasa yakni pada 30.000 kiloliter per bulan.
“Direncanakan khusus menjelang lebaran ini, kami stokkan sampai 70.000 kiloliter. Tujuannya apa? Untuk mengantisipasi masyarakat yang akan menghadapi Ramadan dan khususnya lebaran di tahun 2026 ini,” ujarnya.
Adapun saat ini, MinyaKita akan didistribusikan langsung oleh Bulog dan BUMN pangan lainnya kepada pengecer. Hal ini karena Bulog, ID Food dan Agrinas Palma sudah mendapat Domestic Market Obligation (DMO) sebesar 35 persen dari total nasional MinyaKita oleh produsen.
“Jadi, tidak ada lagi nanti pendistribusian melalui distributor. Tapi, dari Bulog, dari ID Food, dan Agrinas Palma langsung ke pengecer-pengecer pasar, khususnya di pasar-pasar SP2KP,” ujar Rizal.
Saat ini, harga MinyaKita dari Bulog adalah Rp 14.500 per liternya. Dengan harga itu, Rizal yakin para pengecer masih bisa meraih keuntungan yang cukup.
“Jadi, harapannya masih ada spare angka Rp 1.200, saya kira cukup untuk keuntungan para pengecer di lapangan dengan harga Rp 15.700 per liter (dari pengecer ke masyarakat),” kata Rizal.
Terkait proses penyaluran langsung MinyaKita oleh Bulog ke pengecer, Rizal menjelaskan proses itu sudah dimulai per 1 Januari 2026 lalu.




