Jakarta, VIVA – Perkembangan terbaru mencuat dalam perkara dugaan akses ilegal rekaman CCTV di kediaman Inara Rusli. Laporan yang sebelumnya diajukan ke Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri pada November 2025 itu kini memasuki fase lanjutan setelah muncul sejumlah fakta baru dari hasil pemeriksaan saksi.
Salah satu nama yang ikut terseret dalam pusaran kasus ini adalah seorang perempuan berinisial S, yang diketahui merupakan istri dari mantan sopir Inara. Scroll lebih lanjut yuk!
S diperiksa penyidik pada Rabu, 18 Februari 2026. Dari pemeriksaan tersebut, terungkap bahwa S tidak hanya mengetahui persoalan teknis terkait CCTV, melainkan juga menjadi pihak yang pertama kali menyampaikan dugaan kedekatan khusus antara Inara dan Insanul Fahmi kepada Wardatina Mawa.
Kuasa hukum S, Sukardi, membeberkan garis besar materi pemeriksaan kliennya.
"Pada intinya bagaimana peran dan keterkaitan dari istri saksi A atau sopir ini berkaitan dengan rekaman CCTV. Kira-kira seperti itu," ucap Sukardi, kuasa hukum S, di Bareskrim Mabes Polri.
Dalam keterangannya, percakapan di sebuah grup internal karyawan disebut menjadi awal mula berkembangnya isu tersebut.
Grup yang beranggotakan para pekerja rumah tangga dan asisten pribadi itu, menurut penjelasan kuasa hukum, lebih sering diisi obrolan santai di luar urusan pekerjaan.
Kedatangan Insanul Fahmi yang disebut beberapa kali mengunjungi rumah Inara disebut memicu pembicaraan di antara para karyawan. Intensitas kunjungan itu bahkan membuat sebagian pekerja merasa kurang nyaman.
"IF itu sudah sekitar lima kali datang ke rumah IR sehingga antara pekerja-pekerja itu merasa risih. Sampailah kepada kesimpulan bahwa tindakan ini tidak patut," sambungnya.
Lebih lanjut, Sukardi mengungkapkan bahwa kliennya berinisiatif mencari kejelasan status pernikahan Insanul Fahmi sebelum isu tersebut semakin meluas.
"Peran istri si A ini penghubung pertama yang memberikan informasi, menanyakan terlebih dahulu apakah IF ini terikat pernikahan pernikahan dengan M. Karena masih, akhirnya disampaikanlah hal tersebut," lanjutnya.
Ia juga menegaskan bahwa isi percakapan dalam grup tersebut sebatas obrolan tidak resmi.
"Obrolan di grup itu hanya berisikan gosip saja atau gibah terkait hubungan khusus antara IR dan IF. Jadi pada dasarnya semua ini antara asisten pribadi dan semua satu paham tindakan IR dan IF ini tidak patut," ungkapnya.




